Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Abu Hisyam

BALADEWA, KOPITE, GUSDURIAN,

Pluralisme: Pemikiran Gus Dur yang Cenderung Disalahartikan

OPINI | 08 March 2013 | 09:20 Dibaca: 1903   Komentar: 9   4

Pluralisme merupakan paham hidup bersama dalam sebuah kemajemukan, meliputi suku bangsa, keyakinan beragama, dan lain-lain. Bapak Bangsa kita yaitu KH Abdurrahman Wahid, memiliki sebuah pemikiran yang sangat bagus dalam hal tasamuh (toleransi) antar umat manusia. Toleransi antar umat manusia ini yang akan mampu menciptakan kedamaian dunia, memangkas sekat-sekat pemisah untuk saling berinteraksi dengan damai.

Ada satu hal yang sampai saat ini saya masih bingung untuk mengungkapkannya, yaitu tasamuh intern antar umat Islam. Banyak orang yang mempelajari dan mengamalkan pemikiran-pemikiran Gus Dur terutama dalam hal pluralisme ternyata masih sangat dangkal. Toleransi antar umat Islam cenderung masih sangat sulit diterapkan karena masalah ideologi, sikap, dan otak. Ideologinya Hizbut Tahrir Indonesia tidak sama dengan ideologinya NU, ideologinya Ikhwanul Muslimin berbeda dengan ideologinya Muhammadiyah, begitu juga ideologinya FPI tidak sama dengan ideologinya Masyumi (PBB). Prinsip-prinsip atau ideologi ini seakan menjadi sebuah jurang pemisah yang sangat dalam diantara sesama umat Islam.

Toleransi antar umat beragama, antara Islam dan Kristen, antara Hindu dan Buddha, dan lain-lain dalam beberapa tahun belakangan nampaknya sudah berjalan dengan baik, meski ada riak-riak kecil dalam pelaksanannya. Saat ini yang berkembang adalah adalah stigma negatif didalam intern Islam yang tampak saling perang opini sehingga berdampak pada sulitnya wujud pluralisme itu sendiri. Pluralisme yang dimaknai sebagai toleransi secara umum cenderung diabaikan oleh antar ormas yang ada pada orang Islam.

Saling mengkafirkan, saling menganggap yang paling benar, saling berusaha menjatuhkan, merupakan cermin dari belum terserapnya pemikiran-pemikiran Gus Dur. Ironisnya, paham pluralisme ternyata tidak mampu diamalkan oleh para GusDurian sendiri, termasuk saya. Para penerus pemikir Gus Dur masih juga suka dan sangat gemar menyalahkan dan menjatuhkan saudara-saudara  Muhammadiyah, Ikhwanul Muslimin, PBB, HTI, dan juga FPI. Dengan dalih mereka tidak melakukan toleransi dengan saudara-saudara yang lain. Padahal jika kita cermati dengan seksama, sebenarnya mereka juga sangat toleransi dengan saudara-saudara para GusDurian.

Satu hal yang sebenarnya menjadi perbedaan persepsi, yaitu masalah persentase benar salah, dan baik buruk.

Kebenaran, dan kebaikan itulah yang mendasari mengapa kita masih terkotak-kotak dalam friksi antar golongan. Dan memang akan tampak sangat sulit apabila kita menyatukan perbedaan dalam hal benar salah dan baik buruk ini.

FPI akan semangat untuk memerangi kejahatan dan keburukan terutama dalam razia dan sweeping miras, narkoba, dan tindakan asusila. Namun bagi sebagian besar kita menganggap itu adalah hal diluar hak mereka sebagai ormas dan yang berwenang adalah kepolisian. Menurut saya pribadi, tindakan FPI tersebut sudah sesuai dengan ajaran agama Islam yang juga saya anut, yaitu sebagai tindakan amar ma’ruf nahi mungkar, karena memang kepolisian kita kurang kontrol dalam hal ini.

Juga saudara kita yang HTI selalu dan rutin menyebarkan ideologi anti demokrasi. Menurut saya itu sah-sah saja, mengapa tidak kita hormati mereka. Begitu juga dengan saudara-saudara kita yang Ikhwanul Muslimin dan Masyumi (PBB), mengapa kita masih saja menganggap mereka eksklusif dan cenderung membenci mereka. Apakah karena kuatnya penggiringan opini mereka ingin mengubah haluan negara atau karena sebab lain sehingga dengan gampangnya menganggap saudara-saudara kita tersebut tidak Pancasilais. Maka, sebenarnya pemahaman kita terhadap pemikiran Gus Dur, terutama terkait pluralisme memang perlu kita dalami lagi.

Pemikiran Gus Dur masih jauh lebih luas dari sekedar pemikirannya Guus Hiddink. Gus Dur mengajarkan kita dalam berbagai hal, sedangkan Guus Hiddink hanya memiliki kemampuan sebatas persepakbolaan.

Maka sudah selayaknya kita menyadari bahwa bukankah kita sendiri yang seolah-olah inklusif namun tanpa disadari bahwa kita sendiri yang eksklusif. Mulai saat ini jangan pernah menganggap FPI itu musuh kita, HTI itu musuh kita, Ikhwanul Muslimin itu musuh dan lain sebagainya. Mereka adalah saudara-saudara kita semua. Semua telah dikaruniai Tuhan berupa akal yang saling digunakan untuk berfikir dan bebas digunakan untuk berkeyakinan dan berideologi.

Karena apa yang kamu yakini sebagai sebuah kebenaran mungkin bukanlah sebuah kebenaran buat yang lainnya (Ahmad Dhani).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Unik Menyeberangkan Mobil ke Pulau …

Cahayahati (acjp) | | 16 September 2014 | 14:16

Korupsi Politik Luthfi Hasan Ishaaq …

Hendra Budiman | | 16 September 2014 | 13:19

Kenapa Narrative Text Disajikan di SMA? …

Ahmad Imam Satriya | | 16 September 2014 | 16:13

[Fiksi Fantasi] Runtuhnya Agate: …

Hsu | | 16 September 2014 | 05:54

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 8 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 10 jam lalu

UU Pilkada, Ken Arok, SBY, Ahok, Prabowo …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Golkar Butuh Pemimpin Sekelas AL …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Ikan Mas Koki Dioperasi Untuk Angkat Tumor …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat? …

Choirul Huda | 8 jam lalu

Bukan Bagi-bagi Kursi, Tapi Bagi-bagi …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

Pengacara Seribu Rupiah …

Mini Praise | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: