Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Stefani Krista

Sedang kuliah di Universitas Andalas, Padang.

Investasi Kejujuran

OPINI | 28 February 2013 | 18:05 Dibaca: 260   Komentar: 0   0

Saat ini kejujuran sudah menjadi barang mahal di Indonesia. Ia lebih mahal dari emas dan permata. Hal ini disebabkan karena kelangkaannya. Kejujuran tak lagi mudah dijumpai pada bangsa ini. Kejujuran tak lagi menjadi gaya hidup bangsa ini. Ibu Pertiwi benar-benar sedang mengalami krisis kejujuran akut!

Mulai dari pejabat pemerintah hingga generasi muda penerus bangsa (baca: pelajar). Semuanya telah akrab dengan ketidakjujuran (kebohongan-kebohongan), baik kecil maupun besar. Para pejabat memilih kebohongan dalam bentuk korupsi, sedangkan para pelajar melakukannya dengan aksi “kompak” contek-contekan. Ketidakjujuran sudah menjadi hal biasa. Kejujuran menjadi hal yang sangat langka.

Di tahun 2013, kita pasti memiliki banyak harapan untuk melihat Indonesia yang lebih baik. Salah satu harapan besar itu adalah Indonesia yang bersih dan bebas dari korupsi. Kita tentu maklum bahwa perilaku tidak jujur adalah awal dari korupsi. Korupsi adalah masalah terbesar bangsa ini. Tak hanya satu atau dua sektor saja, namun hampir semua sektor sudah teracuni oleh virus korupsi. Kejujuran menjadi tak berharga. Kejujuran tak laku di mata para koruptor. Sungguh kondisi yang mengenaskan!

Untuk mewujudkan harapan tersebut tentulah tidak mudah. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menginvestasikan kejujuran sejak dini. Kejujuran adalah salah satu kunci melawan korupsi yang merajalela pada bangsa ini, baik sekarang maupun di masa mendatang.

Untuk memulai investasi ini, mahasiswa adalah target yang paling tepat. Kita tentu tahu bahwa pemerintah dan segala profesi yang ada sekarang tidak lama lagi akan digantikan oleh mahasiswa. Kaum inilah yang akan meneruskan perjuangan bangsa ini. Oleh karena itu, cerah atau suramnya masa depan bangsa tergantung pada investasi kejujuran yang ditanamkan pada mahasiswa saat ini.

Seperti yang kita ketahui, kebanyakan mahasiswa sekarang sudah akrab dengan ketidakjujuran. Beberapa contoh nyata antara lain contek-contekan, TA (Titip Absen), copy-paste untuk tugas atau skripsi, memalsukan data penelitian agar lekas selesai, dll. Hal-hal tersebut mungkin tampak sebagai kebohongan-kebohongan kecil. Namun dari sanalah awal korupsi itu terjadi. Bagaimana nasib bangsa ini jika kaum muda penerus bangsanya saja sudah begitu? Akankah harapan Indonesia yang bersih dapat tercapai jika dari mudanya saja sudah tak jujur?

Mahasiswa yang sering disebut kaum intelektual itu harusnya juga mampu memikirkan masa depan bangsa ini. Jangan hanya mengejar kecerdasan secara intelektual belaka, namun kejar jugalah kepribadian dan moral yang luhur. Apalah gunanya mahasiswa yang cerdas, tapi nantinya akan menjadi koruptor? Apalah guna mahasiswa yang begitu menguasai bidang ilmunya namun memakainya untuk keburukan belaka?

Budaya ketidakjujuran di kalangan mahasiswa harus dibumihanguskan! Mahasiswa harus berani jujur dalam segala hal. Kemudian, tularkan itu pada orang-orang sekitar!

Bila kita menginvestasikan sesuatu tentulah kita mengharapkan keuntungan yang besar. Investasi kejujuran pastilah diharapkan menghasilkan keuntungan yang besar pula. Dengan menginvestasikan kejujuran, kita mengharapkan lahirnya para alumni yang siap terjun ke dunia kerja berbekal kejujuran. Contohnya penegak hukum yang tidak menerima suap, pejabat pemerintahan yang sungguh-sungguh melayani masyarakat tanpa korupsi, pengusaha yang tidak menipu, dsb. Alangkah indahnya jika Indonesia seperti ini.

Masa depan Indonesia ada di tangan kita, bangsa Indonesia. Janganlah hanya sekadar berharap atau mengkritisi tanpa mulai berbuat apa-apa! Janganlah puas menjadi pembaca dan pendengar saja! Saatnya kita bergerak! Jangan terlarut pada kondisi Indonesia yang kotor ini. Mari bersama-sama kita bersihkan!

Investasi kejujuran mungkin terdengar sederhana dan tidak bombastis. Namun cara ini dapat memberikan pengaruh besar bagi masa depan Indonesia. Bangsa yang jujur akan menghasilkan bangsa yang antikorupsi. Harapannya, Indonesia yang bersih pun dapat terwujud. Mari kita menginvestasikan kejujuran demi Indonesia tercinta!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Ini Curhat Saya dan Curhat Pak Ganjar …

Ratih Purnamasari | | 28 November 2014 | 07:28

Ditangkapnya Nelayan Asing Bukti Prestasi …

Felix | | 28 November 2014 | 00:44

Masih Perlukah Pemain Naturalisasi? …

Cut Ayu | | 28 November 2014 | 08:26

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Yang Bodoh Sekali Itu Tedjo Edhy ataukah …

Daniel H.t. | 9 jam lalu

Ini Kata Mahasiswa Vietnam tentang …

Hizkia Huwae | 13 jam lalu

Ngoplak Bareng Pak Jonan, Pak Ahok, Pak …

Priadarsini (dessy) | 13 jam lalu

Polisi Serbu Mushollah Kapolri Diminta Minta …

Wisnu Aj | 15 jam lalu

Demi Kekuasaan, Aburizal Mengundang Prabowo …

Daniel H.t. | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Anomali Tabiat Politik Aburizal Bakrie …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Catatan Lumpur dan Buku Potret Lumpur …

Kembang_jagung | 7 jam lalu

Kay Pang Petak Sembilan …

Dhanang Dhave | 7 jam lalu

Sex Matang Dini, Waspadalah! By @Rahman …

Rahman Patiwi | 8 jam lalu

Tamu Negara Suguhin Singkong Rebus …

Ifani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: