Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Jonny Hutahaean

Sarjana Strata 1, hobby membaca

Suara Rakyat Bukan Suara Tuhan

OPINI | 03 March 2013 | 15:48 Dibaca: 327   Komentar: 0   2

Vox populi vox Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan.

Tetapi Mohamad Sobary tidak setuju. Bagi beliau Suara Rakyat ya suara rakyat, dan suara itu tidak berkaitan, atau tidak ada hubungannya sama sekali dengan suara Tuhan. Suara rakyat adalah suara jeritan kelaparan, tangis derita karena kekerasan, suara kekesalan karena kemacetan, kebanjiran, dan kebakaran. Suara rakyat adalah suara kerinduan akan datangnya kesejahteraan, hadirnya ketenteraman, terbitnya rasa bebas, dan rasa aman, itu saja. Suara Tuhan itu adalah firman dan titah, suara rakyat itu hanyalah jeritan, meski dengan suara rakyat anda memperoleh legitimasi untuk berkuasa.

Dan Saya sangat setuju dengan om Sobary ini.

“Suara Rakyat adalah Suara Tuhan” sesungguhnya sangat indah. Itu jika suara rakyat menjadi sebuah titah untuk dilaksanakan, dan menjadi titik fokus dari segala pemikiran, tindakan dan perbuatan.

Tetapi bukan itu yang terjadi di Negeri Nusantara ini, sejak dulu. Kekuasaan selalu harus memperoleh legitimasi dari sesuatu yang sifatnya supranatural, dari sesuatu yang tidak dapat dijangkau dengan akal sehat. Kekuasaan yang terlegitimasikan oleh sesuatu yang supranatural akan menjadi kekuasaan yang sangat absolut, tanpa batas, karena kekuasaan itu bersumber dari luar kekuatan manusia. Siapa yang menjadi raja dengan legitimasi supranatural, maka seluruh isi marcapada menjadi hak milik raja. Tanah, sungai, pohon, hutan, kambing, sapi, kerbau, sawah, awan, hujan, matahari, petir. Seluruh manusia di marcapada menjadi hamba pelayan raja. Raja tinggal menunjuk siapa perempuan cantik yang menjadi selir, dan siapa laki-laki berotot untuk mengusung tandu kebesaran saat raja blusukan entah kemana.

Gajah Mada sebagai manusia yang dapat moksa untuk kemudian kembali. Saat kelahirannya, dari mulut Ken Arok memancar sinar terang pertanda keturunan Dewa Bhrata. Dan Ken Dedes, sang prameswari, organ kewanitaannya memancarkan sinar menyilaukan pertanda bahwa dari situ akan terlahir calon raja-raja besar. Kertajaya itu adalah kesayangan dewa, maka dia dapat duduk bersila dan bertapa di atas ujung tombak yang ditegakkan. Raja Padjajaran menunggang singa, Raja-Raja Mataram memiliki akses langsung ke Nyi Roro Kidul di laut selatan.

Setiap Raja menciptakan legitimasi supranatural, dan dengan itu menjadi penguasa tunggal, wakil dewa di bumi.

Kini, hal itu sudah tidak dapat diperoleh dari Laut Selatan. Kalau anda menunggang singa, itu karena anda pawang singa, dan itu tidak memberikan legitimasi apapun bagi anda untuk menjadi maharaja. Jadi harus dicari hal lain, dan satu-satunya hal supra natural yang tersisa adalah legitimasi atas nama Tuhan. Anda dapat memperolehnya melalui agama, atau melalui filsafat. Agama diusung ke ranah politik, demi kekuasaan mutlak yang terlegitimasikan. Tak ada apapun yang bisa mengendalikan kekuasaan yang dilegitimasi oleh agama. Bukan seperti itu demokrasi.

“Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”, hanya menjadi alat agar siapa yang memperoleh suara rakyat berhak menjadi maharaja, dan lalu menjadikan rakyat sebagai hamba pelayan demi kepuasan syahwat dunia. Korupsi, narkoba, kawin siri, pelecehan seks.

Siapapun tidak berhak menantang saya, karena saya dipilih oleh Tuhan. Menantang saya berarti menantang Tuhan.

Jadi memang sebaiknya Suara rakyat ya suara rakyat, itu bukan suara Tuhan. Saya setuju dengan Mohamad Sobary, bagai mana anda?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menunggu Listrik di Kulonprogo …

Ratih Purnamasari | | 20 October 2014 | 11:14

Papua kepada Jokowi: We Put Our Trust on You …

Evha Uaga | | 20 October 2014 | 16:27

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Tips & Trick Menjadi Travel Writer: …

Sutiono | | 20 October 2014 | 15:34

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Dilantik, Bye-bye Skandal Pajak BCA …

Amarul Pradana | 7 jam lalu

Standing Applause, Bagi Kehadiran Prabowo …

Abah Pitung | 10 jam lalu

Beda Perayaan Kemenangan SBY dan Jokowi …

Uci Junaedi | 10 jam lalu

Ramalan Musni Umar Pak Jokowi RI 1 Jadi …

Musni Umar | 12 jam lalu

Jokowi Dilantik, Pendukungnya Dapat Apa? …

Ellen Maringka | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Rentannya Kehidupan Bumi …

Deajeng Setiari | 8 jam lalu

Bangkitkan Bangsa Maritim …

Hendra Budiman | 8 jam lalu

Pergilah… Walau ku Tak Ingin… …

Leni Jasmine | 8 jam lalu

Generasi Pembebas …

Randy Septo Anggara | 8 jam lalu

Selamat Bertugas JKW-JK …

Sutiono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: