Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Catur Pujihartono

hidup harus lebih dari sekedarnya

Ruwahan, Suka Cita Masyarakat di Kampungku

REP | 23 March 2013 | 03:44 Dibaca: 229   Komentar: 0   0

Hari itu rumah yang saya diami ramai dengan ibu-ibu tetangga yang datang mengelilingi nyala tungku. Asap dan aroma masakan, tercium harum dari tiap tungku. Para tetangga memang sengaja datang untuk membantu hajat Ibu saya, yang  setiap bulan ruwah (sistem kalender jawa) atau bulan syaban (kalender Hijriyah) selalu membuat tiga macam penganan yaitu kolak, apem dan ketan.

Tidak hanya di rumah saya. Sesudah atau setelahnya, para tetangga juga melakukan hajat yang sama. Dan para tetangga selalu datang dengan sendirinya untuk membantu. Semua merasa bersuka cita, karena sebantar lagi akan tiba bulan puasa (Ramadhan).

Saya dan teman-lain yang saat itu masih dalam usia anak, juga merasakan kegembiraan yang tidak biasa, seperti hari di luar bulan ruwah. Karena jelas  akan banyak makanan (kolak, ketan dan apem) yang dapat disantap selama sebulan penuh. Teman-teman biasanya berkumpul di rumah dan bercerita selama ibu kami tengah memasak. Keramaian di rumah oleh para ibu-ibu juga menjadi hiburan tersendiri. Ada kebersamaan dari tetangga yang tidak lagi memandang status sosial.  Kaya atau miskin, bercanda dan  bersatu dalam acara memasak.

Tiga jenis makanan (kolak, ketan, apem) bisa mencerminkan kebersamaanan ini. Yang berada/ kaya akan juga memasak tiga jenis makanan ini, sama seperti keluarga yang tidak berada. Semua datang pada empunya hajat tanpa undangan yang formil. Dan setelah semuanya masak, maka siap untuk dibagikan juga dengan jatah yang sama di tiap-tiap keluarga.

Sampai sekarang tradisi ruwahan ini masih berlangsung di kampungku meski dengan spirit yang tidak sama seperti kala saya masih anak-anak. Kolak, ketan apem masih terus dibuat selama tiba bulan ruwah. Hanya saja sekarang dilakukan secara kolektif oleh ibu-ibu PKK. Mungkin karena peradaban modern ini harus menuntut untuk itu. Alasan lebih praktis dan tidak banyak memakan biaya.

Ibu-ibu yang dahulu masih sempat untuk membantu membuat tiga jenis kue tadi, sekarang mereka tengah sibuk dengan berbagai kerjaan. Anak-anak juga sudah banyak yang tidak mengerti tradisi ini.  Ruwahan, sebagai Suka Cita Masyarakat di kampungku meski terus ada tetapi tampaknya harus mulai kehilangan spiritnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 8 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 9 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 10 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Photo-Photo: “Manusia Berebut Makan …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kisruh di DPR: Jangan Hanya Menyalahkan, …

Kawar Brahmana | 8 jam lalu

Saran Prof Yusril Ihza Mahendra Kepada …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Korupsi yang Meracuni Indonesia …

Cynthia Yulistin | 8 jam lalu

MA Pasti Segera Bebas, Karena Kemuliaan …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: