Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Lalan Rupawan

tulis aja mikir belakangan

Merokok di Tempat Umum, Kedermawanan Vs Kedzaliman

OPINI | 24 March 2013 | 07:41 Dibaca: 320   Komentar: 0   0

Beberapa diantara kita mungkin merasa punya hak untuk merokok di mana saja , toh rokok kita yang beli dan udarapun tak ada yang punya , tak peduli di angkutan umum , ruang tunggu terminal atau dimana saja selalu kita temui orang orang dermawan dengan rokok menyala sedangkan di sekitarnya para manula , ibu hamil dan balita mereka bagi pula dengan rata uang yang mereka konversikan dengan nikotin . Mereka betul betul dermawan , berderma tanpa pilih pilih penerima .

Ketika kepulan asap dari mulut perokok itu memenuhi ruangan maka serta merta hak para manula , para ibu hamil dan balita terampas dan rasa keadilan terusik , tapi mereka adalah makhluk lemah yang hanya bisa menutup hidung atau sekedar melambaikan telapak tangan di depan hidung sebagai pertanda mereka menolak pemberian sang dermawan .

Sang dermawan akan terus berderma membagikan nikotin kepada setiap orang , meracuni setiap jantung , mengotori setiap paru paru , menutup paksa setiap hidung . Merampas hak semua hidung , semua paru paru dan jantung untuk mendapat udara bersih tanpa nikotin . Dan masih saja mereka memberi alasan pembenaran atas kedzaliman mereka bahwa berhenti merokok itu sulit , seakan akan mereka menempatkan diri mereka sebagai korban keterpaksaan , seakan akan ada yang memaksa mereka menjadi perokok lalu memohon pemakluman orang lain atas atas keterpaksaan itu.

Jika memang sebegitu sulit untuk berhenti meracuni diri dengan merokok , apakah sesulit itu juga berhenti meracuni orang lain dengan merokok di tempat umum , kenapa tak cari tempat lain , kenapa tak coba tahan sebentar keinginan untuk mendzalimi diri itu , toh para manula , para ibu hamil dan balita itu tak peduli mereka merokok atau tidak , yang mereka minta cuma “enyahlah dari mukaku jika kamu merokok” .

Rokok apapun merknya apapun jenisnya adalah konsumsi yang semu , perokok sendiri tak bisa menjelaskan secara teknis apa yang dia rasakan ketika merokok selain sensasi tenang , nafas bau dan sesak , merokok cuma sebuah kebiasaan dan itu pasti bisa dihentikan dengan pembiasaan juga . Orang yang tidak terbiasa merokok ketika dipaksa merokok akan merasa tersiksa , begitu juga perokok akan merasa tersiksa ketika dipaksa berhenti merokok .

Dan hanya orang orang yang punya kesungguhan lah yang berhasil merubah sebuah kebiasaan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 3 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 4 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 5 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 6 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

ATM Susu …

Gaganawati | 7 jam lalu

Perjamuan Akhir di Bali …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 8 jam lalu

Gayatri Dwi Wailissa, Anggota BIN yang Gugur …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Belajar Ngomong:”Mulutmu …

Wahyu Hidayanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: