Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sembilan Dusun Labuhanbatu Tanpa Listrik

REP | 20 March 2013 | 10:03 Dibaca: 81   Komentar: 0   0

Pembagian kue pembangunan masih belum merata dirasakan warga, khususnya di kawasan pesisir Labuhanbatu. Baik tentang kualitas infrastruktur jalan darat maupun ketersediaan listrik. Keadilan dalam distribusi hasil modernisasi menjadi impian, sehingga, warga tidak hidup terisolir dan gelapnya malam tanpa listrik.
Warga sembilan dusun di Desa Sei Siarti, Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhanbatu belum menikmati penerangan  listrik milik PLN. Akibatnya, meski negeri ‘merah putih’ ini telah lama merdeka, tetapi warga di dusun-dusun itu masih mengeluh tentang makna kemerdekaan.

Karena untuk sekadar dapat menikmati penerangan di malam hari mereka terpaksa menggunakan penerangan seadanya.

Adapun ke sembilan dusun yang belum terjangkau  jaringan listrik PT PLN terdapat di Dusun Pasar I Sei Rambe, Sei Pinang, Sei Pege, Mayor, Bunut, Kampung Baru, Rengat dan Malindo di Desa Sei Siarti Kecamatan Panai Tengah.

Kepala Desa Sei Siarti Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhanbatu, Harapan Pasaribu dalam satu kesempatan mengakui pihak desa sudah berulang kali mengusulkan pemasangan jaringan PLN ke berbagai pihak, termasuk kepada pemda agar memperioritaskan penerangan PLN masuk desa mereka.

Dia mengatakan, akibat tidak ada jaringan PLN, sejumlah warga di ke 9 dusun itu mengadalkan lampu penerangan seadanya di malam hari, termasuk lampu teplok. Sedangkan bagi warga yang ekonominya berkemampuan, mereka membeli penerangan sendiri seperti mesin genset. Persoalan penerangan yang belum tersentuh di sembilan dusun itu, kata dia pernah mendapat tawaran solusi dari pihak ketiga untuk pembuatan mesin pembangkit listrik tenaga diesel. Tapi, hal itu gagal.

Karena pihak penyedia jasa meminta pembayaran uang panjar masing-masing Rp 1,5 juta kepada setiap kepala keluarga warga. “Mereka bersedia membuatkan mesin penerangan. Tapi, warga kami tidak mampu membayar uang muka Rp1,5 juta per kepala keluarga, akhirnya batal,” tuturnya.

Faktualita kondisi yang ada, kata M Kenaikan Nasution, Sekretaris Desa itu, anak-anak sekolah dari keluarga yang kurang

Mampu ekonominya terpaksa belajar dengan penenerangan lampu sangat minim. Untuk mendapatkan penerangan, warga mesti berlangganan dan berbayar perbulan dari mesin genset warga sekitar.

“Anak-anak belajar pakai lampu teplok. Jika rumahnya bertetangga dengan  rumah yang memiliki genset bisa menumpang. Tapi walau sudah punya genset, pukul 23.00 WIB sudah dimatikan,” tukasnya.

Warga kerap ternanti-nanti dalam hal pemasangan instalasi dan jaringan listrik ke desa itu. Sebab, menurut Nasution, beberapa kali pihak yang mengaku dari PLN melakukan pengukuran dan rencana pemancangan tiang listrik, tetapi gagal.

Beberapa warga, kata dia, sudah memiliki alat penerangan listrik tenaga matahari. Alat itu didapat dari bantuan Pemprovsu beberapa tahun silam. “Ada beberapa warga yang mendapat bantuan alat penerangan listrik tenaga matahari. Bantuan pemerintah provinsi,” jelasnya.

Dengan bantuan peralatan seperti itu, warga sedikit terbantu. Terlebih jika panas matahari mendukung. Setidaknya, warga dapat memanfaatkan arus listrik yang dihasilkan dari peralatan itu untuk menyaksikan kondisi dunia luar melalui pesawat televisi. (f)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Manusia Api …

Nanang Diyanto | | 19 September 2014 | 17:32

Ketika Institusi Pendidikan Jadi Ladang …

Muhammad | | 19 September 2014 | 17:46

Masa sih Pak Jokowi Rapat Kementrian Rp 18 T …

Ilyani Sudardjat | | 19 September 2014 | 12:41

Imbangi Valencia B, Indra Sjafrie Malah …

Djarwopapua | | 19 September 2014 | 14:17

Dicari: “Host” untuk …

Kompasiana | | 12 September 2014 | 16:01


TRENDING ARTICLES

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 6 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 6 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 9 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

“Calon Ibu Pejabat Galau di Negeri …

Rietsy | 8 jam lalu

Centang Prenong …

Rifki Hardian | 8 jam lalu

Duka Lara …

Rifki Hardian | 8 jam lalu

Awal Manis Piala AFF 2014: Timnas Gasak …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Taman Rekreasi Atau Kuburan? …

Rifqi Nur Fauzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: