Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ukay

one of student in south jakarta

Guru Spiritual (2)

OPINI | 08 April 2013 | 05:07 Dibaca: 151   Komentar: 0   0

Tanpa diharapkan, masyaarkat disuguhi dengan fenomena lumayan heboh perseteruan antara guru (guru spiritual) dan mantan muridnya. Suka, peduli, acuh ataupun tidak, berita itu telah menjadi mangsa media dan lahapan publik. Setidaknya hanya media (infotainment) saja yang meraup untung dari narasi yang bertubi-tubi terjadi.

Satu persatu aib sang guru diramu tanpa ada rasa mulu, karena dirasa momennya klop untuk melampiaskan pedihnya masa lalu. Di tengah bermunculan sang penggugat, ternyata ada juga orang taat (bagi sang guru) sebagai pembela cuma-cuma. Ya, dia juga adalah murid seperguruan yang mungkin baginya lebih mendapatkan berkah darinya daripada musibah, seperti apa yang dialami teman seperdukunannya.

‘Guru spiritual’ mungkin frase itu yang lebih layak diucap dan lebih general maknanya dibandingkan dengan sebutan dukun, paranormal, dan lain sebagainya. Dan berkesan lebih positif karena biasanya selalu diidentikan atau melibatkan ajaran agama. Sebutan guru spiritual akan meng-encourage para pendengarnya mengimajinasikan seorang sosok ahli agama seperti ustadz, kiayi dan sejenisnya yang memiliki ilmu putih dibandingkan sebutan dukun, paranormal yang selalu disandingkan dengan ilmu hitam.

Konon sampai sekarang guru spiritual masih laku diburu, mulai dari rakyat jelata, artis, elit, sampai dengan sang penguasa. Bukan tanpa motif, mereka berduyun-duyun demi keinginannya terkabul. Minta penglaris, pesugihan, naik jabatan, perjodohan sampai masalah pelet dan santet. Intinya adalah bagaimana memperoleh hajat dengan jalan mulus tanpa bersusah payah. Tanpa harus peduli apa yang dilakukannya haram atau tidak, melanggar etika atau tidak. Sang guru juga sering difungsikan sebagai media pencerah terutama ketika sang murid dapat musibah. Namun ketika berbagai kasus mencuat atas perlakuan guru spiritual (mencabul, memeras, dan mengitimidasi) sang penganut mulai resah. Bukan laba yang didapat melainkan bala.

Secara psikologis manusia memang membutuhkan sosok untuk dijadikan ‘pelindung’ bagi mereka yang membutuhkannya. Hal ini dirasa tidak pede-nya beriman kepada Tuhan atau mereka butuh tuntunan untuk mendapatkan cahaya iman demi mereduksi keresahan hidup. Namun kesalahan terbesar adalah ketika mereka ‘menuhankan’ sang guru. Sehingga apa yang diucapkan dan dilakuan selalu dianggap benar. Dan sebaliknya membangkang merupakan perbuatan yang mungkar.

Mempunyai guru spritual merupakan tindakan yang tidak dilarang, malah (mungkin) diharuskan bagi mereka yang memang membutuhkannya. Sepanjang tidak melanggar dogma agama. Sejatinya sang guru dijadiakan intermediasi yang mendekatkan diri pada Tuhan, bukan malah memurtadkan-Nya. Perlu diingat bahwa guru spiritual bukanlah Tuhan yang wajib dipenuhi atas perintahnya. Guru spiritual bisa dibantah, tidak dipatuhi jika ada hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani terlebih dengan doktrin agama. Guru spiritual sebetulnya bisa didapat hanya mendengar ceramah-ceramah agama yang sering disampaikan oleh para pemuka agama. Untuk mendapatkannya tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam cukup datangi sang penceramah atau lihat di tv, denger radio, buka internet, so simpel sang guru spiritual.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 4 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 6 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 8 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 9 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Cinta Sejati …

Adhikara Poesoro | 8 jam lalu

Mengenal Air Asam Tambang …

Denny | 8 jam lalu

Afta dan Uji Kompetensi Apoteker …

Fauziah Amin | 8 jam lalu

Demo BBM vs Berpikir Kreatif …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Revolusi dari Desa (Paradigma Baru …

Ikhlash Hasan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: