Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ahmad Hilmi

Saya saat ini mengabdi di sebuah pensanten modern di bilangan Prambanan, Yokyakarta. Bagi teman-teman yang selengkapnya

Rok Mini Yang Menggodaku

OPINI | 28 March 2013 | 01:47 Dibaca: 71   Komentar: 0   0

Akhir-akhir ini pelbagai media sering mengangkat tema tentang pelecehan seksual terhadap wanita, terutama ditempat umum.

Sebagai makhluk sosial, tentu ketika kita menyaksikan, membaca peristiwa semacam ini bulu kuduk kita akan berdiri. Ya. Efek dari perasaan merinding sambil sedikit mebayangkan kalau itu terjadi pada keluarga kita, atau orang-orang terdekar kita atau bahkan terjadi pada diri anda sebagai wanita.

Kata musibah, petaka atau kata yang semisalnya  adalah kata yang paling tepat kita gunakan sebagai komentar pertama ketika mendengar berita semacam itu.

Salah siapa??

Ketika terjadi kasus semacam ini, saya yakin semua pandangan akan tertuju kepada si pelaku. Tentu laki-laki/ pria palakunya.  Kalau biasnya menunjuk sesuatu dengan satu jari telunjuk, kali ini  semua jari diajak rame-rame untuk menunjuk hidung si pelaku. Ya alih-alih sebagai reaksi kekesalan semua pihak atas perbutannya tersebut.

Saya sebagai orang yang yang sedang belajar menerapkan moral, tentu akan turut “gregetan” juga dengan perilaku semacam ini. Sama seperti kebanyakan orang. Akan tetapi antar saya dan kebanyakan orang punya sedikit perbedaan ketika menghakimi si pelaku.

Kita sepakat kalau si pelaku pemerkosaan itu adalah pihak yang “jelas dan nyata salahnya” dan tidah bisa dibenarkan. Tapi apakah si pelaku itu saja satu-satunya pihak yang harus disalahkan?

Dalam kasus seperti ini pasti ada pelaku dan korban. Dan kalau kita mau melihat dengan jeli, ternyata pelaku itu mepunyai tingkatan dan yang “katanya” korbanpun punya tingkatan.

Loh kok bisa??

Pertama: ada memang laki-lak yang mempunyai kecenderungan terhadap perilaku seks yang menyimpang. Setiap wanita yang melintas didepan matanya bisa dia “telanjangi” dengan pandangan nafsu birahinya. Tatapanya terhadap wanita sangat liar. Orang semacam ini tidak pandang bulu. Baik wanita yang dihadapannya  itu berpakaian rapi atau pun tidak. Semua sama.

Ibarat seorang pengendara yang ugal-ugalan, dia bisa mencelakai setiap orang yang didekatnya. Orang yang berjalan dengan hati-hati dan dijalur yang benarpun bisa tertabrak olehnya. Apalagi mereka yang juga ikut ugal-ugalan.

Laki-laki seperti inilah yang pantas kita jadikan sebagai pelaku kejahatan tunggal.

Kedua: pria yang kedua ini sebenarnya punya sikap yang hati-hati, terlebih kepada lawan jenisnya. Tapi kehati-hatiaanya ini belum tentu bisa menjaminnya selamat dari berbuat menyimpang. Faktor pedorong yang paling kuat adalah kesempatan.

Kembali kepada sikap pengendara. Kali ini si pengendara sudah  hati-hati . prosedur keselamatan lalulintas sudah dia terapkan, tapi tiba-tiba ada penyebrang jalan yang “slonong boy”, asal nyebrang tanpa tengok kanan kiri atau malah si penyebrang ini punya aksi ugal-ugalan juga.

Lantas bagaimana penilaian kita kepada pengendara ini?? Tentu kita tidak bisa menjadikan si pengendara sebagai tumpuan tunggal kesalahan atas kecelakaan ini. Kalau kita mau cari kambing hitam, dua-duanya salah. yang menabrak dan yang ditabrak.

Kemudian sekarang kita tengok si wanita yang sering kali “mengaku” sebagai korban.

Ok, secara kasat mata si wanita adalah korban. Sssssssstttt, tapi jangan terburu-buru melakukan pembelaan terhadap dia. Boleh jadi si wanita itu sendirilah yang sengaja membuat kesempatan. Karena yang mengaku sebagai korban pemerkosaan pun beragam.

Pertama: sama seperti laki-laki pertama yang punya perilaku seks yang menyimpang, wanita pun ada. Kecenderungan untuk menggoda laki-laki dalam beberapa kesempatan sering dia lakukan. Masuk dalam antrian laki-kali dengan pakain yang “aduhai” menjadi kebiasaannya. Bahkan ketika ditegur dia akan menjawab dngan argumen yang kuat: “Loh inikan bukan area khusus laki-laki, jadi wanita boleh dong nimbrung. yang ada juga area khusus wanita.” Glegg

Bahkan terkadang si wanita ini inilah yang membuat kesempatan terjadinya perilaku menyimpang. Bukan hanya laki-laki “berotak mesum” saja yang terjebak dalam godaannya, bahkan laki-laki yang notebenenya “berhati-hatipun” ikut tergiur.

Agaknya wanita seperti ini butuh pelajaran moral tambahan.

Kedua: wanita yang kedua ini selalu berhati-hati dalam setiap gerak-geriknya: pakaian rapi, menjaga pergaulan serta pandangan.

Lantas apakah dia dijamin akan selamat jadi “korban” laki-laki.?? Jawabannya belum tentu. Tapi peluang dia untuk selamat lebih besar.

Nah, kalau ada wanita suci seperti ini yang menjadi korban, maka dialah wanita yang WAJIB kita bela. Karena murni pihak laki-lakilah yang salah dan pantas disalahkan.

Hubungan antara kasus pelecehan seksual dengan pakaian mini

Saya masih ingat betul dengan berita yang mengangkat pernyataan sekaligus anjuran mantan Gubernur Jakarta pak Fauzi Bowo ketika melarang wanita memakai rok mini di area publik. Tempat umum. Sontak semua pihak yang mengatasnamakan dirinya sebagai “pembela kaum wanita” merasa kebakaran jenggot. Mereka merespon pernyataan pak Fauzi Bowo ini sebagai sesuatu yang menyakikan bagi wanita.

Tidak ketinggalan juga Komisioner Komnas Perempuan, Neng Dara Affiah,  yang  juga ikut “sakit hati” berdalih tidak ada hubungannya kasus pemerkosaan dengan rok mini.

Saya mengira dan bahkan yakin betul kalau ada orang yang menolah pernyataan “ada hubungan erat rok mini dan kasus pemerkosaan” mereka adalah orang yang sudah mati rasa. Mereka orang-orang sakit.

Kenapa saya katakan mati rasa??

Jelas, karena tubuh wanita juga bagian dari faktor yang bisa menarik laki-laki. Tentu  ini hanya boleh dilakukan oleh pasanyan yang sah.

HAM (hak asasi manusia) dijadikan senjata andalan

Dalam banyak kasus, HAM selalu dijadikan modal pembelaan dan pembenaran setiap perbuatan.  Seakan setiap tindakan dan eksrpesi boleh dilakukan dengan “stempel” HAM. Kalau kita pinjam bahasanya anak Alay hari ini ketika ditegur masalah pakaian mininya jawaban yang akan keluar seperti ini: “baju, baju siapa? badan, badan siapa? MASALAH buat lo?”

Pemuja HAM sama persis seperti anak Alay. Seakan mereka adalah pihak yang paling faham tentang HAK. Padahal sejatinya mereka buta tentang hak. Kok bisa?? Ya iya lah.

Bukankah hak setiap mata manusia bisa melihat sesuatu yag baik dan sopan. Dengan adanya pengguna pakaian mini pemilik mata jadi hilang haknya untuk melihat hal yang baik dan sopan.

Mengagungkan hak pribadinya dengan mengorbankan hak orang lain.

Agama saya “ISLAM” ketika merespon masalah ini

Manusia diciptaka oleh Allah subhanahu wata’ala berpasang-pasangan. Tentu salah satu tujuannya adalah agar ada ketertarikan satu sama lain. Ada rasa saling membutuhkan.

Tapi apakah ketertarikan antara laki-laki dan perempuan dibiarkan begitu saja tanpa sparator? Tentu tidak. Semua ada jalurnya, semua aja caranya. Tidak seenaknya sendiri.

Dalam sebuah ayat Allah berfirman:

30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.

31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS.An Nur;30-31)

Ayat diatas merupaka solusi jitu bagi kita yang peduli atas maraknya perilaku seksual yang menyimpang serta sebagai tameng agar tidak lagi terjadi ditengah-tengah kita. MENJAGA PANDANGAN DAN MENUTUP RAPAT AURAT BAGI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN.

Sebagai wanita jangan mudah tersinggunng dan sakit hati ketika ada solusi yang membangun moral. Kita antisipasi bersama perilaku menyimpang ini; karena kasus ini merupakan tanggung jawab kita bersama jadi butuh kerja sama yang solid sebagai upaya pencegahan.

Oleh: Ahmad Hilmi

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 10 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 10 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 12 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 17 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 11 jam lalu

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak …

Wahyu Indra Sukma | 11 jam lalu

Gerakan Desa Membangun: Sebuah Paradigma …

Yulio Victory | 11 jam lalu

Berbagai Pandangan “Era Baru Polri Dibawah …

Imam Kodri | 11 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: