Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Muhammad Armand

Universitas Sultan Hasanuddin Makassar-Sulsel-Mandar-Sunni

RUU Santet, Sindiran untuk Kyai

HL | 24 March 2013 | 13:02 Dibaca: 1722   Komentar: 88   20

1364094611639471290

Ilustrasi/Admin (kompas.com)

Saya terlahir dari kampung ilmu hitam. Etnik saya, Mandar. Etnik mayoritas di Sulawesi Barat. Istilah santet di kampung saya disebut ‘guna-guna’. Bahasa lokalnya adalah DOTI. Korbannya tidak sedikit, bahkan pesepakbola pun rawan ‘guna-guna’, tetangga saya yang striker GASLAM (Gabungan Sepakbola Lampa), Polmas, mati mendadak di lapangan hijau. Setelah mencetak gol ke gawang lawan, ia tiba-tiba histeris lain-lain, bukan histeris merayakan gol. Almarhum, striker lincah versi kampung saya, mengakhiri hidupnya dengan mulut berbusa-busa, pertandingan pun dihentikan. Itulah gol terakhirnya sebelum jenazahnya dipulangkan ke rumah orangtuanya.

Trauma dengan peristiwa itu, ayah saya mengajariku ilmu putih (sholat yang benar, dzikir, dan lain-lain) sebagai pencegah dan penangkis ilmu hitam yang marak di kampung saya. Mungkin ayah saya ketakutan jika anak manisnya ini meninggal karena guna-guna…hahaha.

Di kampung saya, orang-orang sering kena guna-guna adalah perempuan, pejabat, orang kaya, pemain bola, joki pacuan kuda, orang pemberani/jagoan. Bahkan wafatnya Baharuddin Lopa ditengarai ulah santet dari kampung saya sendiri. Di kampung saya, korban guna-guna jelas, tapi pelakunya tidak jelas. Hanya menduga-duga, mereka-reka, dan mereka berkata: “Mungkin Si A atau Si B pelakunya”.

Di kampung saya (atau mungkin kampung lain di tanah air ini), tidak boleh sembarang makan. Sebab media efektif mengaktifkan guna-guna adalah makanan dan minuman. Ayah sayapun pernah jadi korban lewat cara ini, lauknya ikan terbang (tuing-tuing, bahasa Mandarnya), kabarnya tuing-tuing ini telah dimantra oleh seseorang. Ayah saya melahapnya karena ia memang pengganrung ikan kebanggaan warga Mandar ini. Ayah saya terkapar, tindakan medis tidak mempan menangani ‘penyakitnya’.

Pelakunya saat itu, tidak pernah terungkap. Masyarakat hanya menduga-duga bahwa ada orang yang iri kepada ayah saya. Ayah saya Ketua Kelompok Tani “Massanra” seumur hidup, memiliki tiga traktor KUBOTA, sebuah rumah panggung yang besar untuk ukuran di kampung saya, kepemilikan sawah terluas versi kampung saya, menyekolahkan ke delapan anak-anaknya. Sebuah prestasi yang keluar dari kebiasaan di kampung saya. Ayah saya melakukannya semua dari titik NOL, ’sepuluh jari’ dan atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa hingga ayah saya menjadi ‘orang kaya’ di kampung saya. Tahun, 1977, saya sering dijuluki teman-teman SD: “Anak orang kaya datang”.  Kaya dari Hong Kong…. Hahaha

* * *

Saya tuliskan artikel ini, semata-mata karena sayapun resah atas momok santet, guna-guna, doti, ilmu hitam dan turunannya. Di kampung saya, korban-korban yang diduga karena guna-guna, korbannya dilarikan ke Kyai atau dukun. Kyai ataupun uztad, relatif dapat menyembuhkannya.

Yang belum sembuh di kampung saya adalah motif warga masih berlanjut menggunakan doti, walau mereka mengaku ber-Tuhan Maha Satu. Tapi, mereka masih juga menggunakan jasa syaitan dan jin untuk mewujudkan keinginannya, keinginan yang mematikan. Ini fasik, ini syirik. Nyatanya lagi, saya saksikan sendiri, bagaimana sebuah Al-Qur’an dirobek ayat tertentu dan dimasukkan di dompet untuk dijadikan jima’-jima’, bahkan ada yang membakarnya, memasukkan ke gelas, kemudian diminum agar terpenuhi ilmu kanuragan, ilmu kelaki-lakian dan ilmu sok jagoan kampung.

Jauh sebelum orang ‘Barat’ merobek-robek dan membakar Al-Qur’an, orang di kampung saya telah lama melakukannya. So, siapakah sebenarnya yang melecehkan Al-Qur’an?.  Ini ‘kelalaian’ Kyai, uztad. Dan RUU Santet, RUU Doti, RUU Black Magic dan sebagainya adalah sindiran untuk pemuka agama. Bahwa menduakan Tuhan itu masih berlangsung sampai detik ini. Ini soal tauhid, soal serius untuk kita semua, yang tidak hanya asyik berdebat tentang bagaimanakah hukumnya membunyikan suara adzan di handphone, halal-haramnya mengucapkan perayaan agama lain, dan cara imam membaca Al-Fatiha, pakai bismillah atau nggak?. Wallahu a’lam bissawab^^^

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Agus si Penjual Pulsa Keliling Dari Jepara …

Marken Nainggolan | | 03 March 2015 | 21:08

Perang Saudara di Irak Beralih ke Tikrit …

Dasman Djamaluddin | | 03 March 2015 | 21:19

Kompetisi Sepakbola Indonesia dan Teori …

Leonardi | | 03 March 2015 | 23:18

Batukaru, tentang Mendaki yang Mencoba …

Endah Lestariati | | 03 March 2015 | 17:51

“Saatnya Berpesta”, Celoteh Burung Nazar …

Akhmad Fauzi | | 03 March 2015 | 22:36


TRENDING ARTICLES

Komentar Yuddy dan Romli Asal Bunyi …

Hendra Budiman | 6 jam lalu

Soal Beras, Jokowi Kamu Ngapain Aja, Sih? …

Edy Mulyadi | 6 jam lalu

Walikota Jerman Tak Harus Duduk di Depan …

Gaganawati | 9 jam lalu

Koh Ahok, Kasihanilah Mereka …

Choiron | 11 jam lalu

Sukhoi Melintas Rendah di Kawasan Malioboro …

Sigit Priyadi | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: