Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Faisal Amri

BELAJAR untuk tidak menjadi orang gagal, pemilik akun twitter @paisal71 dan blog di www.faisalamri.com selengkapnya

Pak Menteri, FLS2N di Medan Harus Lebih Baik ya…

OPINI | 25 February 2013 | 13:02 Dibaca: 76   Komentar: 0   0

Event ini tidak hanya menjadi sebuah ajang lomba, melainkan sebuah peristiwa kebudayaan untuk mempertemukan para pelajar agar bisa saling kenal, tukar pikiran dan melihat dari dekat betapa Indonesia itu kaya akan seni budaya. Luar biasa, indahnya kebersamaan, perbedaan-perbedaan yang ada telah menjadi saksi bahwa Bhineka Tunggal Ika harus dipahami dengan baik. Dada-pun terasa sesak, ketika duta seni dari 33 provinsi di Ballroom Hotel Gland Legi Mataram waktu itu berikrar untuk menjaga kedaulatan NKRI ini. Tangan mereka berpegangan sangat erat, mereka tidak lagi melihat siapa, warna kulit dan  rambutnya, mereka bersatu padu untuk sebuah cita-cita luhur. Kesepakatan dan janji mereka di akhiri dengan mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Persis di ujung lagu, tanpa komando semuanya hening beberapa detik, semua kepala menunduk. Keheningan itu tidak bertahan lama, lalu muncul kata-kata “anda bangga menjadi anak Indonesia”, teriak suara yang tidak jelas sumbernya itu menggelegar, “bangga…..!!!!”, teriak mereka serentak.

Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) nama kegiatannya. Hajatan tahunan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan di bidang seni cukup mendapat tempat di kalangan pelajar. Setidaknya ini dibuktikan dengan keikutsertaan pelajar dari berbagai penjuru di Indonesia. Jika pelajar Indonesia selama ini mendengar bahwasanya Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya, kisah dan cerita itu mereka dapatkan melalui guru di depan kelas, atau melihat di cover majalah, buku-buku pelajaran atau melihat cuplikan peristiwa budaya di televisi dan lainnya. Jawaban konkritnya ada di kegiatan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) ini.

Melalui program ini, seolah olah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berpesan kepada pelajar Indonesia; wahai generasi pelurus bangsa, inilah aset besar bangsa kita, inilah harta yang tak ternilai harganya, inilah jati diri bangsa kita. Untuk itu, kepada generasi pengganti, rawatlah, lestarikanlah, dan dandanilah, sehingga ia muncul dengan kebaru baruan, yang pada akhirnya beragamnya kesenian tradisi yang hidup dan berkembang selalu dapat berbicara sesuai dengan zamannya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada pembukaan FLS2N di Mataram tahun lalu mengatakan bahwa, di bidang seni dan budaya ada tiga wilayah yang harus diperhatikan dan bahkan harus dilaksanakan, seperti logika, etika dan estetika. Ketiga wilayah ini menjadi penting dan bahkan ianya menjadi perioritas untuk digarap atau diolah secara serentak. Jika logika mengandalkan dan penguatan rasionalitas, sementara etika ingin menumbuhkan kesantunan dalam berperilaku maupun berinteraksi, sedangkan wilayah estetika berperan sebagai pembungkus dengan baik sehingga hasilnya bermuara pada keindahan. Ini harus mendapat perhatian khusus tidak hanya bagi guru melainkan segenap masyarakat dan pelajar tentunya.

Dari dua kali penulis mengikuti kegiatan FLS2N ini, yakni  tahun 2011 di Makasar, dan 2012 di Mataram. Jujur saja, event tahunan ini pantas dipuji. Namun sangat di sayangkan, perkembangan karya dan kreativitas yang luar biasa dari peserta tidak diikuti oleh kepiawaian para penyelenggara atau lebih tepatnya panitia lapangan. Untuk beberapa cabang lomba selalu diselimuti dengan masalah serius. Hal ini bisa terlihat dari tempat pelaksanaan lomba tari berpasangan yang tidak memadai, sound sistim yang ala kadarnya. Tidak sampai disitu, ketidak mengertian dari seorang soundmen membuat kegiatan yang berlabel Nasional ini menjadi kering makna. Tidak hanya di lomba tari bermasalah, lomba solo vocal harus berpindah tempat, karena dewan jurinya protes dengan tempat yang dianggap tidak pantas untuk sebuah event bersekala Nasional.

Mungkin ini yang harus menjadi perhatian khusus bagi Kemendikbud bahwa, kegiatan yang merupakan bagian dari pendidikan karakter ini harus ditata dengan baik. Hal ini bukan tidak mungkin, karena event besar ini juga didukung oleh dana yang tidak sedikit. Tanpa disadari, event tahunan ala Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini telah melahirkan pelajar-pelajar berprestasi di bidang seni, yang kalau dilihat dari perkembangannya, ada sebuah kemajuan yang luar biasa, baik itu dari tatanan konsep karya maupun kwalitas pendukungnya. Maka wajar kiranya, Ibu Maria seorang dewan juri tari berpasangan yang juga seorang koreografer dan staf pengajar di Institut Kesenian Jakarta yang baru kali ini terlibat dan melihat secara langsung kegiatan FLS2N ini berdecak kagum melihat penampilan para peserta dari seluruh provinsi di Indonesia itu. “luar biasa, karya dan kemampuan teknik mereka sudah layak dan pantas untuk di usung ke panggung profesional”, gerutu Ibu Maria tersebut.

Semoga panggung FLS2N di Medan-Sumatera Utara pada bulan Juni 2013 akan berbicara lain. Tentu kita bersepakat bahwa, event yang menelan biaya besar ini tidak hanya terjebak pada proyek tahunan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan saja, melainkan ia harus lebih baik, dan bisa dipertanggungjawabkan dari segi kwalitas penyelenggaraan.

Penyelenggaraan yang dimenej dengan baik, ditangani oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya akan memberikan kepuasan kepada peserta yang jauh-jauh datang dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Lebih jauh, kehadiran event ini tidak hanya memperebutkan medali dan uang tunai yang di siapkan oleh panitia, melainkan para peserta yang datang mendapatkan ilmu bagaimana membuat dan mengelola kegiatan dengan baik, bukannya begitu pak Menteri?.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: