Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sri Heru Supoto

Koresponden media nasional dan regional. Menulis bebas kesukaan saya untuk mendukung kebangsaan yang hakiki, melawan selengkapnya

NU Dilecehkan, Mbah Kiai Ali Dipakai Tameng Kasus Korupsi

REP | 05 March 2013 | 15:59 Dibaca: 440   Komentar: 0   0

1362473916297377180

FOTO MBAH KIAI ALI DISAMPING ANAS TERSANGKA KORUPSI

Oleh: Agus Hartono Amin

Hari ini hati saya geregetan sekaligus menyesalkan sikap mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang nampang foto di majalah Tempo berlatarbelakang gambar KH Ali Maksum (alm.), pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Beliau termasuk ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang disegani para alim-ulama NU di seluruh Nusantara.

Pada Majalah Tempo edisi terbaru Maret 2013, bergambar cover rumah mewah di tengah hutan itu, jelas gambar Mbah Kiai dipajang di posisi strategis di dalam rumahnya agar media mudah menangkapnya. Foto Mbah Kiai dipajang sebagai simbol untuk melawan Presiden SBY?  Nau’dzubillah min dzalik.

Mbah Kiai Ali, demikian ia biasa disebut oleh santri-santri, disegani, dihormati, bahkan selalu dikirimi alfatihah oleh ribuan umat. Oleh sebab keulamaan, kealiman, dan karamahnya diakui oleh warga nahdliyin di manapun berada. Demikian terhormatnya Mbah Kiai, saya merasa tidak terima beliau diperlakukan begitu: Oleh Anas dibuat berlindung kasus korupsi.

Hati ini jadi sakit. Saya warga NU yang tidak tahu politik. Hanya ingin melihat Mbah Kiai dihormati setelah wafat. Itu saja. Ingin sekali saya menangis. Tapi ke mana saya harus menangis saat Mbah Kiai diperlakukan begitu.

Saya memahami posisi Anas sebagai istri cucu Mbah Kiai. Istri anas adalah putri KH Attabik putra Mbah Kiai. Sebagai bagian dari keluarga besar Mbah Kiai adalah wajar Anas memajang foto itu di rumahnya, entah sebagai hiasan atau bentuk penghormatan.

Namun saya tetap tidak bisa menerima begitu saja ketika Anas memanfaatkan foto itu untuk tempat berlindung pada kasus korupsi yang sedang membelitnya. Apalagi selama ia menjabat ketua umum Demokrat, saat kejayaan dan kehormatan semua tertuju kepadanya, tidak pernah terdengar Anas berterima kasih atau ikut memuliakan Mbah Kiai. Tidak pernah saya mendengar Anas memberikan tempat terbaik sebagai bentuk hormat kepada Mbah Kiai saat jaya-jayanya berlimpang uang dan kekuasaan.

Dengan sikap semacam itu, jelas-jelas Anas telah melecehkan salah satu tokoh NU yang patut dihormati. Yang semestinya Mbah Kiai ditempatkan pada posisi terhormat. Bukan malah hanya dimanfaatkan ketika Anas berada dalam kecemasan karena kasus korupsi Hambalang.

Sebagai santri yang ikut meneladani ilmu dan kealiman Mbah Kiai saya merasa terusik. Sikap Anas semacam itu bukan sikap yang patut diteladani. Hanya memanfaatkan Mbah Kiai ketika posisinya tersudut kasus korupsi. Saat di atas angin dengan kekuasaan melimpah sebagai Ketua Umum PD ia tak pernah sekalipun memberikan kehormatan kepada tokoh-tokoh NU.

Anas Urbaningrum benar-benar melecehkan NU. Anas telah melecehkan keluarga besar Pesantren Krapyak Yogyakarta yang santri-santrinya tersebar di seluruh Nusantara, bahkan sampai di luar negeri.

Semoga hidayah dan maghfiroh-Nya selalu tercurah kepada Mbah Kiai Ali. Alfatihah,,,, *

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Keluarga Pejabat dan Visa Haji Non Kuota …

Rumahkayu | | 30 September 2014 | 19:11

Me-“Judicial Review” Buku Kurikulum …

Khoeri Abdul Muid | | 29 September 2014 | 22:27

Spongebob dalam Benak Saya …

Ire Rosana Ullail | | 30 September 2014 | 16:48

Sepak Bola Indonesia Kini Jadi Lumbung Gol …

Arief Firhanusa | | 30 September 2014 | 15:58

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 9 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 11 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 13 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 14 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Smartphone dan Pribadi Boros Energi …

Dian Savitri | 8 jam lalu

Gerakan Indonesia Menulis; Mencari Nilai …

Rendra Manaba | 8 jam lalu

Pegawai BRI Beraksi Bak Debt Collector …

Rusmin Sopian | 8 jam lalu

Tradisi dan Teknologi …

Susy Haryawan | 8 jam lalu

Pisah Sambut Kejari Singaparna …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: