Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Iwanpiliang

Aktifitas Sosial : Citizen Reporter, Bisnis: Rumah Makan Padang, Eksportir Furniture Heritage, meja dari kayu selengkapnya

Opini: Umroh Tinggi Aborsi Tinggi

OPINI | 08 April 2013 | 16:04 Dibaca: 2917   Komentar: 66   18

Minggu kemarin saya menyimak siaran dakwah Islam di TVONE. Ustad menyampaikan 7.000 orang dari Indonesia sehari berangkat Umroh. Sebuah angka Umroh tertinggi di dunia. Saya tercenung membayangkan angka itu. Luar biasa. Agamis sekali. Islami betul.

Tiga hari ini saya bermimpi bertemu dengan Aku Alessia, gugur lima bulan dari kandungan ibunya, karena sakit. Dari paparan Aku, banyak sekali anak-anak Indonesia dipaksa keluar dari rahim ibu. Jumlahnya ternyata sama dengan jumlah orang Umroh dari negeri yang berumroh 7.000 sehari ini. Maka dari tiga tulisan siap saya tuntaskan, tangan bergerak menaikkan ini.

Penasaran akan cerita Aku, pagi ini saya mencoba mencari di google berita berkait ke aborsi. Di luar dugaan saya, pada 2012 aborsi mencapai 2,5 juta orang. Pelakunya mulai perempuan usia remaja hingga dewasa. Hal itu dipaparkan oleh Wakil Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialias Andrologi Indonesia (Persandi), WimpiePanghila, di Semarang, 12 April 212 di sela acara Life Extension Strategies and Recent Reproductive Healt Issues di Hotel Patra.

Di perkotaan melakukan aborsi ditangani dokter, di pedesaan diaborsi dukun. Nah angka 2,5 juta itu, jika dibagi rata 365 hari maka mendekati 6.900. Tidak berlebihan setehun setelah Wimpie memaparkan makalahnya, saya menyebutkan hari ini: Umroh dan Aborsi angkanya sama di 7.000 di negeri ini.

Bila tahun lalu angka itu sudah tertinggi di Asia, maka kuat dugaan saya 7.000 itu menjadi tertinggi di dunia.

Paparan Wikmpie tahun lalu; tingginya kasus aborsi ini karena semakin terbukanya perilakukan pacaran, peran keluarga longgar dalam melakukan pengawasan terhadap anak-anaknya, mendorong melakukan hubungan seks pranikah. Kini dianggap bukan lagi sesuatu perbuatan menyimpang, sehingga kalau ada kesepakatan antara si pria dan wanita maka terjadilah hubungan badan. Bila hubungan seks pranikah tersebut kemudian mengakibatkan kehamilan bagi si wanita, mereka menempuh jalan pintas: aborsi.

Wimpie, juga Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia, mengatakan data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKN) tercatat 30% mereka yang berpacaran telah melakukan hubungan pranikah. Namun dari pengamatannya di lapangan angkanya mencapai 50%.

Dan betapa memilukan hati bila saya mendengar cerita Aku Alesia. Ia bertutur ada temannya Ajeng. Katanya, Ajeng lebih tua, 6 bulan di kandungan. Oleh ayahnya diminta dikeluarkan sang ibu. Saya bertanya bagaiman proses mengeluarkannya? Kata Aku, dilakukan orang berpakaian putih. Ia dikeluarkan pakai besi. Badan Ajeng rusak. Bahkan dua bola matanya keluar. “Ajeng menangis air mata darah,” ujar Aku.

Ini untuk kedua kalinya saya menyimak soal air mata darah. Pertama ketika sosok Ibu Ziad, yang menangis air mata darah, membuat saya tergerak berangkat ke Abu Dhabi, 2010, walaupun negara tak mampu memulangkan anak sang Ibu, saya berusaha ke sana dan akhirnya membawa pulang Ziad, 33 hari kemudian. Tulisan ihwal ini sudah ada di blog, online, awal 2010. Nah kini yang kedua kali. Kendati hanya mimpi, tetapi mimpi yang berulang dalam 3 hari ihwal cerita Aku, tentulah sangat sesuatu.

Aku bertutur lagi soal, temannya baru lahir bernama Ilham, dibuang di tempat sampah di Bekasi. Ilham mengatakan kepada Aku, ia ditarok di tempat sangat bau, tidak ada yang beri makan, panas, hujan, badannya lalu membusuk bersama sampah sangat sangat bau. Ruhnya diambil Allah. Ilham kini di surga.

Ada lagi Laras. Ia dipaksa keluar dari Rahim ibunya. Ceritanya tak kalah memilukan. Tak kuasa saya menuliskan. Dari tempat-tempat pembuangan para bayi suci itu, salah satunya closed di kamar mandi.

Lama saya tercenung.

Apakah ini berkait ke yang saya sebutkan sebagai memuliankan keinsanan. Dan atau juga doa pernah saya panjatkan di bundaran HI di hadapan Jokowi, kini Gubernur DKI di saat usai mendaftar dari KPUD DKI: Jadikan pemimpin yang memuliakan keinsanan, menempatkan intangible asset di atas kebendaan?

Saya tak paham.

Mana lebih dahsyat mudaratnya, korupsi laku mengikir belulang rakyat terus terjadi, dan perilaku membunuh jasad bayi di kandungan, belum dan atau baru lahir ke dunia?

Yang pasti kini bangsa ini membutuhkan pemimpin, pengelalola negara memuliakan kinsanan. Bukan semata bangga transaski bursa saham tinggi, ekonomi tumbuh tinggi. Sisi-sisi keinsanan terjun bebas tak berkira?

Iwan Piliang, Citizen Reporter

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melukis Malam di Bawah Lansekap Cakrawala …

Dhanang Dhave | | 21 October 2014 | 13:50

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | | 21 October 2014 | 11:59

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | | 21 October 2014 | 10:02

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 5 jam lalu

Film Lucy Sebaiknya Dilarang! …

Ahmad Imam Satriya | 8 jam lalu

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 9 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 11 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Saat Angin Kencang, Ini Teknik Menyetir …

Sultan As-sidiq | 7 jam lalu

Golkar Jeli Memilih Komisi di DPR …

Hendra Budiman | 8 jam lalu

Rekor MURI Jokowi …

Agus Oloan | 8 jam lalu

Cerpenku: Perempuan Berkerudung Jingga …

Dewi Sumardi | 8 jam lalu

Kecurangan Pihak Bank dan Airline Dalam …

Octavia Eka | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: