Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sutomo Paguci

Pewarta warga mukim di Padang | Advokat | Nonpartisan | Menulis sebagai rekreasi

Sebutan “Polwan Cantik” Pelecehan?

OPINI | 06 April 2013 | 16:38 Dibaca: 913   Komentar: 0   2

1365214690414861101

Bripka Avvi Olivia

Siapa tak kenal para polisi wanita (Polwan) yang bertugas di National Traffic Management Centre (NTMC) Polda Metro Jaya, yang siaran lalu-lintasnya ditayangkan Metro TV, sebut saja Briptu Eka Frestya, Bripka Avvi Olivia, dll. Kita biasa mendengar sebutan terhadap mereka sebagai “Polwan Cantik”. Bahkan, ada yang menambahkan kata “seksi” sehingga menjadi “Polwan Cantik dan Seksi”.

Sebutan “Polwan Cantik” nampaknya perlu dikoreksi. Sebutan ini dinilai bias jender dan menonjolkan penampilan fisik di atas prestasi dalam tugas-tugas wanita di sektor publik. Karena itu sebutan demikian tak pantas ditujukan pada aparat negara, apalagi kalau yang mengucapkan adalah para elit yang mestinya memberi contoh yang baik.

Sekedar perbandingan. Belum lama ini Barack Obama mengakui, menyesali dan meminta maaaf atas pernyataannya yang memuji Jaksa Agung California Kamala Haris karena menyebut Haris sebagai “menarik (cantik)”. Barack Obama mengatakan, “sejauh ini (Haris) adalah jaksa agung paling menarik di negara ini,” sebagaimana dikutip oleh Republika.co.id (6/4).

Pihak yang keberatan terhadap pujian Obama tersebut bukan hanya berasal dari kubu Haris melainkan juga dari kubu Obama sendiri. Karena dinilai memberikan penghargaan terhadap tampilan fisik wanita yang bekerja di sektor publik. Pernyataan ini disampaikan dalam rangka kunjungan penggalangan dana.

13652147701134785746

Jaksa Agung California Kamala Haris

Sudah saatnya hal yang sama seperti di AS tersebut dibudayakan di Indonesia. Peran perempuan di sektor publik tidak ditonjolkan bias jendernya, melainkan semata fungsi, kedudukan, dan prestasi yang dilakukan.

Memang masih ada kendala di budaya patriaki yang kental seperti di Indonesia. Selain itu, tantangan juga berasal dari aturan hukum. Beberapa aturan hukum malah menempatkan wanita ditonjolkan sisi keperempuannya, bukan berpedoman pada pencapaian dan hasil persaingan. Katakanlah contoh jatah 30 persen kursi bagi perempuan dalam daftar caleg sebuah partai, di Komisi Pemilihan Umum (KPU), dll.

Dalam kenyataannya perempuan dapat melakukan hampir semua hal yang dapat dilakukan oleh lelaki di sektor publik. Mulai pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan otak, imajinasi seni, kemampuan fisik merayap, mendaki, dsb.

13652148361748448293

Bripka Avvi Olivia, Briptu Eka Frestya, Ipda Eny Kuswidiyanti Regama

1365214922754144523

Bripka Avvi Olivia

Sumber foto:

(SP)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: