Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Maila Al-ja'fari

Hanya setitik upil pada luasnya jagad raya

Menilik Sekilas Frauenhaus (Rumah Perlindungan Perempuan) di Jerman

HL | 05 April 2013 | 11:57 Dibaca: 342   Komentar: 0   1

13651247341469094199

Sisi lain lagi dari dinamika kehidupan di Jerman. Aku memperhatikan kawan-kawan perempuan yang berasal dari Turki. Mereka muda, cantik, rupawan, segar, sebahagian ada yang kolot tapi ada juga yang modern. Seorang diantaranya, aku kenal 2007 lalu saat sama-sama menunggu daftar panggil di Ausländeamt (Kantor Imigrasi) Gelnhausen untuk mendapatkan stempel visa pada passport.

Perempuan yang sinar wajahnya seperti rembulan. Namun sangat teduh dalam balutan hijab. Waktu itu dia didampingi seorang perempuan setengah baya lainya. Kelihatan bingung, aku pun menyampiri. Dan selesai masalahnya. Sejak itu, aku mengenalnya lebih jauh lagi. Usianya baru 18 tahun waktu itu. Baru saja menikah dengan seorang pemuda Turki kelahiran Jerman. Perempuan yang sangat lugu dan cerdas, sebenarnya.

Saat aku bertemu dengannya lagi di stasiun kereta api Gelnhausen (wilayah Hessen). Kami menungu kereta yang sama, arah ke Fulda. Dia berbeda. Sinar di wajahnya pudar. Matanya cuma sorot kepedihan. Senyumnya seperti karet putus daya elastisnya. Setelah di kereta, aku berani bertanya. Dia menangis. Kurangkul dia. Aku seakan sudah paham dengan segala kesusahannya. Kutunggu dia yang bercerita. Bukan sesuatu yang baru bagiku mendengar ceritanya. Tidak bermaksud makin mengguncangnya. Tapi aku sebut nama ”Frauenhaus”. Dia terkejut. Dan bertanya takut-takut, ”tempat apa itu?” Memang kata Frauenhaus (rumah perempuan) itu memiliki sejarah panjang di Jerman. Pada abad pertengahan Frauenhaus dikenal sebagai tempat pelacuran atau bordil. Bahkan pada abad 13 Frauenhaus sudah menjadi tempat pemuas nafsu yang legal di Augsburg-Jerman. Para pelacur di kota itu ditandai dengan mengenakan kerudung yang memiliki motif dua garis hijau tebal. Pada abad 19 kata Frauenhaus juga digunakan sebagai tempat penampungan perempuan yang masih gadis namun sudah tak perawan lagi yang disebut sebagai (gefallenes Mädchen) dibawah pengawasan ‘diakonos’ atau suster gereja. Namun sejak 1976 di Jerman Frauenhaus adalah penyebutan untuk sebuah tempat penampungan perempuan yang mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga. Pertama kali didirikan di Berlin dan Köln. Di Negera lain Amerika, Australia atau Inggris misalnya, Frauenhaus disebut ‘women’s shelter’ yang pertama kali didirikan di London pada 1971. Namun konsep rumah perlindungan perempuan ini bukanlah konsep baru. Sudah ada sejak zaman dulu di Jepang. Beberapa kuil Budha di Jepang berfungsi sebagai ‘kakekomi dera’ yaitu tempat melarikan diri bagi perempuan yang mendapat kekerasan di rumahnya.

Tentu saja, yang kumaksud bagi kawanku itu. Frauenhaus yang merupakan tempat perlindungannya. Di sana, dia akan mendapat kemananan, konselling, dukungan hukum bahkan pengacara. Mungkin yang paling bisa meredakan adalah ketika berkumpul dengan perempuan lainnya yang senasib meski bisa jadi permasalahan masing-masing berbeda. Para perempuan yang tinggal di Frauenhaus bila mereka memiliki anak di bawah usia 18 tahun untuk anak perempuan dan usia 12 tahun untuk anak laki-laki harusnya membawa mereka ikut serta. Di Jerman saat ini menurut data dari Wikepedia, pada 2009 saja sudah terdapat 362 Frauenhaus di berbagai kota di Jerman. Dari yang aku ketahui, sistem pendanaan Frauenhaus sangat rumit. Selain dari para donatur, sumbangan melalui kotak-kotak amal atau acara-acara amal yang diselenggarakan perhimpunan-perhimpuan (Vereinen), namun juga dari biaya perorangan yang tinggal di Frauenhaus. Bila perempuan-perempuan itu tidak bekerja, maka biaya dibebani kepada suaminya bila suami bekerja dan mapan. Namun bila tidak, maka biaya tinggal plus biaya hidup mereka dibebani kepada Dinas Sosial (Sozialamt).

Kembali ke kawanku. Setelah pertemuan di kereta api itu. Beberapa hari setelahnya, dia menelponku. Kudengar isaknya tertahan. Aku tidak berani pandai-pandaian menebak apa yang diinginkannya. Jadi cuma mendengar. Aku tahu. Tidak mudah memutuskan dalam situasinya. Aku juga pernah merasakan badai yang tak jauh berbeda. Yang ditakutkannya bukan masalah hak asuh anak. Karena dia tidak memilikinya. Tapi justru karena tak memiliki anak itu, dia takut hak tinggalnya dicabut bila bercerai. Dan suatu aib bagi keluarganya, bila dia pulang ke Turki sana dengan status janda. Bukan hal baru. Bukan hal baru bagiku mengetahui itu. Dia bukan kawan Turkiku yang pertama yang terhimpit kesulitan semacam itu. Yang menarik sejak aku tinggal di Jerman adalah, dari banyak perempuan-perempuan yang berasal dari berbagai penjuru di dunia bertemu dan berkanalan denganku di Jerman ini, mereka justru menghadapi sebuah ambiguitas setelah hidup di Jerman. Antara memenuhi tuntutatan tradisi dengan benturan masalah yang dihadapinya. Bisa kupahami, baginya bila rumah tangga sampai di ujung pereceraian, meski ia bisa mendapatkan visa tinggal di Jerman, juga bukan sebuah kemudahan bila kemudian nantinya menghadapi hidup tanpa saudara dari pihaknya pula. Namun kalau pun kembali ke kampung halaman, bisa jadi hal pahit bukan hanya untuknya, tapi juga buat keluarga besarnya. Begitulah hidup, orang Jerman sering bilang, ” Das Leben ist nich so einfach” (Hidup itu tidaklah mudah).

sumber gambar

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sasi, Konservasi Tradisional di Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 22 August 2014 | 15:21

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

ALS #icebucketchallenge …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 August 2014 | 17:49

[SRINTHIL] Perempuan di Kaki Masa Lalu …

Rahab Ganendra | | 22 August 2014 | 14:33

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 4 jam lalu

SBY ‘Ngrecoki’ Jokowi …

Suko Waspodo | 6 jam lalu

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 11 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 15 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: