Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Nani Roslinda

Berusaha ceria, bahagia dan hilangkan buruk sangka bisa bikin awet muda

“Maaf” dan “Terima kasih”

OPINI | 01 March 2013 | 18:14 Dibaca: 699   Komentar: 0   0

Dua kata yang sulit sekali diucapkan oleh manusia sekarang ini.  Ketika ada seseorang yang mengatakan “maaf” maka dianggap dirinya adalah pelaku kejahatan karena sudah melakukan kesalahan yang sangat besar.  Padahal sejak dulu saya sering sekali mendengar kata maaf ini diucapkan oleh seorang yang memiliki sopan santun dan rendah hati, mungkin disebabkan bahwa manusia itu sekecil apapun perilakunya tak mungkin luput dari kesalahan dan kehilafan.

Dulu teman saya saat diinjak kakinya di bis, saat itu kondisi bis sangat sesak sehingga teman saya kakinya terinjak oleh seseorang yang berdiri di sampingnya.  Teman saya mengucapakan: “maaf Mas kaki saya terinjak”  Saya dulunya sempat heran, kok kakinya yang diinjak oleh orang lain tapi, teman saya mengucapkan kata maaf dengan suara lembut dan muka tersenyum.  Sungguh menjadi pelajaran bagi saya karena teman saya berasal dari sebuah suku di Indonesia yang sangat mengetengahkan sopan santun dalam berbicara, lembut dalam bertutur sapa dan sopan, saya sering sekali melihat teman saya tersebut lembut dan sopan sekali dalam berbicara.  Kadang-kadang setelah dibentak orangpun dia masih sempat mengucapakan: “maaf, mbak salah saya apa, mohon diberitahukan!”  dengan wajah senyum dan tutur kata yang tidak membalas, sehingga kadang-kadang saya geram melihat teman saya terlalu sopan seperti itu.

Tapi karena seringnya bertemu dan berteman dengan sahabat saya yang satu ini, saya sempat ikut-ikutan berbicara dengan mendahului kata-kata “Maaf”  karena bagi saya kata maaf itu merupakan kata-kata sopan yang pantas diucapkan oleh orang yang selalu merasa dirinya tidak luput dari kehilafan dan bisa jadi perilaku dirinya yang baik belum tentu bagi orang lain adalah baik, makanya dia harus mengatakan maaf sebelum berkata dan melakukan segala hal.  “Maaf bu….boleh saya bertanya?”, ” Maaf mbak….kalau tidak keberatan, dapatkah memberitahukan dimana alamat ini…(sambil menunjukkan peta sebuah tempat)” “maaf dik…ibu boleh memberitahukan sesuatu hal tentang informasi penting!” .  Kalimat-kalimat ini sering kali saya dengar dari teman kuliah saya saat dulu masih kuliah di sebuah Universitas di daerah saya.  Akhirnya sampai sekarang saya agak latah mengikuti cara-cara teman saya seperti itu, karena bagi saya kalimat itu adalah kalimat-kalimat sopan yang enak didengar dan merupakan ciri budaya orang timur seperti Indonesia.

Namun demikian, belakangan ini saya sedikit punya kasus dan sedikit bertentangan dengan teman kerja saya, karena justru dia kurang suka saya mengucapkan kata-kata seperti tersebut di atas.  Salah seorang teman saya justru memprotes saya dengan mengatakan saya “Lebay” karena saya keseringan mengucapkan “maaf”  Teman kerja saya itu cukup marah dan memprotes saya agar saya tidak sering-sering mengucapkan kata maaf, Beliau mengatakan bahwa saya seperti orang yang selalu bersalah.  Teman saya mengatakan:  “Kalau mau nanya, tanya saja…tidak usah pakai maaf….maaf…dikit-dikit maaf…maaf”  itulah protes teman saya saat saya keseringan mengucapkan maaf.   Terlebih-lebih saat saya punya masalah dengan teman kerja lainnya.  Teman saya yang protes ini sangat marah kalau saya meminta maaf, karena Beliau sangat tahu saya tidak bersalah, justru orang itu yang salah telah menzolimi saya, tetap saja saya memulai meminta maaf”  kata teman saya yang protes: “anda tak akan punya harga diri kalau sampai meminta maaf terus.”

Nah, dari peristiwa ini saya bisa rasakan betapa di zaman sekarang ini pergeseran sebuah kata “maaf” sangat membuat manusia lain menilai lain dari kata tersebut.  Di TV-TV apabila seseorang telah mencemarkan nama baik seseorang, maka ungkapan “maaf ” itu harus dipublikasikan ke masyarakat bahwa beliau meminta maaf, padahal kata maaf ini seharusnya dilakukan oleh kedua belah pihak.  Janganlah merasa diri manusia yang satu merasa benar dari pada yang berbuat kesalahan.  Tidakkah seseorang berbuat kesalahan biasanya karena ada sebab kesalahan dari diri kita sebelumnya atau ada tutur kata dan perbuatan kita yang memancing orang tersebut berbuat kesalahan.  Harusnya kata “maaf” ini keluar dari setiap diri manusia siapapun sebagai pengakuan bahwa manusia adalah hanya seorang hamba yang tidak luput dari hilaf dan salah, maka perlulah kiranya setiap orang mendahului kata maaf sebelum dia menuturkan kata, kalimat pertanyaan dan lain-lain agar seseorang yang mendengarkannya langsung memahami bahwa yang berkata itu adalah manusia bukanlah malaikat yang selalu benar.  Tapi yah…sekarang ini pengaruh globalisasi atau pengaruh budaya yang sudah bergeser, orang sudah mulai gengsi mengucapkan kata “maaf”, merasa dirinyalah yang paling benar, orang lain dianggap salah semua.

Seorang istri sampai membunuh suaminya sendiri manakala sang suami ketahuan berselingkuh, dan ada juga yang menuntut agar pasangan selingkuhnya meminta maaf padanya, padahal ditelusuri ke belakang alasan suaminya berselingkuh karena sang istri selalu minta tinggal dan berlibur ketempat orang tuanya yang daerahnya jauh dari sang suami padahal sang suami sangat membutuhkan istrinya selalu berada di sampingnya.  Sang istri sangat geram dengan kesalahan suaminya padahal dirinya juga bersalah.  Sungguh manusia sekarang, lebih pandai melihat kesalahan orang lain dibanding mengkoreksi kesalahan dirinya sendiri.  Memfonis orang yang bersalah akibat kesalahan dari orang lain tanpa melihat asal mula kesalahannya.  Inilah pergeseran budaya masyarakat zaman sekarang.

Selain kata “maaf” yang sudah jadi tabu,  di zaman sekarang orang-orang hampir melupakan budaya mengucapkan “terimakasih” .  Seharusnya setiap kali orang berbuat baik kepada kita atau kepada siapapun harusnya kita mengapresiasikan ucapan “terimakasih” pada nya.  Walaupun tugas dan kegiatan yang dia lakukan memang merupakan rutinitas tugas yang sewajarnya dilakukan olehnya.

Seorang ayah mengucapkan “terimakasih” kepada anaknya karena anaknya mengambilkan handuk yang berada di teras belakang rumahnya dengan wajah tersenyum dan penuh pendidikan terhadap anaknya, agar si anak suatu saat kalau dibantu oleh orang lain akan melakukan hal yang sama.

Seorang suami hendaknya juga mengucapkan terimakasih manakala istrinya berdandan rapi dan menarik perhatiannya di rumah sepulang kerja, sehingga upaya-upaya kebaikan yang lainnya bisa ditiru oleh sang istri manakala suaminya sangat berlembah lembut pada dirinya, dan selalu memberikan nafkah yang banyak dan halal, tidak berpaling pada wanita lain karena istri selalu melayani dirinya dengan baik.

Seorang pimpinan di kantor sudah sepantasnya mengucapkan terimakasih kepada bawahan yang telah bekerja baik dan telah mengangkat nama baik organisasinya sehingga organisasinya dikenal di masyarakat dan tujuan yang diinginkannya tercapai dengan baik.  Pimpinan perusahaan akan memperoleh keuntungan yang besar karena pekerja dan karyawannya bekerja baik.  Sudah sepantasnya ucapan terimakasih itu selalu terucap dari mulut siapapun agar orang yang diucapkan terimakasih tersebut merasa sangat dihargai dan merasa dirinya dihormati sehingga suatu saat orang yang latah mengucapkkan terimakasih akan mendapatkan balasan yang sama dari orang lain.  Inilah yang disebut saling menasihati seperti dalam Al quran surat “Al Asr”, Demi masa, sesungguhnya manusia itu kerugian kecuali orang-orang yang saling mencegah kemungkaran dan saling menasihati dalam kebenaran.  Subhanallah jika setiap manusia masih banyak yang sadar untuk selalu mengucapkan “maaf”  ketika bersalah atau mengakui bahwa manusia itu tidak luput dari hilaf dan mengucapkan “terimakasih” kepada siapapun yang telah berbuat baik kepadanya.

Mengucapkan maaf tidak benar kalau hanya menjelang ramadhan atau setelah idul fitri saja, harusnya setiap ada kesempatan mereka harus meminta maaf kepada sesama manusia, karena manusia itu umur hidupnya tidak ada yang tahu, manakala seorang anak manusia dipanggil sang penciptanya, maka urusan dirinya dan manusia lainnya haruslah saling merelakan dan saling memaafkan dahulu supaya kesalahan-kesalahan dan dosanya terhadap Allah bisa diampuni.

Semoga setelah membaca tulisan ini, mari kita sama-sama kembali membudayakan kata “maaf’ saat mengakui diri sebagai hamba yang tak luput dari hilaf dan salah, serta ucapan “terimakasih” kepada sesama manusia yang telah berbuat kebaikan pada kita. Sekecil apapun kebaikan itu telah dilakukan.  Semoga Allah akan selalu menjadikan diri kita penegak kebenaran dan bijaksana dalam bertindak.  Semoga Alllahpun mengampuni dosa-dosa kita. Amin!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 10 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 11 jam lalu

Anies Baswedan Sangat Pantas Menjadi …

S. Suharto | 12 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: