Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Jonny Hutahaean

Sarjana Strata 1, hobby membaca

Suara Rakyat Bukan Suara Tuhan

OPINI | 03 March 2013 | 15:48 Dibaca: 328   Komentar: 0   2

Vox populi vox Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan.

Tetapi Mohamad Sobary tidak setuju. Bagi beliau Suara Rakyat ya suara rakyat, dan suara itu tidak berkaitan, atau tidak ada hubungannya sama sekali dengan suara Tuhan. Suara rakyat adalah suara jeritan kelaparan, tangis derita karena kekerasan, suara kekesalan karena kemacetan, kebanjiran, dan kebakaran. Suara rakyat adalah suara kerinduan akan datangnya kesejahteraan, hadirnya ketenteraman, terbitnya rasa bebas, dan rasa aman, itu saja. Suara Tuhan itu adalah firman dan titah, suara rakyat itu hanyalah jeritan, meski dengan suara rakyat anda memperoleh legitimasi untuk berkuasa.

Dan Saya sangat setuju dengan om Sobary ini.

“Suara Rakyat adalah Suara Tuhan” sesungguhnya sangat indah. Itu jika suara rakyat menjadi sebuah titah untuk dilaksanakan, dan menjadi titik fokus dari segala pemikiran, tindakan dan perbuatan.

Tetapi bukan itu yang terjadi di Negeri Nusantara ini, sejak dulu. Kekuasaan selalu harus memperoleh legitimasi dari sesuatu yang sifatnya supranatural, dari sesuatu yang tidak dapat dijangkau dengan akal sehat. Kekuasaan yang terlegitimasikan oleh sesuatu yang supranatural akan menjadi kekuasaan yang sangat absolut, tanpa batas, karena kekuasaan itu bersumber dari luar kekuatan manusia. Siapa yang menjadi raja dengan legitimasi supranatural, maka seluruh isi marcapada menjadi hak milik raja. Tanah, sungai, pohon, hutan, kambing, sapi, kerbau, sawah, awan, hujan, matahari, petir. Seluruh manusia di marcapada menjadi hamba pelayan raja. Raja tinggal menunjuk siapa perempuan cantik yang menjadi selir, dan siapa laki-laki berotot untuk mengusung tandu kebesaran saat raja blusukan entah kemana.

Gajah Mada sebagai manusia yang dapat moksa untuk kemudian kembali. Saat kelahirannya, dari mulut Ken Arok memancar sinar terang pertanda keturunan Dewa Bhrata. Dan Ken Dedes, sang prameswari, organ kewanitaannya memancarkan sinar menyilaukan pertanda bahwa dari situ akan terlahir calon raja-raja besar. Kertajaya itu adalah kesayangan dewa, maka dia dapat duduk bersila dan bertapa di atas ujung tombak yang ditegakkan. Raja Padjajaran menunggang singa, Raja-Raja Mataram memiliki akses langsung ke Nyi Roro Kidul di laut selatan.

Setiap Raja menciptakan legitimasi supranatural, dan dengan itu menjadi penguasa tunggal, wakil dewa di bumi.

Kini, hal itu sudah tidak dapat diperoleh dari Laut Selatan. Kalau anda menunggang singa, itu karena anda pawang singa, dan itu tidak memberikan legitimasi apapun bagi anda untuk menjadi maharaja. Jadi harus dicari hal lain, dan satu-satunya hal supra natural yang tersisa adalah legitimasi atas nama Tuhan. Anda dapat memperolehnya melalui agama, atau melalui filsafat. Agama diusung ke ranah politik, demi kekuasaan mutlak yang terlegitimasikan. Tak ada apapun yang bisa mengendalikan kekuasaan yang dilegitimasi oleh agama. Bukan seperti itu demokrasi.

“Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”, hanya menjadi alat agar siapa yang memperoleh suara rakyat berhak menjadi maharaja, dan lalu menjadikan rakyat sebagai hamba pelayan demi kepuasan syahwat dunia. Korupsi, narkoba, kawin siri, pelecehan seks.

Siapapun tidak berhak menantang saya, karena saya dipilih oleh Tuhan. Menantang saya berarti menantang Tuhan.

Jadi memang sebaiknya Suara rakyat ya suara rakyat, itu bukan suara Tuhan. Saya setuju dengan Mohamad Sobary, bagai mana anda?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

LIVE STREAMING KOMPASIANIVAL 2014 …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 08:30

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Aku dan Kompasianival 2014 …

Seneng Utami | | 22 November 2014 | 02:18

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Seru! Beraksi bareng Komunitas di …

Kompasiana | | 19 November 2014 | 16:28


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 18 jam lalu

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 19 jam lalu

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 19 jam lalu

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 23 jam lalu

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 November 2014 13:06


HIGHLIGHT

Kompasiana dan Pesaing-pesaingnya …

Fandi Sido | 10 jam lalu

Banyak yang Dipenjara di Kompasianival …

Mataharitimoer | 11 jam lalu

Jokowi, Getarkan Hatiku! Buat …

Joko Siswonov | 14 jam lalu

Inilah 3 Pemenang Blog Movement “Aksi …

Kompasiana | 14 jam lalu

LIVE STREAMING KOMPASIANIVAL 2014 …

Kompasiana | 14 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: