Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Betawi Young

pegawai swasta, bekerja di jakarta.

Prahara di Balik Belis

OPINI | 10 March 2013 | 14:03 Dibaca: 154   Komentar: 0   0

“PRAHARA” DI BALIK BELIS

Fidel Hardjo

Andai saja. Kartini masih hidup, pasti wilayah NTT, pertama dikunjungi untuk protes. Pilih NTT bukan karena miskin tetapi beban wanita kita, bak nasib “sepatu tua”. Tetap merangkak meski terseok. Tak sekolah, apolitik, dan apalagi belis, nyaris tanpa kontrol. Masihkah belis berwajah ramah ketika bergeser makna dari “penghargaan”ke “harga”?

Masihkah slogan Kartini: habis gelap terbitlah terang (post nubila jubila) menjumpai ramah wanita NTT? Kapan budaya belis menyudahi cengkraman mautnya? Lebih-lebih ketika gadis-gadis NTT dipunggungi prahara belis: habis belis, terbitlah prahara. Kapan prahara belis ini pause mendegradsi martabat wanita? Bikin martabat wanita, berharga!

Tengoklah budaya belis kita. Ada satu fenomena kuat terbaca. Fakta pemarginalan perempuan atas nama belis tampak terang benderang. Belis nyaris lebih menyusahkan daripada menghargai martabat wanita seadanya. Buktinya, habis belis terkelepot utang. Pihak perempuan dan laki terjebak utang. Pengantin baru pun dikadoin utang berantai.

Apakah tampang belis sebengis itu? Nenek moyang kita penemu dan pewaris kultur adiluhung belis ini bermaksud membudayakan penghargaan terhadap perempuan dan perkawinan itu sendiri. Itu sebabnya, perkawinan bagi mereka tidak kenal istilah “kawin kebetulan”. Soal kawin direncanakan dalam proses yang berbelit-belit tetapi apik-jelas.

Tujuannya jelas. Perkawinan itu dimaknai bukan hanya soal kurban (sakral) tetapi korban (material) juga. Perkawinan itu belum valid tanpa proses kurban ritual adat (sakral)-meski belakangan dipadu lagi dengan proses nikah agama, lalu disempurnakan oleh ritual korban (material) berupa belis yang wajib dipenuhi pihak laki. Komplit benar!

Sejatinya, belis diberlakukan untuk menghargai kedua pihak. Baik pihak keluarga pria maupun wanita berjumpa dengan “penghargaan tertinggi” yaitu cinta lewat ritual belis. Pihak keluarga laki menyerahkan belis sebagai balas budi “air susu ibu”. Tetapi ini bukan barter. Sebab, belis adalah awal dari pertalian kasih yang panjang kedua pihak.

Namun manusia modern dengan turbelensi modernitas (principle-style) melompat liar dari substansi belis. Belis yang sediakalanya “ritual penghargaan” dan sekarang didegradasi menjadi “urusan perkara harga”. Segala sesuatu berkaitan dengan persiapan perkawinan dikalkulasi sedemikian rumit untuk mendramatisir nominal belis.

Karena belis hanya bermain angka, perempuan pun sudah tak dihargai lagi. Orang sibuk kalkulasi angka, untung rugi, semakin tinggi belis - semakin membubung prestise, dan masih banyak litani seram lainnya yang menyimpang dari destinasi belis itu sendiri.

Saya ambil contoh nominal belis (paca/mahar) di Manggarai. Nominal belis akhir-akhir ini fantastik berkisar 50-100 juta rupiah. Belis apa macam ini? Tidak realistis dengan “si kontol panjang” (situasi, kondisi, pandangan, dan jangkauan) masyarakat yang berpendapatan per kapita per bulan berkisar 200-300 ribu saja. Ah, susah dimengerti.

Memang belis di Manggarai ada dua rupa. Pertama, belis lunak yang disebut minak te jaong dan manik te senget (cuma enak diucap, indah didengar). Jadi, meskipun belis bunyinya sampai 200-300 juta, tetapi akhirnya merayap menjadi 5 juta. Itulah sebabnya, jenis ini lebih ramah, hanya harus duduk berjam-jam habisin waktu bernego sana-sini.

Kedua, belis keras yang disebut belis jeti tek (wajib memenuhi angka). Jenis ini yang mengundang masalah. Karena kalau sudah dibilang belis 100 juta, ya harus dipenuhi. Jika tidak, urusan perkawinan bisa gubrak bubar. Dan, jenis ini yang tidak manusiawi dan lebih matematis. Jadi, nir nilai penghargaan kedua belah pihak. Ini banyak terjadi!

Inilah bentuk riil penyimpangan (negative deviant) memaknai belis sekadar akumulasi harga. Mungkin bisa dimengerti. Harga sembako, gaun, cincin kawin, sound system, dan salon kecantikan terus menanjak tetapi belis semestinya tetap manusiawi. Dari sini, sekenario belis diutak-atik. Perempuan pun kian dipinggirkan tak lebih urusan “barter”.

Rasa tidak adil pun berkecamuk. Belis perempuan “ditunggangi” ritual adat. Padahal, belis untuk manusia dan bukan manusia untuk belis. Mungkin kecolong dibicarakan tetapi inilah fakta sekarang yang sulit diurai benang kusutnya. Akhirnya, belis wanita Manggarai menakutkan. Dan, asal tahu, perempuan kebanyakan menjadi korban belis.

Masalah baru beranak pinak. Hamil di luar nikah kian marak. Kawin bawa lari dan kumpul kebo awet terjadi. Lalu, siapa dan apa yang menjadi “kambing hitam” di balik per kasus ini? Bisa saja salah satunya adalah dampak kebrutalan belis itu. Meskipun banyak pula kasus di atas adalah tren remaja modern. Jadinya, soal lebih runyam lagi!

Impak negatif belis (harga) tidak hanya bertautan dengan pembiakan tindakan imoral. Lebih jauh, melanggeng kemiskinan. Angka puluhan atau ratusan juta itu tak mudah di gapai. Maka, terpaksa keluarga pria main utang sana-sini. Hanya untuk melunasi belis. Tak hanya itu. Ayah dan ibu perempuan pun rela berutang. Tutup ongkos bahan kawin.

Lho jadinya, utang sana sini. Belum selesai lunasi belis, muncul lagi kewit werong sida (kumpul duit urusan ini, itu) akhirnya jurang kemiskinan semakin menganga dan pengentasan kemiskinan sulit dituntas. Kemiskinan adalah satu dari cela buruk belis.

Banyak masalah bertumpuk-tumpuk. Lantaran cinta dihalang atau dikandas belis. Sebut angka puluhan sampai ratusan juta belis perempuan terpaksa laki-laki mengurung niat nikah. Maka, ambil jalan pintas kawin tanpa nikah adalah pilihan laris manis. Tragis, ya!

Lebih tragis lagi. Relasi sudah terlanjur dalam lalu ditinggalin. Karena tidak tidak ada “pengikat” baik dari segi adat maupun agama. Lagi-lagi, korbannya adalah perempuan. Ada juga, memilih cari istri orang “seberang”. Proses perkawinannya tidak rumit. Ongkos pun enteng. Cuma, kita bisa mengalami kepunahan regenerasi secara kultur.

Pemerintah sebagai pemangku penyejahteraan warga (material) berkelepotan dengan upaya pengentasan kemiskinan. Karena energi warga hanya terserap pada gali lobang tutup lobang bayar belis dan urusan adat. Lalu, gereja juga sebagai pemangku penyejahteraan umat (spiritual) lebih pusing lagi. Komplikasi tindakan imoral menjamur.

Berdasarkan research Bank Dunia menyimpulkan bahwa, pengentasan kemiskinan di NTT agak sulit progresif bak mencongkel “batu besar” dari lubang kubur. Karena ritual kultur belis yang berantai dan berkelok-kelok. Urusan belis balut berlapis generasi. Habis belis, ada saja urusan keluarga (lahir, sakit, mati) ujung-ujung kumpul duit (UUD).

Maka, kita sampai pada sebuah hipotesis. Ketimpangan pemaknaan belis telah mengalami proses dehumanisasi. Ada dua indikator. Pertama, belis (belis keras) melukai martabat perempuan karena harga diri dipelintir ke simbolisasi angka-angka.

Kedua, program pengentasan kemiskinan akan blunder bak “tarian poco-poco”. Karena warga berjibakau dengan urusan adat tak bertepi. Banyak duit dan waktu untuk pesta dan acara yang bisa disederhanakan.Tetapi, hendak apa dikata, budaya edan lagi didoyan. Sehingga, ketika urusan pendidikan dan kesehatan diperlukan. Duit tidak ada.

Lalu apa solusi? Pertama, kembalilah ke makna belis seasli-aslinya. Belis yang manusiawi dan menempatkan penghargaan perempuan dan kedua belah pihak keluarga (wanita-pria) di atas segala-galanya. Bukan lagi perhitungan matematis ini, itu.

Diskusikan masalah ini pada pranata adat. Atau, di Manggarai ada Tua Adat, Tua Golo, Tua Batu (pemangku adat, kampung, dan keluarga). Mungkin perlu dibicarakan konversi nominal belis. Misalnya, bagaimana kalau belis 50 juta disiapkan untuk buka usaha, bangun rumah, dan biaya sekolah anak pengantin baru kelak. Ini jauh bernilai.

Kedua, hidup ugahari perlu dipropaganda. Pesta yang mahal dan habisin duit banyak perlu dikontrol. Ingat, justru nominal belis paling mahal sering dijumpai pada orang: punya nama, jabatan, dan berpendidikan tinggi. Itu duitmu tetapi berilah contoh hidup yang edukatif. Meski demikian, jangan salah sangka, utang kreditnya banyak! Cek saja!

Ketiga, kita berharap perempuan kita untuk tampil menyuarakan haknya. Tunjukkan bahwa kalian bukan generasi “kopi setengah cangkir”. Jelas, belis tidak berlaku adil terhadap perempuan. Belis syarat marginalisasi dan menjadi sarang spiral kekerasan. Habis belis, terbitlah prahara. Kapan habis gelap, terbitlah terang? Ini PR besar kita!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Keluar Uang 460 Dollar Singapura Gigi Masih …

Posma Siahaan | | 19 April 2014 | 13:21

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: