Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Saraf Hila

berjalan untuk sebuah pengalaman dan belajar

Budaya yang Ditinggalkan Generasi

OPINI | 17 March 2013 | 16:03 Dibaca: 157   Komentar: 0   0

Mungkin kita bertanya dalam benak kita, kehidupan dan pergaulan kita dahulu dengan sekarang ibaratkan langit dengan bumi jauhnya, dahulu, khususnya di tanah bima ini, magrib wajib mengaji entah itu di ajarikan oleh orang tua sendiri atau di ajarkan oleh guru ngaji yang kita datangi, dahulu teman saya di ikat tangannya dengan langit-langit rumahnya terus dengan sebilah rotan betisnya di pukul oleh ayahnya gara-gara tidak bisa membaca al-qur’an padahal sudah di ajarkan.

Sekarang mendengar orang mengaji saja telinga kaum muda-mudi mungkin akan terasa panas, melihat teman-temannya mengaji atau pulang dari tempat mengaji di ledek atau di cemooh, sukanya anak-anak muda sekarang balapan motor, balapan minum alkohol, dan balapan pancaran (siapa yang paling banyak mutusin pacaranya), itulah perubahan yang kasat mata yang bisa dirasakan langsung sekarang di tanah bima.

Bagaimana dengan budayanya, jangan di kata, situs-situs sejarah tinggal nama, situs-situs sejarah tinggal menjadi situs tanpa ada perawatan yang serius dari semua kalangan atau dari pemerintah langsung, semuanya di biarkan begitu saja tanpa ada yang mengurus walau sudah di tugaskan untuk mengurus.

Lihatlah salah satu contoh, makan para raja-raja atau yang biasa di sebut oleh masyarakat bima DANA TRAHA atau bahasa inggrisnya mountain of king’s dan bahasa indonesianya gunung para raja-raja, dengan pemandangan yang sangat eksotis, semua kota bima bisa di lihat dari bukit ini, semua alur kehidupan masyarakat bima bisa terlihat dari puncak bukit ini, dan tidak sedikit, fotografer bima memberi julukan tempat ini sebagai VIEW SEJUTA FOTOGRAFER.

Lantas kenapa situs sejarah ini tidak begitu bermanfaat dan bahkan tidak ada namanya atau tidak ada keramatnya? Kita perlu melihat ulang apa yang terjadi ketika bukit ini masih di anggap keramat oleh masyarakat kota dan kabupaten bima, dahulu bukit ini jangankan untuk tempat duduk-duduk, untuk mengunjungi bukit ini butuh kesabaran yang ekstra karena jalannya yang masih setapak, sehingga para muda-mudi yang dimabuk asmara sangat menyukai tempat ini untuk beradu mesra dan terjadilah kejadian yang tidak di sangka-sangka.

Ketika satu pasangan mulai menjalankan “aksinya” merekapun heran, “kenapa pedang saya tidak bisa di cabut dari selongsongnya” sampai-sampai mereka harus di operasi di mataram untuk memisahkan mereka yang bertubuh satu namun dua kepala dan badan tersebut dan salah seorangnya meninggal.

Akhirnya para muda-mudi mulai sadar untuk beberapa saat tidak menggunakan tempat ini sebagai tempat “mesum” namun beberapa bulan setelah itu, mulai lagi dijadikan tempat mesum.

Perhatian dari pemerintah daerah bisa dikatakan sangat kurang untuk tempat ini, okelah, kita tidak perlu lagi membahas tetang tempat ini, kita beralih ke pusat budaya bima yaitu ASI MBOJO atau yang biasa disebut MUSEUM DANA MBOJO.

Museum yang dahulu adalah keraton kesultanan Mbojo merupakan pusat pemerintahan kesultanan Bima tempo dulu, sejak masa kepemimpinan bupati Umar Harun, keraton ini dijadikan museum budaya dana mbojo. Pengelolaan museum di serahkan kepada dinas pariwisata dan kebudayaan Bima.

Museum asi mbojo merupakan situs cagar budaya warisan kerajaan dahulu, namun sekarang tidak lebih dari “kandang menjangan”. Bagaimana tidak, menjangan di museum ini begitu banyak sehingga tidak ada tempat lagi untuk di buatkan kandangnya, halaman belakang museum ASI mbojo dijadikan kandang dan tidak terawat, lapangan yang dahulunya adalah digunakan untuk olahraga tenis, sekarang di sulap sebagai kandang menjangan, Sumur yang biasa digunakan oleh putri raja dan permaisuri untuk sumber air kerajaan sekarang digunakan sebagai tong sampah, gerbang timur sekarang di sulap sebagai kandang menjangan dan kambing serta kandang ayam. ASI POTA yang merupakan Rumah kerajaan yang terbuat dari kayu jati yang berada di seluruh pelosok Bima sekarang lapuk tak terurus, apakah ini apresiasi masyarakat terhadap pusat budayanya sendiri.

Setiap hari memang diakui banyak yang datang berkunjung ke museum ASI MBOJO namun pemandu museum sendiri tidak hafal bahkan tidak mengerti asal muasal berdirinya ASI MBOJO bagaimana mewaraiskan kepada generasi berikutnya?

Kegiatan-kegiatan budaya yang digelar di museum ini bersifat ekslusif, maksudnya kegiatan yang bersifat kecil-kecilan yang diadakan oleh komunitas kecil dilarang dilakukan di museum ini, lah kenapa? Keheranan yang timbul bukan hanya pada satu atau dua komunitas yang ada di kota dan kabupaten bima, namun hampir semua pernah merasakannya.

Bagaimana dengan seni dan budayanya?

Pada tanggal 29 Mei 2011, team dari INDONESIA EKSPLORIDE yang di sponsori oleh Djarum serta dinas pariwisata dan kebudayaan indonesia datang ke Bima dengan tujuan ke rumah Lengge di wawo.

Team yang mencoba menggali seni budaya indonesia ini serta adventure ini datang ke bima untuk mengenalkan bima pada dunia bahwa bima juga punya seni budaya. Penggambilan gambar di laksanakan di kompleks cagar budaya rumah lengge wawo, rumah khas masyarakat bima jaman dahulu.

–>Salah satu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat di sekitar kawasan rumah lengge ini, jarang yang datang untuk mempromosikan daerah mereka, terus kegiatan dinas-dinas yang terkait apa? Silahkan tanyakan pada diri anda jika sudah begini pertanyaannya “apakah masih ada dinas pariwisata di tanah bima ini?”

Seni budaya yang tumbuh di daerah bima bisa dikatakan seni budaya campuran antara timur tengah dan timur jauh serta asia, dilihat dari pakaian dan cara berjalannya para penari dan penerima tamu pada acara penyambutan team indonesia eksploraid ini,semuanya berunsur timur tengah dan timur jauh serta asia.

Selain di suguhi dengan tarian tradisional, team indonesia eksploraid juga di suguhi dengan permainan tradisional berupa MPA’A GANTAO, TAJI NTUMBU dan TAJI PALA, tiga permainan tradisional ini sekarang mulai hilang dari peredaran dan dari cerita-cerita orang tua, bahkan lebih dari itu lagi, tari-tarian dan permainan yang ada bahkan sudah di tinggalkan dan diganti dengan tarian-tarian modern dan permainan modern yang menggunakan alat-alat canggih.

=- to be continue -=

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Latahnya Pedagang Kaki Lima …

Agung Han | | 17 September 2014 | 04:16

Polemik Kabinet Jokowi-JK …

Mike Reyssent | | 17 September 2014 | 05:05

Potret-Potret Geliat TKW HK Memang …

Seneng Utami | | 17 September 2014 | 06:07

Pro-Kontra Pembubaran (Sebagian) Kementerian …

Hendi Setiawan | | 17 September 2014 | 08:17

Setujukah Anda jika Kementerian Agama …

Kompasiana | | 16 September 2014 | 21:00


TRENDING ARTICLES

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 3 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 3 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 4 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 5 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: