Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Marfuah Latief

Salam silaturahim. (^_^.)

Ritual Rambut Gimbal di Negeri Kahyangan

REP | 28 March 2013 | 20:13 Dibaca: 27   Komentar: 0   0

“Ayamnya mau aku rawat,” kata salah satu anak berambut gimbal setelah rambutnya dipotong. Ada beberapa permintaan yang harus dipenuhi oleh orang tua si anak berambut gimbal. Seperti Nur Hikmat ini, ia meminta bakso dan satu ekor ayam jago sebagai barang permintaan anak gimbal sebelum dipotong rambutnya.

Langit biru, matahari, dan candi menjadi latar penyelenggaraan ritual pemotongan rambut gimbal dalam acara Dieng Culture Festival 2012 yang di laksanakan pada Juni tahun lalu itu. Di luar adanya kepercayaan warga Dieng, tak hanya tanaman kentang yang terhampar, alam yang dilukiskan oleh Sang Maha Agung juga memang indah. Menjadikan pesona Dieng memang nampak seperti Negeri Kahyangan.

Doa dirapal oleh pemangku adat. Satu persatu anak berambut gimbal dipotong rambutnya di depan candi. Tidak seperti rambut anak kebanyakan, sejumlah anak di Dieng, rambut mereka kusut dan menggimbal. Menurut cerita, saat mulai tumbuh menggimbal disertai panas demam tinggi. Secara medis penyebab rambut gimbal belum diketahui pasti.

Tak hanya bakso dan ayam. Anak gimbal yang lain ada juga yang meminta satu cincin emas, domba, sepeda, susu, permen dan juga uang seribu rupiah. Warga Dieng percaya gimbal dianggap sebagai bala, sehingga perlu dilakukan upacara ruwat setelah anak gimbal meminta permintaan langsung kepada orang tuanya yang harus dikabulkan. Hal ini dilakukan agar rambut gimbal tidak tumbuh kembali.

Konon, anak berambut gimbal merupakan titipan ratu pantai selatan, titisan dari Eyang Agung Kala Dete dan Nini Ronce Kala Penye yang dipercaya sebagai leluhur Dataran Tinggi Dieng.

Asal kata Dieng, bahasa kawi yaitu “di” yang berarti gunung dan “Hyang” yang berarti dewa. Gunung para Dewa. Secara Administratif, Dieng  terbagi menjadi dua wilayah Kabupaten di Propinsi Jawa Tengah. Dieng Kulon masuk dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara, sementara Dieng Wetan masuk wilayah Kabupaten Wonosobo.

Acara Festival Budaya Dieng ini pada setiap tahun penyelenggaraan, tak hanya warga sekitar yang berbondong hadir menyaksikan namun, tampak juga wisatawan dari luar Dieng, bahkan dari luar negeri. Alunan musik kesenian setempat. Pementasan seni budaya warga sekitar kawasan candi seperti pencak silat tradisional, tari-tarian, dan pementasan calung atau tektek -marcing band dengan alat tradisional seperti bambu dan drum juga meramaikan acara ini. Semuanya nampak berbahagia dengan anugrah yang keindahan yang diberikan Tuhan, di Negeri Kahyangan. ***

13644763101274952204

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

BBM Naik Kenapa Takut? …

Mike Reyssent | | 30 August 2014 | 00:43

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | | 30 August 2014 | 04:53

Jokowi-JK Berhentilah Berharap Tambahan …

Win Winarto | | 29 August 2014 | 22:16

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 11 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 11 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 15 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 18 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

London in a Day on Foot …

Fillia Damai R | 10 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 10 jam lalu

Mengintip Sekelumit Catatan Umar Kayam …

G | 10 jam lalu

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | 11 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: