Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sumiarti Haryanto

Ibu 4 anak, bekerja, suka bercanda

Pengalaman Kena Santet

OPINI | 24 March 2013 | 15:20 Dibaca: 665   Komentar: 0   1

Topik tentang SANTET selalu menarik perhatian saya, meski saya adalah orang yang sangat awam dan sama sekali tidak tahu  dunia per-SANTET-an. Namun, beberapa kali saya bertemu dengan orang yang “katanya kena santet”. “Katanya” maksudnya  kata seseorang yang memiliki pengetahuan tentang ilmu santet atau ilmu supranatural lainnya. Beberapa pengalaman teman yang “katanya” kena santet:

- Ada  seorang suami,  katanya dia diguna-guna oleh seorang perempuan –yang kebetulan mantan pacarnya– sehingga dia lupa anak dan istrinya. Setiap hari, dosis santetnya semakin bertambah. Media yang digunakan adalah telepon genggam (handphone). Setiap kali menerima sms atau telpun dari pelaku, dia seperti orang linglung dan bingung; dia selalu menyebut nama mantan pacarnya itu… Dia tidak lagi mengenai anak, istri atau keluarganya.

- Ada seorang teman yang merasa selalu diganggu oleh makhluk-makhluk aneh dan menakutkan. Makhluk-makhluk itu selalu muncul, khususnya di malam hari dan membuatnya tidak nyaman berada di rumahnya. Seorang “pintar’ mengatakan bahwa ada orang yang iri dan tidak senang dengan kehidupannya yang serba nyaman sehingga ingin membuatnya “stress” dan tidak tenang.

- Ada seorang teman yang mengalami sakit kepala dan pusing yang tak tertahankan. Namun, setelah diperiksa dokter, tidak terdeteksi penyakitnya. Akhirnya, ada seseorang yang menyarankan agar dia datang kepada seorang ahli supranatural. Ternyata, setelah melakukan beberapa ritual dan doa, ditemukan ada jarum dan potongan cutter tertancap di kepalanya…

- Ada seorang teman yang mengalami sakit di bagian punggung dan lehernya. Dokter juga tidak dapat mendeteksi penyakitnya. Hasil test laboratorium menyatakan semua baik dan normal. Akhirnya, dia menemui seorang Kyai. Yang mengejutkan, sang Kyai mengeluarkan beberapa  binatang kecil dan berbulu dari punggung dan lehernya…

Antara percaya dan tidak percaya. Namun, sejak itu, saya pun menyadari bahwa ada “dunia lain” yang tidak saya ketahui. Dunia yang menurut saya irrasional, tidak empiris dan serba abstrak. Mungkin itu sejenis santet, guna-guna atau apalah namanya. Realitanya, meskipun Santet adalah “ilmu” yang dianggap tidak rasional, namun “ilmu santet” sangat dikenal dan dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Kalau sekarang akan ada RUU SANTET (dan kalau benar-benar disyahkan akan menjadi  Undang-Undang tentang santet), apakah nanti akan dibentuk KOMISI SANTET INDONESIA? Atau akan dibuka lowongan POLISI, HAKIM, JAKSA, PENGACARA, dkk yang merupakan AHLI SANTET? Entahlah…

– Semoga, Allah melindungi saya dan Anda dari kejahatan santet….

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 10 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 13 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 14 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

“Sakitnya Tuh di Sini” versus …

Wahyudi Kaha | 7 jam lalu

Foto Foto Ini Bukti Kompasianival Ujud Nyata …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Cerpen : Pak Guru dan Bros Bunga November …

Didik Sedyadi | 8 jam lalu

Kompasianer dan Tantangannya (ke Depan) …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Dimanakah Guru Tanpa Tanda Jasa Itu Kini? …

Trisni Atmawati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: