Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ilwadi Perkasa

Kesalahan yang dikabarkan berulang-ulang suatu saat akan menjadi kebenaran.

Preman

REP | 08 April 2013 | 05:48 Dibaca: 209   Komentar: 0   0

PREMAN

Apa sih yang kau tahu tentang preman? Tukang malak, bikin onar, tak segan membunuh orang lain? Itu pengertian baheula, Jenderal! Preman dalam arti kekinian termasuk oknum pejabat, menteri, gubernur, bupati, walikota, kepala dinas yang merampok uang negara dengan cara halus. Kalau preman mau dibinasakan, apakah mereka juga harus dimampuskan?

Peristiwa pembantaian tahahan di LP Cebongan, Sleman, ternyata bukan hanya menampar muka dan mempermalukan TNI. Peristiwa itu sekaligus melambungkan fenomena preman yang dalam konteks peristiwa itu dikesankan sebagai biang keladi hingga menyulut emosi prajurit.

Bagi kebanyakan orang, preman adalah individu atau kelompok yang menjijikkan. Karena preman identik dengan pemabuk, tukang palak, punya tato tengkorak, suka berkelahi, dan tukang bikin onar. Keberadaan preman juga kerap menakutkan, bahkan karena saking takutnya, sebagian orang rela bernegoisasi agar preman menjadi jinak. Karena statusnya yang menjijikkan dan menakutkan, preman kerap juga menjadi kelompok yang diandalkan, direkrut untuk tujuan-tujuan tertentu (simbiosis mutualisme) oleh ‘bapak preman’yang berada di ruang-ruang kekuasaan.

Kata preman sebenarnya bukan asli Bahasa Indonesia. Dari sejumlah referensi, kata preman dipengaruhi dari Bahasa Inggris, yaitu gabungan dua kata free dan man. Di Inggris sendiri, preman bermakna orang yang diberikan kebebasan oleh suatu kota tertentu sebagai sebuah penghargaan atas pekerjaan atau jasa yang telah mereka lakukan. Arti lainnya, preman adalah orang yang bukan budak alias merdeka. Bahkan di Inggris sana, preman yang dimaksud adalah orang yang telah melakukan sesuatu yang positif. Bisa berupa dedikasi kerja atau jasa pada suatu kota sehingga ia diberikan kebebasan sebagai sebuah penghargaan (award).

Istilah preman juga berasal dari kata Bahasa Belanda vrijman yang artinya orang bebas atau merdeka. Orang-orang seperti ini tidak mau bekerja sama dengan Belanda, seperti para pejuang Indonesia yang kerap kali membangkang terhadap pemerintahan kolonial.

Istilah preman di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dengan istilah yang terus berganti. Pada masa Hindia Belanda istilah yang umum digunakan adalah jago. Istilah yang mengacu pada ayam jantan (jago) ini tidak hanya melambangkan kejantanan atau maskulinitas, kemampuan berkelahi tapi juga mengacu pada orang yang kuat. Walaupun pemerintah kolonial menganggap jago sebagai biang kerok dari ketidakamanan wilayahnya, namun bagi kaum jelata dan tertindas pada saat itu para jago sebenarnya memiliki akhlak luhur dan tidak semena-mena.

Lambat laun ada pula oknum jago sesat yang lebih mementingkan nafsu dan materi belaka. Para jago sesat itulah yang menjadi incaran para tuan tanah pemilih lahan partikulir untuk dirangkul dan menjadikan para jago tersebut tukang pukul mereka. Tugas lainnya adalah mereka memunguti pajak dari rakyat. Sementara pemerintah kolonial tak ambil peduli bahkan pemerintah memanfaatkan para jago itu sebagai informan mencari biang rusuh masyarakat. Justru para jago sejati yang gerah terhadap sikap pemerintah kolonial dianggap mengganggu keamanan dan ketertiban.

Dewasa ini premanisme telah memainkan peran tertingginya. Mereka sudah menjelma dalam kelompok organisasi massa yang kerap memamerkan aksi kekerasan atau menyerang kelompok lain yang berseberangan, sesuai order tentunya. Dan melihat fenomena akhir-akhir ini, kehadiran preman bukan semata sampah masyarakat yang harus diberantas, akan tetapi juga sebagai sarana yang efektif untuk pengalih perhatian dan kanalisasi tumbal kesalahan.

Preman masa kini tidak melulu ada di petak-petak pasar, gang sempit dan gelap. Tidak juga harus bertato dan menyelipkan belati atau golok di pinggang, memiliki wajah seram dan kumal atau suka berkata kotor. Preman masa kini yang paling kejam dan berbahaya justru berada di kantor-kantor pemerintah, berseragam gagah, dan bisa jadi masuk dalam daftar calon anggota legislatif kita.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kurikulum 2013: Buku, Seminggu Dibagikan …

Khoeri Abdul Muid | | 20 August 2014 | 17:25

Hati-hati, Cara Mengutip Seperti Ini Pun …

Nararya | | 20 August 2014 | 20:09

Anak Sering Kencing (Bukan Anyang-anyangan) …

Ariyani Na | | 20 August 2014 | 18:03

Obat Benjut Ajaib Bernama Beras Kencur …

Gaganawati | | 20 August 2014 | 14:45

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Dapur Umum di Benak Saya …

Itno Itoyo | 10 jam lalu

Bonsai MK dan KPU, Berharap Rakyat Cueki …

Sa3oaji | 11 jam lalu

Menunggu Aksi Kenegarawanan Hatta Rajasa …

Giens | 12 jam lalu

Inilah Nama-nama Anggota Paskibraka 2014 …

Veronika Nainggolan | 16 jam lalu

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: