Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Lalan Rupawan

tulis aja mikir belakangan

Merokok di Tempat Umum, Kedermawanan Vs Kedzaliman

OPINI | 24 March 2013 | 07:41 Dibaca: 318   Komentar: 0   0

Beberapa diantara kita mungkin merasa punya hak untuk merokok di mana saja , toh rokok kita yang beli dan udarapun tak ada yang punya , tak peduli di angkutan umum , ruang tunggu terminal atau dimana saja selalu kita temui orang orang dermawan dengan rokok menyala sedangkan di sekitarnya para manula , ibu hamil dan balita mereka bagi pula dengan rata uang yang mereka konversikan dengan nikotin . Mereka betul betul dermawan , berderma tanpa pilih pilih penerima .

Ketika kepulan asap dari mulut perokok itu memenuhi ruangan maka serta merta hak para manula , para ibu hamil dan balita terampas dan rasa keadilan terusik , tapi mereka adalah makhluk lemah yang hanya bisa menutup hidung atau sekedar melambaikan telapak tangan di depan hidung sebagai pertanda mereka menolak pemberian sang dermawan .

Sang dermawan akan terus berderma membagikan nikotin kepada setiap orang , meracuni setiap jantung , mengotori setiap paru paru , menutup paksa setiap hidung . Merampas hak semua hidung , semua paru paru dan jantung untuk mendapat udara bersih tanpa nikotin . Dan masih saja mereka memberi alasan pembenaran atas kedzaliman mereka bahwa berhenti merokok itu sulit , seakan akan mereka menempatkan diri mereka sebagai korban keterpaksaan , seakan akan ada yang memaksa mereka menjadi perokok lalu memohon pemakluman orang lain atas atas keterpaksaan itu.

Jika memang sebegitu sulit untuk berhenti meracuni diri dengan merokok , apakah sesulit itu juga berhenti meracuni orang lain dengan merokok di tempat umum , kenapa tak cari tempat lain , kenapa tak coba tahan sebentar keinginan untuk mendzalimi diri itu , toh para manula , para ibu hamil dan balita itu tak peduli mereka merokok atau tidak , yang mereka minta cuma “enyahlah dari mukaku jika kamu merokok” .

Rokok apapun merknya apapun jenisnya adalah konsumsi yang semu , perokok sendiri tak bisa menjelaskan secara teknis apa yang dia rasakan ketika merokok selain sensasi tenang , nafas bau dan sesak , merokok cuma sebuah kebiasaan dan itu pasti bisa dihentikan dengan pembiasaan juga . Orang yang tidak terbiasa merokok ketika dipaksa merokok akan merasa tersiksa , begitu juga perokok akan merasa tersiksa ketika dipaksa berhenti merokok .

Dan hanya orang orang yang punya kesungguhan lah yang berhasil merubah sebuah kebiasaan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Kasus PR Habibi, ketika Guru Salah Konsep …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 13 jam lalu

Tentang 6 x 4 …

Septin Puji Astuti | 14 jam lalu

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 15 jam lalu

PPP dan Kudeta Marwah …

Malaka Ramadhan | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 8 jam lalu

(H-16) Jelang Piala Asia U-19 : Uzbekistan …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Pingin Body Kayak Artis …

Ifani | 8 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Diari Santri: #7 Tamu Misterius …

Syrosmien | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: