Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Esther Lima

No Biographical Info

NKRI Syariah, Cita-cita yang Nanggung

OPINI | 23 March 2013 | 16:08 Dibaca: 705   Komentar: 31   2

Belakangan ini, pihak-pihak yang mengaku ingin mengubah NKRI menjadi negara Islam bermunculan ke permukaan. Tidak sedikit pula yang mengaku tetap setia pada Pancasila, namun secara terang-terangan menunjukkan sikap abstein kepada pihak-pihak yang ingin mengubah ideologi negara. Kelompok ini bisa diduga sebagai pihak penyusup. Masuk dalam pemerintahan, mengaku ber-ideologi Pancasila, namun menunggu saat yang tepat untuk memproklamirkan dirinya sebagai anggota kelompok yang ingin mengubah NKRI sebagai negara Islam.

Apakah kelompok ini benar-benar hendak menegakkan Islam di Indonesia? Tentu saja tidak. Nafsu untuk menduduki jabatan lebih besar daripada nafsu untuk menegakkan agama. Memangnya setelah Pancasila berhasil diubah menjadi NKRI Syariah, mereka akan memilih jadi guru ngaji, pelantun adzan atau pengumpul sumbangan mesjid? Kan tidak. Minimal minta jabatan walikota. Maksimal jadi Presiden. Ujung-ujungnya duit, bukan agama. Syariah Islam digadang-gadang semata untuk menggalang massa.

Langkah apapun ditempuh, termasuk merampok bank dan meledakkan bom. Bukan mustahil korupsi juga dilakukan demi menggoalkan ambisi mendirikan negara Islam, dimana mereka harus jadi pejabat di negara baru ini.

Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Begitu kata orang tua kita.

Apakah mendirikan NKRI Syariah merupakan cita-cita yang setinggi langit? Menurut saya tidak. Cita-cita mengubah Pancasila menjadi Syariah adalah cita-cita yang semu. Bukan untuk Allah semata, namun untuk syahwat sendiri. Kebanggan diri. Demi uang dan Jabatan. Padahal kemuliaan hanya bagi Allah.

Mendirikan NKRI Syariah adalah cita-cita yang nanggung. Cita-cita yang kurang tinggi.
Untuk menegakkan Islam di bumi Indonesia tercinta ini, mengapa anda tidak sekalian memindahkan Kabah ke Indonesia? Bukankah Kabah milik umat Islam, bukan milik orang Arab? Indonesia, adalah negara dengan penduduk beragama islam terbesar di dunia. Oleh karenanya, muslim Indonesia lah yang paling berhak memiliki Kabah. Bukan orang Arab yang hanya berpenduduk 21 juta jiwa itu. Sementara muslim Indonesia ada 200 juta jiwa.

Dengan dipindahkannya Kabah ke Indonesia, maka anda yang menginginkan khilafah, memberikan bukti kepada seluruh masyarakat Indonesia, bahwa anda adalah rahmat bagi bangsa. Karena saat ini, selisih harga visa ibadah dan visa bisnis ke Arab Saudi adalah USD 200 lebih. Bayangkan jika ada 10 juta orang datang mengunjungi Kabah setiap tahunnya, penerimaan dari visa jadi sebesar USD 2.000.000.000 per tahunnya. Belum dari hotel dan lain-lain. Bukankah negara akan makmur sampai kiamat?

Jadilah rahmat. Pikirkan kesejahteraan anak cucu bangsa. Minyak dan Gas bumi akan habis. Tapi ibadah tidak akan berhenti sampai kiamat. Dirikan negara Islam yang tidak tanggung tanggung. Kabah bukan punya orang Arab, tapi milik umat Islam. Pindahkan Kabah ke Indonesia. Maka seluruh kaum kafirun, kaum liberal dan sekular akan mengakui, bahwa kelompok anda benar-benar rahmatan lil alamin. Bukan teroris.
- Esther Wijayanti -

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 7 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 8 jam lalu

Susi Mania! …

Annisa Nurul Koesma... | 8 jam lalu

Ada Oknum “Nakal” di BPN Jakarta …

Syaifudin | 8 jam lalu

Wow, Cantiknya Puteri Bu Susi …

Den Hard | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: