Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sumiarti Haryanto

Ibu 4 anak, bekerja, suka bercanda

Pengalaman Kena Santet

OPINI | 24 March 2013 | 15:20 Dibaca: 648   Komentar: 0   1

Topik tentang SANTET selalu menarik perhatian saya, meski saya adalah orang yang sangat awam dan sama sekali tidak tahu  dunia per-SANTET-an. Namun, beberapa kali saya bertemu dengan orang yang “katanya kena santet”. “Katanya” maksudnya  kata seseorang yang memiliki pengetahuan tentang ilmu santet atau ilmu supranatural lainnya. Beberapa pengalaman teman yang “katanya” kena santet:

- Ada  seorang suami,  katanya dia diguna-guna oleh seorang perempuan –yang kebetulan mantan pacarnya– sehingga dia lupa anak dan istrinya. Setiap hari, dosis santetnya semakin bertambah. Media yang digunakan adalah telepon genggam (handphone). Setiap kali menerima sms atau telpun dari pelaku, dia seperti orang linglung dan bingung; dia selalu menyebut nama mantan pacarnya itu… Dia tidak lagi mengenai anak, istri atau keluarganya.

- Ada seorang teman yang merasa selalu diganggu oleh makhluk-makhluk aneh dan menakutkan. Makhluk-makhluk itu selalu muncul, khususnya di malam hari dan membuatnya tidak nyaman berada di rumahnya. Seorang “pintar’ mengatakan bahwa ada orang yang iri dan tidak senang dengan kehidupannya yang serba nyaman sehingga ingin membuatnya “stress” dan tidak tenang.

- Ada seorang teman yang mengalami sakit kepala dan pusing yang tak tertahankan. Namun, setelah diperiksa dokter, tidak terdeteksi penyakitnya. Akhirnya, ada seseorang yang menyarankan agar dia datang kepada seorang ahli supranatural. Ternyata, setelah melakukan beberapa ritual dan doa, ditemukan ada jarum dan potongan cutter tertancap di kepalanya…

- Ada seorang teman yang mengalami sakit di bagian punggung dan lehernya. Dokter juga tidak dapat mendeteksi penyakitnya. Hasil test laboratorium menyatakan semua baik dan normal. Akhirnya, dia menemui seorang Kyai. Yang mengejutkan, sang Kyai mengeluarkan beberapa  binatang kecil dan berbulu dari punggung dan lehernya…

Antara percaya dan tidak percaya. Namun, sejak itu, saya pun menyadari bahwa ada “dunia lain” yang tidak saya ketahui. Dunia yang menurut saya irrasional, tidak empiris dan serba abstrak. Mungkin itu sejenis santet, guna-guna atau apalah namanya. Realitanya, meskipun Santet adalah “ilmu” yang dianggap tidak rasional, namun “ilmu santet” sangat dikenal dan dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Kalau sekarang akan ada RUU SANTET (dan kalau benar-benar disyahkan akan menjadi  Undang-Undang tentang santet), apakah nanti akan dibentuk KOMISI SANTET INDONESIA? Atau akan dibuka lowongan POLISI, HAKIM, JAKSA, PENGACARA, dkk yang merupakan AHLI SANTET? Entahlah…

– Semoga, Allah melindungi saya dan Anda dari kejahatan santet….

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menengok Harga BBM dan Cara …

Tjiptadinata Effend... | | 28 August 2014 | 18:04

BBM Menguji Dua Kapasitas Kepemimpinan …

Jusman Dalle | | 28 August 2014 | 15:41

Foto Dicuri, Om Dedes Descodes Ngetop …

Widianto.h Didiet | | 28 August 2014 | 17:02

Masih Soal Final Piala Dunia 2014 …

Ahmad Khadafi | | 28 August 2014 | 16:28

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Mafia Migas dibalik Isyu BBM …

Hendra Budiman | 7 jam lalu

Pelecehan Seksual pun Terjadi Pada Pria di …

Nyayu Fatimah Zahro... | 13 jam lalu

Jokowi dan “Jebakan Batman” SBY …

Mania Telo | 13 jam lalu

Kota Jogja Terhina Gara-gara Florence …

Iswanto Junior | 16 jam lalu

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 20 jam lalu


HIGHLIGHT

Florence: di Mana Bumi Dipijak di Situ …

Ifani | 9 jam lalu

Hitam Putih Kopi Hitam …

Ibnu Hasan Sadeli | 9 jam lalu

Membangun ‘Candu’ Budaya …

Irman Syah | 9 jam lalu

Bahasa Asing Bisa Menambah Kecerdasan Anak …

Seneng Utami | 10 jam lalu

Festival Film Indonesia 2014 …

Wurry Parluten | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: