Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Pak De Sakimun

Sedang menapaki sisa usia,senang (belajar) menulis dan membaca, mencari kawan canda didunia maya. MOTTO : SERIBU selengkapnya

Mengais Warisan Budaya Leluhur [4]

OPINI | 21 February 2013 | 18:23 Dibaca: 570   Komentar: 0   8

1361444782271486888

dok.pri

Mengais Warisan Budaya Leluhur [4]
BUSANA, ATRIBUT DAN AKSESORI WAYANG KULIT

Oleh :
Pak De Sakimun

Di dunia pewayangan, cara berbusana berbeda-beda menurut status dan strata dalam kehidupan sosial tokoh wayang. Busana dan atribut atau aksesori lainnya juga untuk mempermudah mengenali seseorang tokoh (wayang), apakah ia seorang punggawa, ksatria, raja, brahmana dan apakah seorang dewata.

Jaman sekarang jika ada seorang pria mengenakan anting ditelinganya terlihat aneh. Padahal pada jaman dulu (dunia pewayangan) semua tokoh wayang; pria maupun wanita, punggawa maupun raja, jelata maupun brahmana dan titah maupun dewata semua memakai suweng atau perhiasan telinga lainnya. Juga mengenakan ali-ali, gelang, kalung, kroncong (gelang kaki) dan aksesori yang lain yang umumnya dikenakan oleh seorang wanita.

Gelang tidak hanya dikenakan pada pergelangan tangan saja, ada yang dikenakan pada lengan bagian atas yang disebut kelat bahu. Ada juga yang dikenakan di kaki namanya binggel atau kroncong (bukan keroncong orkes). Di dalam dunia pewayangan perhiasan atau atribut bukan hanya sekadar sebagai pemanis atau pelengkap busana, namun ada yang merangkap sebagai azimat atau mempunyai daya kesaktian tertentu. Contoh, Gatutkaca yang memiliki Kutang (rompi) Antakusuma yang mempunyai khasiat bisa mabur tanpa lar (terbang tanpa sayap). Sayang, tidak dijual dipasaran, itupun hanya ada satu-satunya pun hanya di dunia pewayangan. Coba kalau ada yang jual di super market, pasti produsennya atau perusahan konveksinya kewalahan melayani pembeli….hahahaha.

Bentuk gelang berbeda-beda. Yang dikenakan oleh raja berbeda dengan gelang yang dipakai oleh punggawa atau prajurit, gelang yang dipakai kesatria berbeda juga bentuknya dengan yang dikenakan oleh batur atau punakawan dan lain sebagainya. Ada gelang khusus yang hanya dikenakan oleh tokoh tertentu, umpamanya Gelang Candra Kirana hanya empat tokoh wayang yang memakainya, yakni Dewa Ruci, Batara Bayu, Bima dan Hanoman hanya itulah yang mengenakan Gelang Candra Kirana. Ciri-ciri tokoh wayang yang memakai Gelang Candra Kirana adalah mempunyai Kuku Pancanaka dan memakai kampuh (kain panjang sebagai bebet) Poleng Bang Bintulu, kotak-kotak hitam-putih seperti papan catur. Mungkin Bima dan Hanoman grand master dunia pewayangan…heehhe.

1361445260834536559

dok.pri

Tokoh wayang ada juga yang tidak mengenakan gelang dan kelat bahu samasekali seperti Prabu Punta Dewa atau Yudistira, Raden Janaka atau Harjuna, Dewi Bratajaya atau Wara Subadra. Padahal Raden Harjuna ketika masih timur (muda) yang mempunyai nama Raden Permadi itu memakai gelang dan kelat bahu. Mengapa busana Raden Harjuna menurut saya malah sangat sederhana sekali?. Selain tidak memakai kelat bahu, gelang, kroncong, kalung dan sebagainya, Harjuna juga tidak memakai keris. Mungkin lantaran Raden Harjuna selain ngganteng dan sakti mandra guna, Harjuna juga sudah dinobatkan sebagai lelananging jagat oleg Jawata. “Buat apa pakai aksesori banyak-banyak dan macam-macam, ngribet-ngribeti, toh semua wanita termasuk bidadari Kahyangan Jonggring Salaka semua tertarik pada saya, bukan” pikir Harjuna, mungkin.

Ragam busana dan atribut serta aksesori wayang kulit terlalu banyak jika di tulis disini. Oleh sebab itu dibawah ini hanya beberapa contoh saja gambar atribut wayang kulit saya cantumkan pada artikel ini sebagai ilustrasi:

1361445126802556527

dok.pri

Menjadi seorang raja memang sangat berat tanggung jawabnya. Terlihat dari atribut yang dikenakan di kepala saja begitu banyak dan berat, belum lagi yang dikenakan pada bagian tubuh yang lain. Apakah itu merupakan simbol dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang raja?, entahlah.

1361445388494961795

dok.pri

Dari penggambaran busana dan aksesorinya Buta Cakil kelihatan raksasa yang kurang percaya diri. Biasanya Buta Cakil selain selalu nyengkelit dua buah keris sekali gus, dia diikuti oleh wadyabala danawa yang tidak sedikit. Tetapi Buta Cakil mungkin sudah ditakdirkan tidak berumur panjang. Dalam cerita apapun dalam pagelaran wayang selalu mati oleh ksatria dalam hitungan tidak lebih dari satu jam peranannya. Apes memang jadi Buta Cakil. Kasihan.

1361445527655733863

dok.pri

1361445646566743115

dok.pri

13614457661832950479

dok.pri

Demikianlah beberapa contoh busana, atribut dan aksesori yang dikenakan tokoh-tokoh wayang kulit, semoga bermanfaat.

Bersambung…………..

*****

Tak kenal maka tak sayang
Tak sayang maka tak cinta
tak cinta maka tak peduli
Tak peduli, bersiaplah ‘tuk kehilangan

*****

SolSel, 21-02-2013

Pak De Sakimun

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 12 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 15 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 16 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 17 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: