Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Era Sofiyah

AKU ADALAH AKU BUKAN KAMU DIA ATAU MEREKA, KITA ADALAH SATU DAN KAMI BERSAUDARA

Ketika Kedaulatan Pancasila Ditangan Generasi Muda

REP | 29 March 2013 | 02:04 Dibaca: 238   Komentar: 0   0


lomba blog pusaka indonesia 2013

Fakta Sejarah membuktikan bahwa Pancasila tidak serta merta lahir dibumi nusantara. Butuh proses panjang,pengorbanan dan kerelaan para founding fathers dalam merumuskan Pancasila yang sejalan dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia dan dapat mewakili semua golongan. Sebagai sebuah karya luhur anak bangsa, Pancasila selayaknya ditempatkan secara terhormat dalam khazanah kehidupan berbangsa dan bernegara. Tetapi saat ini kedaulatan Pancasila terus diuji oleh derasnya nilai-nilai yang berasal dari luar sebagai dampak globalisasi yang menjauhkan bangsa ini dari falsafah Pancasila yang bermartabat. Selain globalisasi, multikurisme yang sejatinya menjadi kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya namun sekarang serasa bom waktu yang setiap saat siap meruntuhkan simpul-simpul persatuan bangsa.

Globalisasi Yang Mendunia

Kemajuan ilmu dan teknologi yang sangat pesat tidak mampu membendung arus informasi yang datang dari negara-negara lain. Arus informasi begitu cepat sekali dan sangat efektif memberi pengaruh bagi masyarakat Indonesia. Memang tidak boleh dipungkiri bahwa globasisai (yang ditandai dengan percepatan teknologi informasi) membawa efek positif pula bagi dunia. Namun, sisi negatif yang diakibatkan juga tidak lebih kecil.oleh karena globalisasi membuka ide-ide baru,maka tidak tertutup kemudian akan adanya infiltrasi ide-ide yang bertentangan dengan ideologi Pancasila. Globalisasi begitu mengguncang kedaulatan dan nyaris menghilangkan falsafah luhur pancasila dimana modernisasi dan westernisasi begitu merajai setiap lini kehidupan khususnya bagi generasi muda.

Sebagai sebuah konsensus nasional, Pancasila merupakan sebuah pandangan hidup Indonesia yang terbuka dan bersifat dinamis. Ketidakmampuan beradaptasi dengan budaya luar acap kali menempatkan bangsa tersebut ke dalam kisaran kekeringan atau kekerdilan identitas. Namun demikian, terlalu terobsesi dengan budaya luar dan pada saat yang sama mencampakkan tradisi dan nilai-nilai baik lokal berpeluang menjadikan bangsa tersebut kehilangan identitas. Akibatnya bangsa tersebut tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Sejatinya Bangsa yang besar adalah bangsa yang hidup dengan kelenturan budayanya untuk mengadaptasi unsur-unsur luar yang dianggap baik dan dapat memperkaya nilai-nilai lokal yang dimiliki.

Bhineka Tunggal Ika Dalam Konsep Multikultural

Bhinneka Tunggal Ika seperti kita pahami sebagai motto Negara, yang diangkat dari penggalan kakawin Sutasoma karya besar Mpu Tantular pada jaman Keprabonan Majapahit (abad 14) secara harfiah diartikan sebagai bercerai berai tetapi satu. Motto ini digunakan sebagai ilustrasi dari jati diri bangsa Indonesia yang secara natural, dan sosial-kultural dibangun diatas keanekaragaman. (etnis, bahasa, budaya dll). Jika dikaji secara akademis, Bhinneka Tunggal Ika tersebut dapat dipahami dalam konteks konsep generik multiculturalism atau multikulturalisme yaitu sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan.

Sebagai bangsa yang merdeka, maka bangsa Indonesia mempunyai cita-cita dan tujuan seperti termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, yakni adanya kehidupan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Kebhinnekaan budaya masyarakat Indonesia merupakan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa yang harus diterima sebagai kekayaan bangsa. Dan momentum Sumpah Pemuda merupakan titik tonggak kebangkitan nasional Indonesia. Momentum Sumpah Pemuda yang terdiri dari seluruh elemen bangsa telah mengikat diri dalam ikrar bersama. Seluruh elemen bangsa menyatakan ikrar bersama: bertanah air satu (tanah air Indonesia), berbangsa satu (bangsa Indonesia) dan berbahasa satu (bahasa Indonesia).

Namun pada kenyataannya, meski sudah ada konsep dan perwujudan mengenai multikulturalisme sejak lama, serta memiliki sebuah common platform, yakni Pancasila, yang mengandung cita-cita untuk mempersatukan keberagaman Indonesia, persoalan konflik antar suku, pertikaian antar agama, dan merosotnya penghargaan terhadap budaya orang lain masih terjadi di Indonesia. Pada akhirnya konflik yang berkepanjangan hanya akan memudahkan bangsa lain memecah persatuan bangsa lalu menguasai berbagai aset bangsa termasuk budaya adi luhung yang ternilai harganya. Maka dibutuhkan pendewasaan perilaku sosial dan kematangan budaya masyarakat dalam memecahkan berbagai persoalan krusial sekaligus mengembangkan jati diri sebagai bangsa yang berperadaban utama dan membangun pandangan-pandangan baru yang lebih konstruktif dalam meredam konflik dan mengembangkan perdamaian toleransi ditengah kemajemukan bangsa.

Generasi Muda dan Kedaulatan Pancasila

Sebagai, ujung tombak dan kelak menjadi pewaris bangsa, sudah seharusnya generasi muda menyikapi globalisasi dan multukurisme secara cerdas berdasarkan falsafah Pancasila yang merumuskan semangat serta identitas bangsa yang berkepribadian luhur

Cerdas secara mental-moral : Pilar agama sebagai perwujudan sila pertama Pancasila menjadi hal paling utama agar generasi muda teguh dan kuat secara mental dan moral ditengah gempuran arus globalisasi serta tidak mudah terprovokasi oleh ajaran-ajaran sesat dan menyesatkan yang hendak merubah ideologi Pancasila dan memecah persatuan bangsa

Cerdas secara budaya ; Mau belajar dan menghargai budaya asing jika sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan kepribadian bangsa serta tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku dimasyarakat dengan tetap merawat dan menjaga budaya milik bangsa, Dengan menggali dan mengenali budaya luar pada akhirnya dapat membuka kran pergaulan internasional (global) dan Indonesia semakin dikenal sebagai bangsa yang bermartabat namun tetap menjunjung tinggi nilai toleransi Pancasila sebagai sebuah pandangan hidup bangsa Indonesia yang terbuka dan bersifat dinamis.

Cerdas secara intelektual: Globalisasi mengharuskan generasi muda tidak hanya memiliki kapasitas intelektual sejalan dengan amanat UUD 45 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun disisi lain generasi muda harus bisa beradaptasi dengan kemajuan tekhnologi sebagai bagian dalam mewujudkan perabadan bangsa yang bermartabat serta tidak tertinggal dari negara-negara lain. Semisal, pemanfaatan internet secara sehat yang bermakna menyelaraskan tekhnologi demi kepentingan keilmuan dan perkembangan informasi yang kian pesat dengan tetap mengedepankan etika dan moral sehingga tidak terjebak dalam pusaran tekhnologi yang justeru menjerumuskan generasi muda kedalam praktek asusila, pornografi atau pergaulan dunia maya yang tak terkendali serta perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila, hukum negara maupun agama.

Sudah saatnya bangsa Indonesia khususnya generasi muda kembali kepada khittahnya, menjadikan kedaulatan Pancasila bukan sekedar wacana dan ideologi kosong, namun sanggup memaknai dan mengejahwantahkan rumusan pancasila sebagai ruh kepribadian dalam kehidupan berbangsa dan negara. Menjadikan globalisasi sebagai pintu bagi kemajuan bangsa serta menyikapi setiap perbedaan dalam bingkai keharmonisan tanpa harus kehilangan jati diri.


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Di Pemukiman Ini Warga Tidak Perlu Mengunci …

Widiyabuana Slay | | 01 August 2014 | 04:59

Jadilah Muda yang Smart! …

Seneng Utami | | 01 August 2014 | 03:56

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 11 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 15 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 19 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 23 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 24 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: