Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Agus Budiarta

setiap langkah gerakan riil lebih penting dari selusin program

Mendorong Berdirinya Kampung Pancasila

OPINI | 22 February 2013 | 17:54 Dibaca: 379   Komentar: 0   0

Yogyakarta merupakan miniatur Indonesia. Di sini hidup beragam manusia dengan berbagai latar belakang Suku, Agama, Ras maupun Golongan. Dari Sabang Sampai Merauke semuanya ada di Yogyakarta.

Dengan keberadaanya tersebut, Yogyakarta seharusnya bisa menjadi “role model”, khususnya dalam mengembangkan kampung berbasis Pancasila. Sejarah mencatat bahwa, sejak negeri Ngayogyakarta Hadingrat berdiri, melalui rajanya Sri Sultan Hamengku Buwono I, sudah mencanangkan kehidupan bertoleransi dan mengharagai keberagaman di Yogyakarta. Hal ini ditandai dengan pemberian fasilitas berupa kampung bagi masyarakat Arab, Tionghoa, dan Eropa untuk bersama-sama membangun Yogyakarta.

Kini, di tengah gempuran arus globalisasi, wajah perkampungan di Yogyakarta sudah mulai berubah. Hal ini tidak terlepas dari maraknya pembangunan perumahan serta banyaknya keberadaan asrama mahasiswa. Pembangunan perumahan diberbagai wilayah, tidak hanya menggeser keberadaan kampung, tetapi juga membangkitkan rasa iri bagi masyarakat sekitar. Perumahan merupakan representasi dari masyarakat kelas menengah ke atas (baca: kaum borjuis), sedangkan kampung merupakan representasi masyarakat kelas bawah.

Pola komunikasi antara masyarakat di perumahan dengan masayarakat kampung sudah jauh berbeda. Kalau di perumahan, semua jenis keamanan sudah terjamin karena rata-rata menggunakan jasa keamanan. Pola komunikasi pun cendrung individualistik, tidak mengenal satu dengan tetangga yang lainnya. Sementara di perkampungan, tanggung jawab keamanan ada di setiap penghuni kampung. Ronda malam merupakan bagian dari cara masyarakat berkomunikasi dengan warga lainnya, khususnya dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah perkampungannya masing-masing.

Bahkan ada fenomena kecendrungan pembangunan perumahan di Yogyakarta, sudah di kotak-kotakan berdasarkan preferensi tertentu seperti etnis dan golongan. Begitu pun dengan maraknya pembangunan asrama mahasiswa, menyebabkan komunikasi dan sosilisasi antara para pendatang (baca : mahasiswa) dengan masyarakat setempat tidak berlangsung secara efektif. Keadaan eksklusifitas seperti ini tidak saja membuat masyarakat semakin terkotak-kotak, tetapi juga berdampak buruk munculnya sentimen primordialisme.

Keadaan seperti ini, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Butuh solusi yang pas untuk mengatasinya. Sebelum semuanya “musnah”, alangkah baiknya mengambil tindakan antisipatif. Mendorong lahir dan terbentuknya kampung Pancasila bisa menjadi salah satu alternatif dalam menjembatani keadaan tersebut.

Lewat kehadiran “kampung Pancasila” kita disadarkan untuk mengenang betapa pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan. Kampung Pancasila juga menjadi bagian penting dalam menjaga kebhinekaan dan keragaman di Yogyakarta.

Di samping itu, kampung Pancasila bisa menjadi garda terdepan dalam menangkal arus globalisasi. Lewat kampung Pancasila, masyarakat disadarkan untuk bisa menangkal budaya luar. Yang baik diterima yang jelek ditolak. Wacana kampung pancasila juga bisa merubah pola kehidupan msayarakat modern ala perumahan yang individualistik. Karena dalam kampung Pancasila semua mekanisme diatur. Seperti setiap warganya wajib melafal sila Pancasila, memahami arti dan simbol dalam Pancasila. Lebih dari itu setiap waktu perlu digalakan lomba antar “kampung Pancasila”, guna menanamkan nilai-nilai Pancaila kepada anak-anak sejak dari kecil.

Perlombaan kampung Pancasila bertujuan sebagai media komunikasi antar masyarakat. Lewat berbagai lomba tersebut, masyarakat bisa mengenal satu sama lain, bisa menumbuhkan rasa toleransi, menumbuhkan rasa kebersamaan, tenggang rasa dan menghargai perbedaan satu dengan yang lainnya.

Untuk itu, penguatan perangkat pemerintahan perlu disiapkan. RT, RW, Dukuh, Lurah, merupakan garda terdepan dalam mengapresiasi pembentukan kampung pancasila tersebut. Para perangkat pemerintahan tersebut, perlu penguatan dalam memahami nilai-nilai Pancasila. Kalau perangkat pemerintahan tersebut sudah siap, maka langkah selanjutnya adalah sosialisasi kepada masyarakat umum. Dalam sosialisasi kepada masyarakat perlu melibatkan banyak pihak seperti karang taruna, remaja masjid, pemuda gereja, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta stakeholders, yang ada di tengah masyarakat.

Kita semua sepakat tentunya lewat kehadiran kampung Pancasila, menjadi penangkal melawan nilai-nilai asing dan juga nilai-nilai primordialistik. Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat Yogyakarta memikirkan pentingnya kehadiran kampung Pancasila, sebagaimana salah satu amanat asas Keistimewaan DIY yaitu, ke-bhineka-tunggal-ika-an. Di harapkan kampung Pancasilia kedepannya menjadi produk kebudayaan baru dalam masyarakat Yogyakarta, sehingga bisa menjadi “role model” masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.***

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 7 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 7 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 8 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 13 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Cacat Kusta Turun ke Jalan …

Dyah Indira | 11 jam lalu

Sayin’ “I Love to Die” …

Rahmi Selviani | 11 jam lalu

SBY Mulai Iri Kepada Presiden Jokowi? …

Andrias Bukaleng Le... | 11 jam lalu

Ratapan Bunga Ilalang …

Doni Bastian | 11 jam lalu

Mulut, Mata, Telinga dan Manusia …

Muhamad Rifki Maula... | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: