Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Herry B Sancoko

Hidup tak lebih dari kumpulan pengalaman-pengalaman yang membuat kita seperti kita saat ini. Yuk, kita selengkapnya

Mengawetkan Cinta

HL | 06 April 2013 | 19:26 Dibaca: 669   Komentar: 0   5

Cinta antar manusia. Sumber foto: http://www.romanticlovepictures.com/downloads/Romantic_Love_Wallpaper1.jpg

Cinta antar manusia melampaui jarak, tempat dan waktu. Sumber foto: http://www.romanticlovepictures.com/downloads/Romantic_Love_Wallpaper1.jpg

Cinta memang buta.  Cinta memang tidak logis.  Cinta memang bisa membuat manusia bertindak melebihi batasan akal sehatnya.  Cinta bisa membuat manusia rela mengorbankan nyawanya dengan senyuman di bibir demi membela cintanya. Manusia memang bisa menjadi mahluk bodoh tidak terkira karena terjerat urusan cinta.

Manusia di manapun di belahan dunia ini pada dasarnya sama saja kalau sudah merasakan madu dan racunnya cinta. Tidak peduli umur, status, kekayaan, pendidikan, ras, budaya dan lain-lain aksesoris. Di suku terasing pun kalau sudah terseret cinta, tingkah laku manusianya sama saja. Cuma ekspresinya yang beda.

Di negara barat yang kadang oleh masyarakat Indonesia dianggap punya budaya seks bebas, ternyata tidak mengurangi kwalitas rasa cinta seorang manusia. Bahkan rasa cinta mereka bisa demikian kuat diekspresikan dalam ranah sosial. Tidak malu-malu, tidak sembunyi-sembunyi, tidak pura-pura, tidak takut dinilai orang lain, tidak takut digerebeg. Tidak peduli apakah orang lain itu gebrot, dekil, nglombrot, atau wajahnya ingkar janji. Kalau sudah cinta, diterjang tanpa peduli apa itu penilaian sosial.Urusan cinta adalah urusan antar dua orang individu yang saling jatuh cinta. Yang lain tutup mulut dan dilarang usil. Kalau ngiri silahkan cari sendiri.

Jika setiap orang tahu rasanya cinta, pasti dunia ini bakal damai, aman, indah sentosa. Tapi tidak demikian halnya yang terjadi.  Cinta tidak bisa datang berombongan. Cinta datangnya misterius. Kalau tidak kena panah asmara, orang tak akan tahu apa itu cinta. Manusia tahu cinta karena memang harus jatuh. Tiba-tiba saja terjerembab lalu “jatuh” cinta. Tidak bisa direncanakan.  Nemu gantungan kunci bisa berlanjut cinta. Pinjam catatan bisa berlanjut cinta. Sandal yang ketukar, bisa diteruskan ke mahligai rumah tangga. Hp yang tertinggal bisa berakibat hati ikut tertinggal. Salah kirim sms bisa dapat kiriman paket emoticon gambar hati yang berdenyut-denyut. Memandangi foto profile seseorang di media sosial yang lagi pose senyum dikulum pun bisa membuat seseorang cengengesan sendiri sambil membayangkan kejatuhan bulan.

Memberikan hati milik pribadi kepada orang lain bukan urusan gampang. Hati tidak bisa begitu saja dicopot dikasihkan ke orang lain. Memberikan hati pada orang lain berarti memberikan sebagian dari dirinya sendiri. Tiba-tiba ada sosok lain di luar dirinya. “Hatiku hampa,” begitu kata orang bila hatinya sudah dikasihkan ke orang lain.  “Telah kau bawa semua yang kupunya,” begitu kata lagu Agnes Monica, “Rindu”. Padahal yang pergi itu nggak bawa apa-apa. Apalagi membawa semua kepunyaan orang lain. Satu tas kresek saja nggak akan cukup.

Tidak hanya sampai di situ saja. Sudah tahu cinta itu bikin nalar tidak jalan, masih mau meneruskan cintanya meski orang yang dicintai sudah menjadi jasad beku.  Cinta memang kalau sudah melekat seperti tahi kucing rasa coklat.

Mengawetkan Cinta

Banyak berita terutama di negara maju, cinta diteruskan meski pasangannya telah meninggal dunia.  Karena kemajuan teknologi, cinta yang tiba-tiba terpenggal bisa diteruskan lewat representasi cinta lain, yakni dengan mencoba memperoleh keturunannya.

Seorang wanita penduduk kota Ipswich, Brisbane - Australia menang kasus dalam persidangan untuk menapatkan sperma pasangannya yang telah meninggal karena kecelakaan tertubruk kereta di sebuah persimpangan jalan kereta.

Kelly Floyd, nama wanita itu, telah bertunangan dengan almarhum Troy Jarvis pertengahan tahun 2011 dan merencanakan hendak menikah di akhir tahun itu. Mereka sudah bikin janji untuk ketemu dengan dokter kandungan pada tanggal 26 Juli tentang kemungkinan untuk mempunyai anak. Namun sebelum janji ketemu dokter itu terlaksana, Troy Jarvis tertimpa kecelakaan fatal yang merenggut nyawanya. (http://www.coolum-news.com.au/news/ipswich-woman-wins-court-case-dead-fiance-sperm/925525/)

Sebelum dikuburkan, sperma Troy diambil kemudian diawetkan di klinik IVF sebelum nantinya dibuahkan di rahim Kelly.  Menurut ahli, sperma bisa bertahan hidup hingga 24  36 jam setelah orangnya meninggal dunia.

Di koran Herald Sun, 15 Februari 2013 lalu, seorang wanita tinggal di Sydney dikabarkan telah ditolak permintaannya oleh pengadilan untuk mengambil sperma pacarnya yang dikenalnya dua bulan sebelum si pria meninggal dunia karena sakit non-Hodgkin’s lymphoma (kanker darah). (http://www.theaustralian.com.au/news/court-rejects-womans-emotional-plea-to-have-dead-boyfriends-baby/story-e6frg6n6-1226578231439)

Alasan hakim menolak permintaan karena pasangan tersebut belum menikah atau hidup bersama alias kumpul kebo.  Hakim percaya bahwa mereka berdua telah saling cinta dan bertekad hendak menikah tapi syarat tersebut ternyata kurang mendukung keputusan untuk memperbolehkan si wanita mendapatkan sperma si pria.  Meskipun keputusan wanita tersebut telah didukung oleh kedua pihak orang tua pasangan.

Kasus-kasus tersebut di atas adalah sebagian contoh saja dalam hal rebutan sperma tanpa kehadiran fisik si empunya. Kemungkinan untuk mendapatkan sperma dan membuahkan dengan telur tersebut punya peluang setelah ditemukan teknik pembuahan artifisial pada abad ini. Suatu kasus yang tidak akan mungkin terjadi pada tahun-tahun sebelum ditemukannya  teknik canggih ini. Untuk di Indonesia, mungkin tidak akan terjadi kasus pembuahan sel telur setelah si empunya sperma meninggal dunia. Pandangan sinis secara sosial akan datang silih berganti baik pada si wanita sendiri atau pada anak yang kelak dilahirkan.

Posthumous sperm retrieval (PSR) adalah prosedur mengambil sperma setelah orang meninggal dunia.  Proses ini mengundang dilema etis dan hukum terhadap orang-orang yang berkepentingan.  Adalah terlarang secara hukum mengambil organ dari orang yang meninggal dunia tanpa seijin orangnya ketika masih hidup atau tanpa seijin dari pihak ahli waris yang syah secara hukum. Ahli waris berhak menentukan keputusan seolah ia yang akan memberikan donor organ tubuh tersebut.(Baca PSR: http://en.wikipedia.org/wiki/Posthumous_sperm_retrieval)

Proses kehamilan tanpa kehadiran fisik pria bisa dilakukan dengan hanya mengambil sperma setelah diketemukan teknologi in vitro fertilisation (IVF). Proses IVF biasanya dilakukan oleh pasangan yang mengalami kesukaran untuk hamil.  Prosesnya adalah mengambil telur subur dari wanita kemudian berusaha dibuahi dengan sperma pasangannya di sebuah laboratorium.  Setelah telur tersebut dibuahi kemudian dimasukkan ke rahim sang isteri untuk memungkinkan kehamilan normal untuk terjadi. Proses ini tercatat pertama kali berhasil pada tahun 1978.  Penemu proses ini bernama Robert G. Edwards memenangkan hadiah Nobel pada tahun 2010 karena jasanya dalam membantu pasangan yang mendambakan anak tapi kesukaran untuk hamil. (Baca IVF: http://en.wikipedia.org/wiki/In_vitro_fertilisation)

Intracytoplasmic sperm injection (ICSI) adalah proses dimana sebuah sel sperma secara langsung disuntikan pada telur wanita untuk pembuahan janin. Teknik ICSI pertama kali ditemukan pada tahun 1990an. ICSI amat membantu bagi pasangan dimana sperma si pria selalu gagal membuahi sel telur wanita. Teknik ini juga digunakan untuk penerima donor sperma.

Hubungan Emosional

Hubungan emosional karena rasa cinta mendorong orang untuk melakukan pembuahan janin meski pasangan prianya telah meninggal dunia.  Bagi orang yang telah saling jatuh cinta, kehilangan pasangan adalah sebuah tragedi yang membawa trauma berkepanjangan.  Bahkan dalam kasus-kasus tertentu membuat pasangan yang ditinggal mengalami depresi berkepanjangan dan kehilangan gairah untuk hidup.

Amy Vanden Brink (29) merencanakan hendak menikah dengan Ben (32) dalam waktu dekat pada tahun 2009 lalu. Amy dengan hati yang berbunga-bunga tidak sabar menunggu hari yang dinantikan itu tiba. Amy memanjangkan rambutnya agar nampak lebih cantik memakai gaun pernikahannya.

Namun tanpa disangka, setelah tunangannya berkunjung ke rumahnya di Brisbane - Australia, tiba-tiba meninggal secara mendadak esoknya karena terserang penyakit bronchial pneumonia, infeksi paru-paru akut yang menyebabkan pembengkakan organ pernafasan.

Amy sangat terpukul dengan berita kematian tersebut. Masa depannya terasa buram. Hidupnya seperti dirampas begitu saja. Ia lalu meminta tantenya untuk memotong rambutnya untuk menghadiri pemakaman Ben esok harinya. Pernikahan itu sudah terhapus begitu saja. Ia kini harus menyiapkan hatinya untuk menghadapi tragedi terburuk dalam hidupnya.

Pada saat Amy terpekur dan larut dalam kesedihannya di kamar, ibu Amy mendekatinya dan memberi ide tentang pengambilan sperma milik Ben untuk dibekukan dan disimpan.

Meski hatinya masih dalam duka, Amy tiba-tiba merasa menemukan gairah hidup dan melihat masa depannya lebih cerah. Dengan tanpa pikir panjang, Amy memutuskan untuk menyelamatkan sperma Ben.  Amy hanya punya waktu tak lebih dari 36 jam semenjak kematian Ben untuk menyelematkan spermanya.

Amy segera menghubungi pengacara untuk memohon pada pengadilan agar diijinkan untuk mengambil sperma dari jasad Ben yang kini tergeletak di kamar mayat rumah sakit.  Ijin dari pengadilan tersebut harus secepatnya mendapat persetujuan.

Pada esoknya pada awal persidangan di pengadilan, ijin Amy dikabulkan oleh pengadilan.  Pagi itu seorang ahli dalam bidang IVF telah siap mengambil sperma Ben di kamar mayat rumah sakit.

Amy merasa ia masih memiliki sesuatu bagian dari orang yang dicintainya yang masih hidup dan dibekukan.  Dan suatu saat, Ben kecil akan lahir dari rahimnya.

Cerita tentang Amy tersebut di atas disarikan dari sisipan majalah koran The Australian, 6 April 2013. Kisah-kisah sejenis banyak didapatkan dari media massa on line di internet. Deretan kisah perjuangan manusia dalam usahanya untuk mencari pegangan kekuatan hidup atas dasar cinta. Cinta memang bisa menembus waktu dan jarak.  Beberapa cerita membawa “kebahagiaan” dan beberapa kisah lainnya berakhir menyedihkan dan harus menerima kenyataan kehilangan orang yang dicintai untuk selamanya.  Bahwa tidak selamanya cinta itu indah dan menyenangkan.  Kenyataan hidup harus bisa diterima sebagai obat pahit yang harus ditelan agar kita makin matang dalam hidup.*** (HBS)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 3 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 8 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 9 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Si Belang, Si Nenek, dan Barang Bekasnya …

Ulfah Fa'izah N... | 7 jam lalu

Tips Bepergian Backpacking …

Rizal Abdillah | 7 jam lalu

Saudis Gay “Luthiy” …

Ali Uunk | 7 jam lalu

Tangisnya Danum …

Hozrin Hilmo | 7 jam lalu

Project Sophia: Memutus Benang Konflik …

Jafar G Bua | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: