Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Dodi Chandra

Saya adalah mahasiswa Arkeologi Universitas Indonesia semester 6. Saya sangat suka dengan Kebudayaan khususnya Arkeologi.

Jenis Tanaman Asing yang Dijadikan Pangan di Indonesia

REP | 02 April 2013 | 03:06 Dibaca: 241   Komentar: 0   0

Jenis Tanaman Asing yang dijadikan Pangan di Indonesia

Oleh: Dodi Chandra

Ketika kita ingin mengenali tanaman pangan yang bukan asli berasal dari Indonesia namun sudah menjadi umum di Indonesia, maka diperlukan data mengenai pangan tersebut pada masa sekarang. Dalam hal ini, perlu diketahui jenis tanaman pangan apa saja yang saat ini sangat umum di Indonesia dan dibudidayakan. Oleh karena itulah untuk menyatukan pandangan mengenai pangan yang umum di Indonesia, penulis menggunakan sumber yang berasal dari kementerian. Diharapkan dengan menggunakan data dari kementerian pertanian, dapat menggeneralisasi pandangan mengenai pangan yang umum ada di Indonesia.

Berdasarkan data kementrian pertanian republik indonesia, hampir di seluruh kepulauan Indonesia terdapat persebaran hasil pertanian dan perkebunan. Persebaran tersebut dibagi-bagi berdasarkan hasil tanaman yang ada pada daerah tersebut.

a. Persebaran hasil pertanian

  • Padi (beras), Daerah penghasil padi (beras) antara lain Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Barat.
  • Jagung, Daerah penghasil jagung antara lain Jawa Tengah (Wonosobo, Semarang, Jepara, dan Rembang); Jawa Timur (Besuki, Madura); serta Sulawesi (Minahasa dan sekitar danau Tempe).
  • Ubi kayu (singkong, Daerah penghasil singkong adalah Sumatera Selatan, Lampung, Madura, Jawa Tengah (Wonogiri), dan Yogyakarta (Wonosari).
  • Kedelai, Daerah penghasil kedelai adalah Jawa Tengah (Kedu, Surakarta, Pekalongan, Tegal, Jepara, Rembang), D.I. Yogyakarta, Jawa Timur (Jember).
  • Kacang tanah, Daerah penghasil kacang tanah ialah Sumatera Timur, Sumatera Barat, Jawa Tengah (Surakarta, Semarang, Jepara, Rembang, Pati), Jawa Barat (Cirebon, Priangan), Bali, dan Nusa Tenggara Barat (Lombok).

b. Persebaran hasil perkebunan

Hasil perkebunan negara kita antara lain tebu, tembakau, teh, kopi, karet, kelapa (kopra), kelapa sawit, cokelat, pala, cengkeh, lada, dan vanili.

  • Tebu, Daerah penghasil tebu, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Sumatera (Nangroe Aceh Darussalam).
  • Tembakau, Daerah penghasil tembakau ialah Sumatera Utara (Deli), Sumatera Barat (Payakumbuh), Bengkulu, Sumatera Selatan (Palembang), Jawa Tengah (Surakarta, Klaten, Dieng, Kedu, Temanggung, Parakan, Wonosobo), dan Jawa Timur (Bojonegoro, Besuki).
  • Teh, Daerah penghasil teh, yaitu Jawa Barat (Bogor, Sukabumi, Garut), Jawa Tengah (Pegunungan Dieng, Wonosobo, Temanggung, Pekalongan), Sumatera Utara (Pematang Siantar), dan Sumatera Barat.
  • Kopi, Daerah penghasil kopi, yaitu Jawa Barat (Bogor, Priangan), Jawa Timur (Kediri, Besuki), Sumatera Selatan (Palembang), Bengkulu (Bukit Barisan), Sumatera Utara (Deli, Tapanuli), Lampung (Liwa), Sulawesi (Pegunungan Verbeek), Flores (Manggarai).
  • Karet, Daerah penghasil karet, yaitu D.I. Aceh (Tanah gayo, Alas), Sumatera Utara (Kisaran, Deli, Serdang), Bengkulu (Rejang Lebong), Jawa Barat (Sukabumi, Priangan), Jawa Tengah (Banyumas, Batang), Jawa Timur (Kawi, Kelud), dan Kalimantan Selatan ( pegunungan Meratus).
  • Kelapa (kopra), Daerah penghasil kelapa, yaitu Jawa Barat (Banten, Priangan), Jawa Tengah (Banyumas), D.I. Yogyakarta, Jawa Timur (Kediri), Sulawesi Utara (Minahasa, Sangihe, Talaud, Gorontalo), dan Kalimantan Selatan (pegunungan Meratus).
  • Kelapa Sawit, Daerah penghasil kelapa sawit ialah D.I. Aceh (Pulau Simelue), Sumatera Utara (Pulau Nias, Pulau Prayan, Medan, Pematang Siantar).
  • Cokelat, Daerah penghasil cokelat ialah Jawa Tengah (Salatiga) dan Sulawesi Tenggara.
  • Pala, Daerah penghasil pala ialah Jawa Barat dan Maluku.
  • Cengkeh, Daerah penghasil cengkeh ialah Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara (Tapanuli), Jawa Barat (Banten, Priangan), Jawa Tengah (Banyumas), Sulawesi Utara (Minahasa), dan Maluku.
  • Lada Daerah penghasil lada ialah Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan (Palembang, Pulau Bangka), dan Kalimantan Barat.
  • Vanili,  Dihasilkan di daerah Flores (Manggarai, Bajawa), Papua, dan daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Hasil Pertanian

Padi

Padi (bahasa latin: Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Tanaman padi diduga berasal dari India atau Indocina. Fosil butir padi pernah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh, India, sekitar 100–800 tahun sebelum masehi (SM). Tanaman kuno iu dibawa ke Indonesia oleh nenek moyang yang bermigrasi dari daratan Asia sekitar 1.500 tahun SM. Namun, ada pula sumber yang mengatakan tanaman ini berasal dari dua benua, yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Catatan sejarah menunjukkan penanaman padi telah dimulai pada 3.000 tahun SM di Zhejiang, Cina. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah Burma, Thailand, Laos, dan Vietnam. Berdasarkan keanekaragaman budidayanya, padi dibedakan menjadi beberapa jenis. Padi Gogo, Padi Rawa, Padi Pera, Ketan, dan Padi Wangi.

Jagung

Berdasarkan temuan-temuan genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4.000 tahun yang lalu. Bagaimana jagung bisa sampai ke Nusantara? Banyak yang berpendapat bahwa jagung baru diperkenalkan oleh Bangsa Portugis ke Nusantara. Orang Belanda menamainya mays, sedangkan orang Inggris menyebutnya corn. Tapi apakah benar jagung baru sampai di Nusantara bersama bangsa Portugis?

Berbeda dengan tomat atau papaya, yang namanya kita pakai seperti nama asli dimana tanaman tersebut berasal, jagung adalah istilah lokal Jawa. Menurut Danys Lombard, kata jagung berasal dari kata Jawi dan Agung. Jawi adalah juwawut, yaitu sejenis rumput yang menghasilkan sereal mirip padi yang biasanya dipakai untuk pakan perkutut. Sedangkan agung berarti besar. Jadi jagung adalah juwawut besar. Dari istilah ini kita bisa menduga bahwa juwawut sudah lebih dulu ada di Jawa, baru kemudian jagung datang ke Jawa. Tapi kapan jagung datang ke Jawa?

Pertama-tama harus dipertanyakan apakah benar bahwa jagung baru menyebar ke Asia dan Afrika paska pelayaran Columbus ke Benua Amerika. Dengan ditemukannya pertukaran/pelayaran masyarakat Afrika dan Asia dengan Amerika Latin jauh sebelum Columbus tersasar ke Benua Amerika, maka teori ini haruslah ditolak. Jika pelayaran antara Asia/Afrika dengan Amerika Latin sudah terjadi jauh sebelum Columbus tersesat di Benua Amerika, maka harus diyakini bahwa penyebaran jagung ke Asia dan Afrika juga terjadi jauh sebelum Portugis, Inggris, Spanyol dan Belanda menjelajahi Afrika dan Asia. Nama jagung sendiri menyatakan hal tersebut.

Bukti lain bahwa jagung sudah ada di Nusantara sebelum bangsa-bangsa Eropa sampai ke Nusantara adalah banyaknya jenis jagung lokal di berbagai pulau (http://batamku.info/keragaman-genetik-jagung-indonesia-tertinggi-di-asia ). Sebagai contoh saja, di Madura kita kenal jagung unyil (kecil, tahan panas, tahan kering, tahan angin dan rasanya enak untuk dimakan). Di Tanah Toraja kita kenal jagung pondan. Di Jawa kita kenal jagung putih. Bukti ketiga adalah banyak suku di Nusantara yang makanan pokoknya adalah jagung, khususnya di NTT. Di Jawa sendiri, jagung pernah berdampingan dengan beras sebagai makanan pokok.

Singkong

Singkong atau cassava (Manihot esculenta) pertama kali dikenal di Amerika Selatan yang dikembangkan di Brasil dan Paraguay pada masa prasejarah. Potensi singkong menjadikannya sebagai bahan makanan pokok penduduk asli Amerika Selatan bagian utara, selatan Mesoamerika, dan Karibia sebelum Columbus datang ke Benua Amerika. Ketika bangsa Spanyol menaklukan daerah-daerah itu, budidaya tanaman singkong pun dilanjutkan oleh colonial Portugis dan Spanyol. Di Indonesia, singkong dari Brasil diperkenalkan oleh orang Portugis pada abad ke-16. Selanjutnya singkong ditanam secara komersial di wilayah Indonesia sekitar tahun 1810.

Kedelai

Kedelai merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak. Kedelai jenis liar Glycine ururiencis, merupakan kedelai yang menurunkan berbagai kedelai yang kita kenal sekarang (Glycine max (L) Merril). Berasal dari daerah Manshukuo (Cina Utara). Kedelai (kadang-kadang ditambah “kacang” di depan namanya) adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari Asia Timur seperti kecaptahu, dan tempe. Berdasarkan peninggalan arkeologi, tanaman ini telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur. Kedelai putih diperkenalkan ke Nusantara oleh pendatang dari Cina sejak maraknya perdagangan dengan Tiongkok, sementara kedelai hitam sudah dikenal lama orang penduduk setempat. Penghasil kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun kedelai praktis baru dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah 1910. Di Indonesia dibudidayakan mulai abad ke-17 sebagai tanaman makanan dan pupuk hijau. Penyebaran tanaman kedelai ke Indonesia berasal dari daerah Manshukuo menyebar ke daerah Mansyuria: Jepang (Asia Timur) dan ke negara-negara lain di Amerika dan Afrika. Kacang kedelai telah diperkenalkan di Jepang sekitar tahun 100 AD dan meluas ke seluruh negara-negara Asia secara pesat. Kacang kedelai dikenal di Eropa sekitar tahun 1500 AD. Pada awal abad ke 18, kacang kedelai telah ditanam secara komersial di Amerika Serikat.

Kacang Tanah

Kacang tanah, kacang una, suuk, kacang jebrol, kacang bandung, kacang tuban, kacang kole, kacang banggala (bahasa layin:Arachis hypogaea L., bahasa Inggris: peanut, groundnut) merupakan tanaman polong-polongan atau legum dari famili Fabaceae, kedua terpenting setelah kedelai di Indonesia. Kacang tanah merupakan sejenis tanaman tropika. Ia tumbuh secara perdu setinggi 30 hingga 50 cm (1 hingga 1½ kaki) dan mengeluarkan daun-daun kecil.

Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan tepatnya adalah Brazil, namun saat ini telah menyebar ke seluruh dunia yang beriklim tropis atau subtropics. Masuknya kacang tanah ke Indonesia pada abad ke-17 diperkirakan karena dibawa oleh pedagang-pedagang Spanyol,Cina,atau Portugis sewaktu melakukan pelayarannya dari Meksiko ke Maluku setelah tahun 1597. Pada tahun 1863 Holle memasukkan Kacang Tanah dari Inggris dan pada tahun 1864 Scheffer memasukkan pula Kacang Tanah dari Mesir. Republik Rakyat Cina dan India kini merupakan penghasil kacang tanah terbesar dunia.

Penduduk Nusantara mengenal kacang tanah sejak abad ke-17 ketika pedagang China membawanya sebagai komoditas dagang. Lama-kelamaan muncul teknik budi daya yang baik sehingga kacang tanah memegang peranan penting dan mendatangkan keuntungan melimpah.
Orang Jawa yang bekerja sebagai buruh harian di perkebunan milik orang China dibayar dengan upah 3 stuivers untuk 5 gantang kacang tanah (1 gantang lebih dari 3 kilogram). Hasil panen yang diolah menjadi minyak biasa diekspor ke pedalaman Jawa, dikonsumsi di Batavia, dan menyuplai kebutuhan perang. Pada tahun 1778 terdapat 51 penggilingan minyak di Batavia yang mampu mempekerjakan 600 buruh. Tiap penggilingan memproduksi 27.000 kannen atau guci tiap tahun. Budi daya kacang tanah di Indonesia terbilang berhasil. Sebanyak 70% kacang ditanam pada tegalan. Sisanya di lahan tidur bekas sawah dan tanah lempung. Kondisi itulah yang pada akhirnya menolong Batavia mengatasi kekurangan minyak pada abad ke-18. (Media Indonesia, Kacang Tanah, Kamis 9 Juli 2009).

Hasil Perkebunan

Tebu

Tebu, Saccharum officinarum L, memiliki sejarah yang panjang sebagai komoditas pertanian komersial. Tebu diperkirakan berasal dari Papua dan mulai dibudidayakan sejak tahun 8000 sebelum masehi (SM). Tanaman ini kemudian menyebar ke berbagai tempat di dunia seiring dengan migrasi manusia, menyeberangi lautan dan mengarungi daratan. Tebu dari Papua menyebar ke kepulauan Solomon, New Hebride dan Kaledonia Baru. Dua abad kemudian tebu masuk ke wilayah Indonesia tengah dan barat, Philipina, serta bagian barat India.

Di Jawa, tanaman tebu diperkirakan sudah sejak lama dibudidayakan, yaitu pada zaman Aji Saka sekitar tahun 75 M. Perantau China, I Tsing, mencatat bahwa tahun 895 M gula yang berasal dari tebu dan nira kelapa telah diperdagangkan di Nusantara. Namun, berdasarkan catatan Marcopolo hingga abad ke-12 di Jawa belum berkembang industri gula seperti yang ada di Cina dan India. Kedatangan orang Eropa, terutama orang Belanda, pada abad 17 membawa perubahan pada perkembangan tanaman tebu dan industri gula di Jawa. (www.sugarresearch.org) http://indonesiansugar.wordpress.com

Tembakau

Tembakau dengan nama ilmiahnya NICOTIANA tabacum (Nicotiana spp., L.) ialah sejenis tanaman semusim dengan ketinggian kira-kira 1.8 meter dan dengan daunnya yang melebar dan meruncing dapat mencapai sekurang-kurangnya 30 sentimeter (1 kaki). Tanaman ini berasal dari Amerika utara dan Amerika Selatan. Tembakau pada mulanya digunakan oleh orang-orang asli Amerika untuk kegunaan pengobatan.

Sejarah tembakau di Indonesia di mulai dari percobaan penanaman tembakau secara besar-besaran yang dilakukan Belanda pada tahun 1830 oleh van den bosch melalui “Cultuurstelsel” yaitu disekitar semarang, jawa tengah walaupun pada saat itu mengalami kegagalan. Pada tahun 1856, ditanam lagi secara luas di daerah besuki, Jawa Timur. Pada tahun 1910 didirikan lembaga penelitian tembakau yaitu besoekisch profstation untuk mendapatkan galur yang cocok dan diinginkan melalui seleksi/hibridisasi baik menggunakan tembakau yang telah ada maupun dengan mendatangkan jenis tembakau dari luar. Jenir tembakau cerutu yang sekarang banyak ditanam di besuki merupakan hasil persilangan antara jenis kedu dengan jenis deli (djojosudiro, 1967). Pada tahun 1858 diadakan penanaman jenis tembakau cerutu di daerah Klaten, Jawa Tengah. Pada tahun 1863, penanaman tembakau juga dilakukan di luar jawa yaitu di daerah Deli, Sumatra Utara dan dipelopor oleh J. Nienhuys. Ketiga daerah tersebut diatas ( besuki di Jawa Timur, Klaten di Jawa Tengah dan Deli di Sumatra Utara) sekarang ini merupakan daerah penghasil tembakau cerutu di Indonesia dan Indonesia adalah salah satu penghasil komoditas tembakau cerutu peringkat atas yang diperhitungkan. Di pasaran internasional tembakau Besuki dan Klaten lebih dikenal dengan tembakau Jawa dan tembakau Deli lebih dikenal dengan tembakau Sumatra.

Teh

Negeri Cina menjadi tempat lahirnya teh, disanalah pohon teh Cina (Camellia sinensis) ditemukan dan berasal. Tepatnya di provisnsi Yunnan, bagian barat daya Cina. Iklim wilayah itu tropis dan sub-tropis, dimana daerah tersebut memang secara keseluruhan adalah hutan jaman purba. Daerah demikian, yang hangat dan lembab menjadi tempat yang sangat cocok bagi tanaman teh, bahkan ada teh liar yang berumur 2,700 tahun dan selebihnya tanaman teh yang ditanam yang mencapai usia 800 tahun ditemukan ditempat ini.

Tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1684, berupa biji teh dari Jepang yang dibawa oleh seorang Jerman bernama Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta. Pada tahun 1694, seorang pendeta bernama F. Valentijn melaporkan melihat perdu teh muda berasal dari Cina tumbuh di Taman Istana Gubernur Jenderal Champuys di Jakarta. Pada tahun 1826 tanaman teh berhasil ditanam melengkapi Kebun Raya Bogor, dan pada tahun 1827 di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Berhasilnya penanaman percobaan skala besar di Wanayasa (Purwakarta) dan di Raung (Banyuwangi) membuka jalan bagi Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menaruh landasan bagi usaha perkebunan teh di Jawa. Pada tahun 1828 masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, Teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa ( Culture Stelsel ).

Kopi

Kopi di Indonesia memiliki sejarah panjang dan peran penting bagi pertumbuhan perekonomian bahkan budaya masyarakat di Indonesia. Letak geografis dan iklim Indonesia yang sangat baik untuk pertumbuhan dan produksi kopi (Jenis Arabika & Robusta) menjadikan Indonesia salah satu negara pengekspor kopi dunia saat ini. Kata “kopi” sendiri berasal dari bahasa Arab “qahwah” yang berarti kekuatan. Kata “qahwah” ini kemudian di adopsi oleh Bangsa Turki menjadi “kahveh” dan kemudian menjadi “koffie” dalam bahasa Belanda. Seiring dengan kehadiran Kolonial Belanda di Indonesia, kata ”koffie” tersebut lambat laun terserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi ”kopi”, akhirnya sampai saat ini orang Indonesia menyebutnya dengan “kopi”.

Sejarah kopi di Indonesia diduga berawal dari kisah para peziarah muslim yang kembali dari Timur Tengah membawa biji kopi ke India pada awal tahun 1600. Kemudian pada tahun 1696, seorang Gubernur Belanda di Malabar mengirimkan bibit Kopi Yemen atau Kopi Arabica tersebut kepada Gubernur Belanda di Batavia, namun bibit Arabika pertama yang dikirimkan tersebut gagal tumbuh akibat banjir hebat melanda Batavia. Kemudian pengiriman kedua dilakukan kembali pada tahun 1699. Benih Kopi Arabika dari pengiriman kedua tersebut ternyata tumbuh subur, Dan akhirnya pada tahun 1711, exsport pertama dikirim dari Jawa ke Eropa oleh Perdagangan Timur India yang dikenal sebagai VOC (Verininging Oogst-Indies Company). Dalam jangka waktu 10 tahun eksport kopi Indonesia meningkat Hingga 60 Ton per tahun, namun VOC berhasil memonopoli perdagangan kopi Indonesia sejak tahun 1725 sampai 1780.

Karet

Salah satu jenis tanaman yang banyak diusahakan di Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu adalah karet. Pohon karet para pertama kali hanya tumbuh di Amerika Selatan, namun setelah percobaan berkali-kali oleh Henry Wickham, pohon ini berhasil dikembangkan di Asia Tenggara, di mana sekarang ini tanaman ini banyak dikembangkan; sekarang Asia merupakan sumber karet alami. Jenis karet pertama yang diusahakan di Indonesia adalah karet alami Asia Tenggara (ficus elastica) yang sudah mulai ditanam sejak tahun 1860-an di berbagai perkebunan di Jawa. Karet jenis ini pada awalnya adalah tanaman karet liar yang tidak sengaja ditanami alias tumbuh secara alami di hutan di kawasan Asia Tenggara. Karet jenis ini dikenal dengan beragam nama di beberapa tempat dan daerah di Sumatera, seperti di Palembang dengan sebutan rambung dan karet batang di Bengkulu. Akan tetapi karena dianggap kurang produktif, akhirnya pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan jenis baru (Castiloa Elastica atau Hevea Brasiliensis) yang ditemukan oleh Michele de Cuneo pada tahun 1493 di Amerika Selatan. Pengalihan penanaman karet dari ficus elastica ke jenis baru (Castiloa Elastica atau Hevea Brasiliensis) yang didatangkan dari kawasan Amerika Selatan ini karena kebijakan pemerintah kolonial Belanda untuk memenuhi tingginya permintaan karet di pasaran yang salah satunya akibat makin pesatnya perkembangan industri ban

Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis) berasal dari Afrika barat, merupakan tanaman penghasil utama minyak nabati yang mempunyai produktivitas lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belandapada tahun 1848. Saat itu ada 4 batang bibit kelapa sawit yang ditanam di Kebun Raya bogor (BotanicalGarden) Bogor, dua berasal dari Bourbon (Mauritius) dan dua lainnya dari Hortus Botanicus, Amsterdam(Belanda). Awalnya tanaman kelapa sawit dibudidayakan sebagai tanaman hias, sedangkan pembudidayaan tanaman untuk tujuan komersial baru dimulai pada tahun 1911.

Cokelat

Asal usul cokelat pertama kalinya ditemukan hampir 4000 tahun yang lalu di Mesoamerika, lokasi tepatnya di Amerika tidak diketahui, tetapi dari bukti-bukti arkeologi yang ditemukan pada keramik dengan residu dari minuman kakao di situs arkeologi peradaban Mokaya dan Olmec di sepanjang sungai Orinoco. Kakao mulai di perkenalkan oleh orang-orang Spanyol ke Indonesia pada tahun 1560 di Minahasa, Sulawesi Utara.

Sumber :

- Ahmad, Rofiq. 1998. Perkebunan; Dari NES Ke PIR. Jakarta: Puspa Swara. Cetakan Pertama.

- Departemen Pertanian RI. 1989. Industri Perkebunan Besar di Indonesia. Jakarta: Deptan-PT. Alogo Sejahtera.

- Padmo, Soegijanto. 2004. ‘Perusahaan Tanaman Karet di Sumatera Timur’ dalam Bunga Rampai Sejarah Sosial-Ekonomi Indonesia. Yogyakarta: Aditya Media-Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Edisi Pertama.

- Maryoto, Andreas. 2009. Jejak Pangan: Sejarah, Silang Budaya, dan Masa Depan. Jakarta :Penerbit Buku Kompas

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: