Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Purnawan Kristanto

Purnawan adalah seorang praktisi komunikasi, penulis buku, penggemar fotografi, berkecimpung di kegiatan sosial, kemanusiaan dan selengkapnya

Pawai Keberagaman Budaya dalam Rangka Cap Gomeh

REP | 23 February 2013 | 11:47 Dibaca: 439   Komentar: 0   0

Lima belas hari setelah Xincia atau Imlek, masyarakat Tionghoa menyelenggarakan perayaan Cap Gomeh. Perayaan ini melambangkan hari kelima belas dan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi komunitas kaum mingran Tionghoa yang tinggal di luar China. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien yang bila diartikan secara harafiah bermakna 15 hari atau malam setelah Imlek. Bila dipenggal per kata, Cap mempunyai arti sepuluh, Go adalah lima, dan Meh berarti malam. Cap Go Meh juga sering disebut Yuan Hsiao Cieh atau Shang Yuan Cieh dalam bahasa Mandarin.

Jumlah Komunitas suku Tionghoa di Klaten sebenarnya cukup signifikan, tetapi mereka biasanya merayakan Cap Gomeh di kota Solo, Yogyakarta dan Semarang. Melihat kenyataan ini, maka para aktivias dari Gusdurian Klaten berinisiatif memanfaatkan momen Cap Gomeh untuk mempromosikan keberagaman budaya di Klaten. Ide ini disampaikan kepada Gus Jazuli Kasmani, sebagai pengasuh pondok pesantren At Muttaqien. Gayung ternyata bersambut. Dengan menggandeng kader IPNU (Ikatan pelajar NU) dan Sekolah Kader NU, maka mulai dirancang bentuk aksinya, yaitu pawai keberagaman budaya, orasi budaya dan atraksi komunitas.

Hanya dalam waktu kurang seminggu, berbagai kelompok masyarakat mendaftarkan diri untuk bergabung. Ada 52 kelompok masyarakat yang terdiri dari elemen agama, hobi dan kebudayaan yang siap berpawai. Mereka berasal dari komunitas di Klaten, yaitu:

  • Jaringan Gusdurian
  • Perkumpulan Dharma Bakti
  • Badan Koordinasi Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI)
  • Forum Kongkow Umat Beriman (FKUB Muda)
  • Palang Merah Indonesia (PMI)
  • Pemuda Teravada Indonesia (Patria)
  • Paguyuban Budaya Jawa Galuh
  • Gereja Kristen Indonesia (GKI) Klaten
  • Pesantren Sakeh Akrom Indonesia
  • Vocalista Angels
  • Federasi Olahraga Balap Motor
  • Aliansi Rakyat Anti Korupsi Klaten (ARAKK)
  • Omah Wayang
  • Tabloid Budaya “Jabalakat Lazuardi Nusantara”
  • Paruman Walaka Parisada Hindu Darma Indonesia
  • Jam’iyah Huffadh dan Hafidhat Muda (JIHAM)
  • Orang Muda Katolik Paroki Klaten
  • Ikatan Pelajar NU
  • Pesantren Al Fals
  • Masyarakat dan Santri Peduli Pertanian (SANTUNI)
  • SAR Klaten
  • Forum Masyarakat Pariwisata (Formasta)
  • Forum Seniman Jalanan
  • Majelis Agama Budha Indonesia (MAGABUDI)
  • Perkumpulan Pedalangan Indonesia (Pepadi)
  • Stand Up Comedy Klaten (STUC)
  • Derap Kemanusiaan dan Perdamaian
  • Banser Ansor
  • Komunitas Pesulap Klaten
  • Rumah Dongeng Klaten
  • Jejak Amukti Production
  • Lembaga Qori’ul Qur’an
  • Pluralism Community
  • Sekolah Kader Muda NU
  • Paguyuban Wasilah Indonesia
  • Pesantren Kelir Indonesia
  • Lakpesdam NU
  • Forum Mubaligh dan Ustadz Madin
  • Orang indonesia (Oi)
  • Forum Komunikasi Informasi Simpul Petani
  • GP Ansor
  • Pijar Lindu Gedhe
  • Paguyuban Senirupawan Klaten (Pasren)
  • GRANAT
  • Pesantren Darul Afkar
  • Punokawan Lintas Iman
  • Majlis Rebana Hadrah Sunan Muttaqin (MARHABAN)
  • Beatbox Tiyang Klaten
  • GKJ Klasis Timur Klaten
  • GKJ Klasis Barat Klaten
  • Forum Pesantren Lereng Merapi
  • Senang Nandur Harapan Ngunduh (NAHNU)
  • Wesd Klaten Rap
  • FKUB Kebersamaan
  • Vocalica Santree

    Acara ini akan diselenggarakan pada hari Minggu, 24 Februari. Seperti biasa, setiap minggu pagi mulai pukul 6, beberapa ruas jalan Pemuda ditutup dari akses kendaraan bermotor dalam program Car Free Day. Pawai ini akan memanfaatkan momen Car Free Day.

    Pawai akan diberangkatkan pada pukul 7:30, dari Alun-alun Klaten.  Rute yang ditempuh:

    • Dari Alun-alun Klaten ┬ábergerak ke Jl. Pemuda selatan berhenti sejenak untuk atraksi di depan rumah dinas bupati Klaten.
    • Kemudian pada pertigaan BRI belok kiri, melewati jalan Pramuka.
    • Selanjutnya pada perempataan polres lama belok kiri melewati jalan Bayangkara hingga pasar Ngepos ke kanan, melewati jl Cepaka.
    • Sesampai di perempatan Cepaka belok kiri menyusuri jl Dewi Sartika, lapangan Tenis lewat jl Rajawali.
    • Sesampai di perempatan Karangduwet belok kiri melewati samping pasar gede lalu kembali lagi ke Alun-alun Klaten.

    1361593148141590506

    Di sepanjang jalan, peserta pawai akan membagikan kalender cantik yang berisi ajakan untuk mensyukuri keberagaman budaya yang ada di Klaten. Sesampai di Alun-alun, acara dilanjutkan dengan orasi budaya, yang dilanjutkan dengan atraksi dari berbagai komunitas, seperti: Sulap, wayang, dongeng, stand up comedy, rebana, haddrah, vokalica santree dan yang paling seru adalah tampilnya vokal grup kebanggaan kabupaten Klaten yang menggondol gelar juara dunia pada kompetisi di Amerika yaitu Vocalista Angels.

    Pada acara ini juga akan dibagikan buku kecil yang menguraikan tentang Islam dan Tionghoa.

    Acara ini digagas oleh masyarakat akar rumput dan dikoordinasi oleh Paguyuban Mitra Multikultur Indonesia. Tidak ada keterlibatan dari pemerintah. Acara ini bukan kerja pertama bagi Paguyuban Mitra Multikultur. Sebelumnya mereka telah terlibat dalam aksi kemanusiaan saat erupsi Merapi. Kemudian berlanjut pada kerjasama aksi sosial operasi katarak gratis dan pengamanan hari perayaan keagamaan, Anggota paguyuban ini adalah komunitas lintas iman, lintas suku dan lintas kebudayaan yang ada di Klaten.

    Berikut ini foto-foto rapat panita:

    1361594118618229268

    Rapat Persiapan

    1361594177939004741

    Koordinator pawai

    1361594300588800819

    Tim tanggap bencana juga ikut

    13615942471351180790

    Lintas Komunitas

     
    Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
    Siapa yang menilai tulisan ini?
      -
    Processing data ..
    Tulis Tanggapan Anda
    Guest User


    HEADLINE ARTICLES

    Stanley, Keindahan Sisi Selatan Hongkong …

    Moris Hk | | 29 August 2014 | 14:46

    Kisah Hidup Pramugari yang Selamat dari …

    Harja Saputra | | 29 August 2014 | 12:24

    Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

    Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

    Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

    Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

    Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

    Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


    TRENDING ARTICLES

    Doa untuk Mas Vik …

    Aiman Witjaksono | 10 jam lalu

    Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

    Ryan M. | 13 jam lalu

    Jokowi Mengkhianati Rakyat Jika Tidak …

    Felix | 14 jam lalu

    Ganteng-Ganteng Hakim MK …

    Balya Nur | 14 jam lalu

    Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

    Rizal Amri | 14 jam lalu


    HIGHLIGHT

    BBM Naik Kenapa Takut? …

    Mike Reyssent | 7 jam lalu

    Kasus Florence : Salahkah Bahasa …

    Mania Telo | 7 jam lalu

    Waspada, Demam Berdarah Mulai Jangkiti …

    Weedy Koshino | 8 jam lalu

    Dilarang Berenang di Laut Mati …

    Andre Jayaprana | 8 jam lalu

    Udah Ngapain Aja untuk Menghadapi Masyarakat …

    Zuhri Muhammad | 8 jam lalu

    Subscribe and Follow Kompasiana: