Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Titik Kartitiani

Writing is sharing

Sutradara yang Ditolak Pemakaman

HL | 01 April 2013 | 19:49 Dibaca: 1841   Komentar: 13   15


1364794603265872248

dok.Tobong


Hidupnya berkelana selama 32 tahun, dari desa ke desa menjadi sutradara panggung tobong. Dia tidak pernah mengklaim sejengkal tanahpun untuk dikuasai, tapi di akhir hidupnya, bahkan untuk ukuran 2×1m saja, tak seorangpun memberi hanya karena tidak punya KTP.

Kemarin sore, 31 Maret 2013, sekilas saya membaca status Facebook  Mas Risang Yuwono (fotografer di Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya, Kalasan, Yogyakarta), cerita soal kematian dan susah mencari tempat untuk mengubur jenazah. Tidak begitu saya perhatikan, karena saya pikir itu kasus lama. Tahun lalu, Mbah Ran (salah satu peraga tobong), mengalami kasus itu. Saat beliau meninggal, ditolak di pemakaman setempat.

Hari itu adalah hari yang cukup sibuk di tobong, ada beberapa kegiatan dan ketambahan kepergian Mbah Ran ini.Agak emosional, trenyuh dan tak berdaya, kecuali hanya bisa kontak kawan-kawan di sana sini untuk minta bantuan ide atau link karena saya ada di Jakarta dan tidak melihat langsung. Yang jelas, kepanikan atau tepatnya emosi Mas Risang terlihat sekali, sampai saya bolak-balik telepon, sering tidak diangkat hanya untuk memastikan dia baik-baik saja (walau jelas tidak baik-baik saja).

Balik ke status tadi, saya baca kembali, dan ternyata kali ini bukan kejadian dengan Mbah Ran, tapi Pak Sentot Wijaya (72 tahun), sutradara tobong, dan tragisnya, mengalami nasib yang sama : ditolak pemakaman. Saya sempat terkejut, kaget dan juga hati mendadak terasa dingin. Kenapa kejadian lagi? Tidak berapa lama Mas Risang telepon menjelaskan kalau alasannya karena tidak ada KTP setempat.

Ada solusi yaitu membeli tanah kuburan di pemakaman. Tapi ini mahal sekali, tidak terbeli oleh Pak Sentot (yang sudah tiada). Lalu mungkin kita bertanya, ke mana saudaranya? Bagi tobong, tidak ada saudara (dalam artian ahli waris), karena mereka hidup di tobong. Saudara mereka ya yang tinggal di tobong dan mereka semua sama, tidak punya KTP setempat. Bagaiman harus punya KTP, jika hidup mereka nomaden sebagai seniman.

Aturan memang aturan, namun sebenarnya ini bisa dimusyawarahkan dengan RT/RW setempat. Sayang sekali, pejabat daerah (di lingkup yang paling sempit) itu pun lepas tangan seperti pemimpin negeri yang lain, tidak peduli.

Sejujurnya, mata saya kembali menghangat. Kali ini, sedih saya bukan lagi seperti ketika saya mendengar kabar Mbah Ran. Kala itu, saya jadi ‘memaki’, kenapa ada orang-orang yang tega menolak jenazah. Mbah Ran bukan penjahat, tidak membunuh orang dan tidak pernah korupsi yang ‘membunuh’ banyak orang dengan pelan, tapi kenapa ditolak?

Kali ini, saya bisa menangis saat Mas Risang telepon, saya lagi ada di depan televisi melihat tayangan presiden Indonesia (itu masih negara saya, tempat Pak Sentot juga), sedang sibuk mengatur partainya.

Juga tentang penembakan 4 tahanan di mana polisi sibuk memaparkan skenario, tak jauh dari Pak Sentot terbaring beku. Juga tentang kericuhan-kericuhan yang lain. Juga kelaparan di Papua yang menewaskan 4 bocah, 180 sekian orang harus dirawat intensif karena kelaparan.

Betapa riuh sore tadi, betapa absen pemimpin kami yang menjadikan rakyatnya berjalan sendirian, tapi tetap harus mengisi SPPT bulan Maret ini. Atau datang ke bilik suara untuk mengusung mereka-mereka yang cengengesan di layar kaca dengan tanpa dosa.

Barangkali saya terlalu bawel, lalu siapa saya kok ikut ribut mikirin negara. Bahkan sempat kami diskusi dengan kawan, hingga pagi, ala Indonesia Lawyer Club dan endingnya kepala saya sakit. Hemmm, tidak, memang saya bukan siapa-siapa, hanya ingin menjaga diri untuk tetap sadar. Sadar, walau sedikit sekali dan kadang memilih lupa agar tidak perlu sakit kepala.

Berkali-kali ucapan kawan saya, no heart feeling, seperti mantra tapi tidak mempan. Bagaimana bisa, ketika melihat kejadian di depan mata. Melihat ketragisan orang yang saya kenal tanpa saya bisa berbuat-apa.

Ya, kembali, jika kita sadari, negeri ini memang tanpa pemimpin (kecuali pemimpin DKI yang masih memberi harapan). Jadi sebaiknya rakyat sendiri yang harus mengurus diri sendiri, dan menyadari untuk lebih tenggang rasa dan saling membantu. Walau itu tidak mudah.

Diakui atau tidak, pemimpin adalah contoh. Saat pemimpinnya menyebalkan, seakan-akan hukum lenyap, kerusuhan pun meledak di mana-mana, kejahatan lebih intens diberitakan (apakah karena kejahatan meningkat atau televisi yang memilih menayangkan kebrutalan karena memang lagi hangat sejak penembakan itu. Kami di media ada istilah ‘cantelan’/kaitan peristiwa. Jadi saat kasus besar kecelakaan Rasyid misalnya, berita kecelakaan serupa akan diangkat lebih sering dan meniadakan berita lainnya). Begitukah?

Rakyat tidak selamanya tanpa dosa, itu yang diingatkan kawan. Demikian adanya. Kerusakan jiwa memang merasuk ke mana-mana, hati pemimpin dan rakyat, tinggal kesempatannya. Tapi tidakkah kita bisa bersama-sama bangkit untuk mengembalikan negeri ini dengan kembali mengedepankan rasa dan kemanusiaan? Jika tidak demikian, kematian itu akan datang kepada siapa saja, dengan cara apa saja, dan akhirnya bangsa ini habis dengan tragis.

Ya, ini bukan perkara kematian Pak Sentot yang tidak punya tempat, tapi kematian harapan negeri ini jika keadaannya masih seperti ini. Tulisan ini pun tidak mengubah apa-apa, hanya sedikit membuat lega karena berbagi kegelisahan.

Catatan :

Saat saya menulis cerita ini, ada kabar bahwa jenazah Pak Sentot dibawa ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Yogyakarta untuk ‘pamitan’.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | | 26 October 2014 | 06:48

Perjuangan “Malaikat Tak …

Agung Soni | | 26 October 2014 | 09:17

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | | 26 October 2014 | 01:02

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59



HIGHLIGHT

Satu Malam di Tanjung Bira …

Abdul Rahim | 7 jam lalu

Unjuk Rasa Tuntut Upah Layak di DIY …

Musfingatun Sakinat... | 7 jam lalu

Cody Simpson - Java Sounds Fair 2014 …

Tari Nadya | 7 jam lalu

Unek-unek untuk Presiden Baru …

Folly Akbar | 8 jam lalu

Risalah 365 Doa & Zikir Sehari-Hari …

Nur Hadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: