Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Atin.s

Tinggal di Tangerag, peminat budaya dan tulisan tetang budaya

Saya dan Anak Saya: Episode Tujuh yang Istimewa

OPINI | 30 March 2013 | 18:05 Dibaca: 115   Komentar: 0   0

Karena tuntutan profesi, dengan sangat terpaksa hari ini kami pindah rumah. Pindah rumah untuk keluarga kami memang hal yang biasa, karena di mana saya ditugaskan kantor, di daerah itu pula biasanya kami boyongan.

Kali ini kami meyewa sebuah rumah di komplek perumahan yang sederhana dan agak sembunyi dari keramaian. Tadinya ketiga anak saya tidak setuju dengan pilihan saya, terutama si sulung yang tukang protes itu.

Lagi-lagi saya harus memutar otak untuk “menjual” pilihan saya kenapa saya memilih rumah itu. Kalau dilihat dari sudut keperaktisan, memang kurang peraktis rumah sewa baru saya ini. Dari jalan raya jaraknya lebih dari satu kilo meter. Udah gitu rumah ini langsung berhadapan dengan sawah yang kurang terurus karena sebenarnya itu bukan sawah, tapi semacam lahan tidur milik pengembang yang dimanfaatkan untuk bersawah oleh penduduk sekitar. Jauh dari kesan rapih dan asri layaknya sawah-sawah di pedesaan. Jalan depan rumah: aspal yang mengelupas sehingga kerikilnya menonjol yang membuat kita meringis kalau lewat tanpa alas kaki.

Nah, dimulai dari situ:

Saya coba menjual kelebihan rumah ini. Aku berkata pada mereka bahwa ini keunikannya, kita bisa melakukan “refleksi” kaki kapan pun kita mau. Cukup jalan-jalan di aspal bopeng itu kita sudah mendapatkan kesehatan.

Dan yang ini, coba lihat alamatnya: Jl. Zaitun No. 7, RT.007/RW 07. Bukan main: Tujuh, sebuah angka yang paling istimewa menurut saya. Bagaimana tidak, mari kita urutkan: Bahwa langit itu diciptakan oleh Allah sebanyak Tujuh Lapis Langit. Bumi juga demikian. Hari dibuat oleh Yang Maha Kuasa sebanyak Tujuh Hari. Manusia sebelum lahir, dalam bulan ke Tujuh, biasanya (dalam adat jawa) keluarga sang jabang bayi akan melakukan kenduri Tujuh Bulanan. Coba hitung anggota badan kita waktu sujud dalam sholat, berapa yang menyentuh tanah sebagai rasa pasrah diri kita kepada Allah: Kening, Dua telapak tangan, dua lutut, dua ujung jari kaki dan dahi. Tujuh …!

Wah, benar-benar istimewa angka tujuh itu. Belum lagi kalau dikait-kaitkan dengan bahasa kita sehari-hari, jika orang mengatakan orang itu kaya sekali, maka dia akan mengatakan: Kekayaannya tak habis Tujuh turunan. Kalau menyebut bau yang sangat tidak sedap, biasanya juga akan mengatakan: Baunya Tujuh rupa, dan lain-lain.

“Jadi kita beruntung nak, bisa menempati rumah yang syarat makna ini. NO. 7, RT 7, RW 7…. ! Se 7…. ?”

Tanpa perlawanan yang berarti, akhirnya si sulung mengangkat bendera putih. Kami serempak tertawa ….

“Ah, Bapak bisa aja.”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Endah Kreco, Kartini dari Keong Sawah …

Junanto Herdiawan | | 21 April 2014 | 07:31

Mempertanyakan Kelayakan Bus Transjakarta …

Frederika Tarigan | | 21 April 2014 | 10:22

Cara Menghadapi Lansia (Jompo) Pemarah …

Mohamad Sholeh | | 21 April 2014 | 00:56

Danau Linow Masih Mempesona …

Tri Lokon | | 21 April 2014 | 07:01

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 2 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 3 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 4 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 6 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: