Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ulul Rosyad

Menyukai hal yang berbau misteri dan tempat bersejarah. http//www.akarasa.com

Inilah Alasan Wanita yang Mau di Poligami!

OPINI | 08 April 2013 | 16:33 Dibaca: 2836   Komentar: 13   1

Poligami. Sebuah istilah yang tentu sangat tidak asing ditelinga kita, terlebih dalam infotainment di stasiun televisi belakangan ini yang memberitakan perseteruan sosok Eyang Subur dan artis Adi Bing Slamet, yang dalam pemberitaan tersebut mengatakan sosok Eyang Subur tersebut beristri 8 orang, luar biasa!

Poligami memang diperbolehkan dalam Islam. Namun, kelegalitsannya terus menjadi perbincangan ketika praktek poligami yang terjadi sering menimbulkan kedzaliman, ketidakseimbangan dan disharmonisasi dalam rumahtangga.

Pada ranah yang rawan menimbulkan konflik ini, sebetulnya kearifan dari perempuan yang akan dimadu juga menjadi penentu harmonis atau tidaknya rumahtangga poligami. Walau pada kenyataannya, perempuan, saat akan memutuskan diri untuk poligami, nyaris jarang memikirkan atau menimbang kondisi madu dan anak-anaknya.

Istri kedua, acapkali lolos dari pengamatan masyarakat umum. Bila kita sudah memasuki perbincangan poligami, yang kita sorot biasanya hanya pelaku poligami dan si istri pertama. Padahal lolosnya pengamatan kita ini menjadi kurang seimbangnya persoalan poligami itu sendiri diejawantahkan, baik dalam ruang lingkup wacana maupun prakteknya.

Mayoritas perempuan mau menerima tawaran dimadu tanpa pertimbangan matang. Tak peduli. Kadang dirinya sudah merasa tenang melihat calon suami yang akan menikahinya bertanggungjawab. Gambaran istri pertama yang nrimo dan ikhlas, cukuplah menjadi persoalan sang calon suami.

Semestinya, begitu seorang perempuan siap menerima pinangan suami orang, harusnya iapun siap menyelami perasaan dan kondisi yang dirasakan calon madunya. Ini paling tidak, agar bisa terjadi harmonisasi, kendati bersifat nisbi.

Akan tetapi jika diselami lebih dalam lagi, apa yang menyebabkan perempuan mau di poligami? Sedikitnya, ada beberapa faktor berikut yang menjadikan mereka mau dimadu:

Yang pertama dan paling dominan adalah masalah materi dan bisa juga popularitas. Di perkotaan, alasan materi dan popularitas menjadi hal mendasar kenapa seorang perempuan mau dimadu. Dan masalah konsekuensi menjadi nomor kesekian.

Dalam beberapa tayangang infotainment televisi misalnya, di kalangan artis banyak yang menyembunyikan status sosialnya lantaran menjadi istri kedua. Dan tentu saja pernikahan tersebut dilakukan secara sirri (rahasia). Dan semua itu terungkap di media setelah mereka terjadi perceraian diantara mereka.

Yang kedua adalah poligami dilakukan untuk menaikan status. Perempuan yang dinikahi seorang kyai akan naik statusnya menjadi nyai. Demikian juga bila dinikahi seorang dokter, akan disebut istri/ibu dokter, dinikahi jendral akan dipanggil istri/ibu jendral, begitu seterusnya. Semakin tinggi status suami, akan semakin tinggi pula status yang akan disandang istrinya.

Dalam urutan ketiga alasan p[erempuan mau dimadu adalah masalah ketertarikan fisik/seks. Urusan seks bagi perempuan dipandang lebih penting dan lebih berharga dari pada harta benda, betapapun besarnya.

Selanjutnya aatau alasan keempat adalah cinta. Seperti sebuah ungkapan love is Blind rupa-rupanya berlaku bagi siapa saja. Tak hanya pada pasangan dalam naungan poligami. Sama-sama cinta, sama-sama suka, menjadikan seseorang berani melakukan apa saja, termasuk juga menerima pinangan seorang lelaki beristeri.

Alasann kelima adalah agama. Dalam tataran ini ketaatan agama seseorang juga bisa jadi alasan perempuan mau dimadu. Sebaimana yang dilakukan janda para sahabat yang mau menerima pinangan Nabi saw. Dan tentu saja faktor ini merupakan pilihan paling aman diantara lainnya. Doktrin agama disebut-sebut sebagai faktor dominan memngapa perempuan mau di poligami. Anggapan masyarakat yang menyatakan lebih baik menjadi istri kedua dan seterusnya daripada menjanda atau menjadi perawan tua mengokohkan praktek poligami.

Namun, terlepas dari faktor apapun yang menyebabkan seorang wanita mau menjadi istri kedua, ketiga, atau kedelapan sekalipun, yang terpenting untuk dilakukan adalah bagaimana seorang madu mampu membangun hubungan yang baik dengan keluarga suaminya, baik istri-istri suaminya yang lebih dulu maupun anak-anaknya. Dan tentu saja dalam hal ini akan membutuhkan penguasaan hati yang luar biasa….matur nuwun

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 9 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 9 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 9 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: