Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Palti Siahaan

hidup tak akan indah bila tiada tantangan..

Memaknai Kata “Memanusiakan Manusia”

OPINI | 05 April 2013 | 18:42 Dibaca: 4976   Komentar: 0   0

Kata - kata “Memanusiakan Manusia” begitu populer dan kerap diucapkan saat ini. Bahkan kita terkesan seolah - olah latah mengucapkan kata - kata tersebut.

Kata - kata “Memanusiakan Manusia” memang begitu indah. Maknanya pun sangat dalam dan menyentuh hati. Saya rasa ini yang membuat kita latah menyebut kata tersebut seakan - akan kita menuntut itu diterapkan dalam kehidupan dan berbangsa dan bernegara terlebih dalam berinteraksi dengan sesama manusia sebagai mahluk sosial.

Sebelum masuk kedalam pembahasan makna “Memanusiakan Manusia”, penulis mencoba memberi contoh beberapa tokoh di Indonesia yang disebut telah melakukan hal yang “Memanusiakan Manusia. Contoh ini saya buat agar kita lebih mudah memahami maknanya nantinya.

Ada tiga orang yang penulis contohkan dalam tulisan ini yakni mendiang KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi dan dan Walikota Surabaya Tri Rismaharini.

Gus Dur disebut telah “Memanusiakan Manusia” karena sikap mantan presiden RI ini yang berpegang pada nilai keadilan, kesetaraan serta nilai persaudaraan. Gus Dur sosok pemimpin, pembela rakyat marjinal, pembela minoritas agama etnis yang hak-haknya terhalangi baik dalam berkeyakinan, beragama atau mendirikan rumah ibadah. Selain itu, keyakinannya pada iman yang terbuka sehingga mengembangkan Pluralisme.

Jokowi, terlihat dari cara memindahkan pedagang kaki lima kala menjabat sebagai Walikota Surakarta. Tanpa menggusur secara paksa, pedagang kaki lima pindah. Di Jakarta pun, setelah menjabat Gubernur, ia membangun tanpa menggusur.
Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Achmad Sodiki bahkan menyebut Jokowi menerapkan konsep “Memanusiakan Manusia”.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini pun demikian. Ia dinilai memanusiakan warga karena aktivitasnya keluar-masuk lokalisasi untuk membujuk para pekerja seks komersial untuk berganti profesi. Ia datang pada siang hari, sore atau malam. Tekadnya, ia ingin mengurangi lokalisasi di kota Surabaya, tetapi tidak memilih cara menggusur. Ia turun langsung, mengajari para pekerja seks itu dengan aneka keterampilan.

Banyak lagi tokoh di Indonesia ini yang disebut telah menerapkan “Memanusiakan Manusia”. Namun tidak bisa dituliskan seluruhnya dalam tulisan ini. Pemuatan tiga tokoh diatas hanya untuk membantu kita memahami konsep “Memanusiakan Manusia”.

Kata - kata “Memanusiakan Manusia” ini memang kerap ditujukan pada pelayanan pemerintah kepada rakyatnya. Singkatnya, pelayanan publik yang dirasakan oleh masyarakat.

Konsep “Memanusiakan Manusia” bukanlah hanya terbatas di bidang pelayanan publik saja. Itu terlalu sempit. Kata - kata “Memanusiakan Manusia” menyentuh seluruh dimensi kehidupan manusia.

Bahkan dunia pendidikan di Indonesia juga menggunakan konsep ini. Kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini pun dibuat dengan dasar konsep “Memanusiakan Manusia”. Di internet bisa cari tentang hal ini.

Sejatinya, konsep “Memanusiakan Manusia” merupakan bagian dari humanisme. Humanisme berasal dari kata Latin humanus dan mempunyai akar kata homo yang berarti manusia. Humanus berarti sifat manusiawi atau sesuai dengan kodrat manusia (A.Mangunhardjana dalam Haryanto Al-Fandi, 2011:71).

Dari berbagai literatur yang penulis baca, pengertian humanisme adalah paham yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik.

Dalam apliasinya, humanisme tidak memandang bangsa, agama, daerah, suku, warna kulit dan sejenisnya. Ia memperlakukan dan berusaha membantu siapa pun itu manusianya. Tidak memandang ia baik atau jahat, kawan atau musuh. Namun penulis tidak akan masuk kedalam paham Humanisme dari segi Agama.

Selain itu dalam kamus bahasa Indonesia istilah memanusiakan manusia merupakan upaya untuk membuat manusia menjadi berbudaya.

Jadi, kata - kata “Memanusiakan Manusia” bukanlah diartikan secara harfiah. Melakukan hal “Memanusiakan Manusia” bukan berarti sebelumnya kita memperlakukan manusia tidak seperti manusia. Itu adalah pemahaman yang SANGAT SALAH.

Ada juga pengertian “Memanusiakan Manusia” adalah menjadi manusia seutuhnya. Artinya, sebagai ciptaan Tuhan paling mulia, kebahagiaan utama adalah tatkala kita dapat menjadikan sesama manusia lebih terdidik, lebih bermartabat, lebih sukses, lebih pintar, dan lebih baik hidupnya. Di situlah baru seseorang benar-benar memperoleh ‘gelar kemanusiaannya’. Selama kepintaran, keterdidikan, kesuksesan, kekayaan, dan semua kelebihan yang dimiliki hanya untuk kepentingan dan kepuasan diri sendiri, berarti belum menjadi manusia utuh sebagaimana seharusnya.

Tambahan dari penulis, konsep “Memanusiakan Manusia” yang lebih mendasar yakni memanusiakan manusia yang memiliki cita-cita sama ingin selalu dihormati dan dihargai. Itu adalah keinginan mendasar dari seorang manusia, terutama ingin DIHARGAI. Terlebih dalam interaksi dengan sesama manusia termasuk orang per orangan.

Dihargai dalam konteks ini adalah, kehadiran kita, apa yang kita kerjakan semetinya dihargai. Hal ini lebih tepat dikaitkan dengan hubungan dengan sesama sehari - hari maupun dalam pekerjaan. Terlepas adanya kesalahan yang dibuat, kita sebagai manusia harus dihargai. Walau posisi kita sebagai bawahan, misalnya dalam pekerjaan, atasan tetaplah harus mengahargai kita. Cara menegor kita bila ada pekerjaan yang salah dan sebagainya.

Kita begitu senang bila pelayanan sebuah perusahaan publik sangat baik bagi kita. Baik dalam permasalahan, perusahaan tersebut tetap melayani kita dengan baik dan santun. Kita pun akan menyebutnya tindakan yang “Memanusiakan Manusia”.

Dapat dibayangkan, bila konsep “Memanusiakan Manusia” ini kita terapkan dalam kehidupan sehari - hari, baik dalam lingkup pertemanan ataupun di pekerjaan, akan tercipta hidup yang harmonis. Sesama manusia saling menghargai.
Tidak ada tindakan yang merendahkan, mencibir atau hal lainnya yang membuat sakit hati dan sebagainya.

Bula itu diterpakan dalam sebuah pelayanan publik, maka pelayanan publik pun berjalan dengan bagus.

Memang tidak ada batasan atau ukuran pasti kita sudah melakukan hal “Memanusiakan manusia”. Tidak ada juga ukuran yang pasti kita melakukan hal yang “Tidak Memanusiakan Manusia”. Ukuran ini terkait dengan rasa prikemanusiaan yang ada dalam diri kita.

Namun ada baiknya rasa prikemanusiaan kita dipertebal akan kita semakin peduli terhadap sesama. Kepedulian kita dalam bentuk nyata akan membawa kita ke arah tindakan “Memanusiakan Manusia”.

Hal yang paling mendasar dalam menerapkan konsep “Memanusiakan Manusia pada paham Humanisme adalah KASIH. Kala kita berbuat tanpa memandang suku, ras, warna kulit dan lainnnya serta kepedulian kepada sesama manusi semua itu sudah mencakup dalam KASIH.

KASIH pada konteks ini adalah melempar diri sendiri keluar untuk menjadi satu dengan yang dikasihi, siapapun, apapun bagaimanapun yang dikasihinya. Ini melebihi dari arti Humanisme. Kasih kepada sesama berarti kita harus mampu menghargai, menghormati sesama sesuai dengan martabatnya.

Penulis sendiri memang masih jauh dari konsep “Memanusiakan Manusia” dalam paham Humanisme. Apalagi menerapkan KASIH. Tulisan ini hanya untuk membantu kita memahami konsep “Memanusikan Manusia” dalam penerapan sehari - hari. Semoga kita dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari - hari.

Tulisan ini memang sangat sederhana dan masih banyak lagi kekurangan. Namun penulis berharap bisa membantu kita memahami makna dari “Memanusiakan Manusi” agar kita tidak salah mengartikan. Mohon juga diberi kritik atas tulisan ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menumbuhkan Minat Baca Anak Cara Pemerintah …

Benny Rhamdani | | 16 September 2014 | 10:01

Korupsi Politik Luthfi Hasan Ishaaq …

Hendra Budiman | | 16 September 2014 | 13:19

Jalan Kaki Camping Heboh di Mandalawangi …

Rahmat Hadi | | 16 September 2014 | 12:32

[Fiksi Fantasi] Runtuhnya Agate: …

Hsu | | 16 September 2014 | 05:54

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 6 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 8 jam lalu

UU Pilkada, Ken Arok, SBY, Ahok, Prabowo …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

I Am Groot …

Jeba | 7 jam lalu

Peran Google Drive Sebagai Alternatif …

Agus Oloan | 7 jam lalu

Kesatria itu Bernama Norman …

Susy Haryawan | 8 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Republikarnivor …

Den Hard | 8 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Perawan Sunthi …

Siti Swandari | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: