Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ahmad Hilmi

Saya saat ini mengabdi di sebuah pensanten modern di bilangan Prambanan, Yokyakarta. Bagi teman-teman yang selengkapnya

Mertua Vs Menantu

OPINI | 27 March 2013 | 22:01 Dibaca: 1065   Komentar: 0   0

Mertua Vs Menantu

“loh mbak, sampean kok betah sih hidup sama mert?!” itu pertanyaan untuk yang berstatus mantu.

Atau dalam pertanyaan lain yang ditujukan kepada  mertua; “budhe, panjenengan kok bisa sih rukun dengan mantu?!”

Dua pertanyaan diatas hanyalah contoh kecil dari sikap gumun (heran) yang muncul ketika ada mantu dan mertua rukun, harmonis dan tanpa ada konflik yang berarti.

Memang dalam masyarakat kita, menantu hidup serumah dengan mertua merupakan hal yang sangat diantipati alias jangan sampai terjadi. Pun sebaliknya, seorang mertua tidak akan  mau kalau menantunya numpang hidup satu atap dengannya. Nah, keadaan tidak “campurannya” menantu dan mertua terjadi hampir disetiap keluarga. Bagaikan air dan minyak.  Tentu dengan pelbagai alasan, baik dari pihah menantu maupun mertua.

Alasan sederhana yang muncul dari pihak mantu “biasanya” tidak akan jauh dari alasan rasa takut kepada mertua: takut gak bisa bantu kesibukan, takut salah  bertindak dan yang terakhir adalah takut dimarah. Waduh…. emang  sekejam itukah sosok mertua? Seseram harimaukah? Sampai-sampai setiap mantu harus menjadikan mertua sebagai bahan petakut. Takut yang muncul hasil dari bisik-bisik tetangga dengan menanamkan “imej” kalau mertua itu sangat menakutkan kan bertindak seenakknya terdadap mantu.

Wah wah wah… pemahaman yang benar-benar bisa merusak keharmonisan hubungan mantu dan mertua ni. hehe

Atau sebaliknya, Kalau bener terjadi ada seorang mertua yang jahat kepada mantunya, berbuat sewenang- wenang, tidak menghargai usaha mantu, ini bagian dari hal bodoh yang dilakukan mertua. Justu sebaliknya, mertua itu seharusnya banyak terima kasih kepada mantuya. Loh kok bisa??

Mari kita renungkan bersama. Karena mantulah anaknya bisa bahagia. Karena mantulah, dia punya “segudang” cucu. Dan karena mantu jugalah rumah jadi ramai dari yang sebelumnya sunyi.

Pertanyaannya sekarang adalah mungkinkah antara mantu dan mertua bisa tidak terjadi konflik?

Jawabannya tentu tidak ada.

Lha wong sama anak sendiri saja bisa berseteru, apalagi sama anak orang yang bersetatus mantu.

Lha wong sama orang tua kandung saja bisa terjadi perselisihan, apalagi sama orang lain yang berstatus mertua.

Jadi. . Tidak ada mantu dan mertua yang luput dari konflik. Hanya permasalahannya adalah bagaimana cara menyikap konflik tersebut.

Yang harusnya dilakukan adalah seorang mertua menganggap mantu seperti anak sendiri dan sebaliknya, seorang mantu yang bisa memposisikan mertua seperti orang tuanya sendiri.

So, kalau anda menanntu, maka jadilah matu yang bisa ngalah.

kalau anda mertua, maka janganlah jadi mertua yang mau menang sendiri.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: