Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ricard

karyawan swasta, peduli pada masalah sosial, tinggal di Kupang

Ja’i, Tarian Massal dari Perbatasan Timur Indonesia, Pecahkan Rekor MURI

REP | 18 February 2013 | 02:08 Dibaca: 1036   Komentar: 0   1

136112782519040567

sebagian kecil dari 8 ribu peserta Jai

*) Konon asalnya dari India

Sabtu, 16 Februari 2013 anak-anak Nusa Tenggara Timur (NTT) perantauan di Pulau Jawa untuk pertama kalinya menggelar pesta rakyat dan karnaval budaya NTT di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ). Tidak kurang dari 10 ribu orang NTT se Jabodetabek, Bandung, dan Banten memenuhi semua sisi dan sudut PRJ.

Mereka tampil dalam pakaian dan assesoris khas daerah masing-masing, sehingga menjadikan Arena PRJ bagaikan lapangan terbuka di kota Kupang (Ibukota NTT). Semua usia dan lapisan campur baur menjadi satu, dalam kecerian dan sukacita bersama. Bahkan ada yang menjadikannya ajang reuni, karena sudah lama tak saling jumpa.

Suasana penuh sukacita itu mereka satukan dalam ekspresi budaya daerah mereka masing-masing dengan berbagai bentuk. Mengenakan kostum dan assesoris daerah, membawa makanan khas untuk dinikmati bersama, membawakan tari dan lagu di atas panggung kehormatan, membawa hasil kerajinan tangan, tenunan dan lain sebagainya. Yang tak kalah penting adalah berbagi cerita tentang perkembangan kampung halaman masing-masing untuk membangkitkan rasa rindu pulang kampung.

13611625501983209960

suasana makan bersama mewarnai pesta Jai massal ini. Dok pribadi

Acara dengan tema “NTT Memanggil” itu digelar untuk merayakan HUT ke-54 Provinsi NTT sekaligus mempromosikan Sail Komodo-2013.

13611621881529191738

anggota tim pemandu Jai

Provinsi yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste ini tercatat sebagai provinsi dengan pulau terbanyak di dunia yaitu 566 pulau yang berjajar antara 80-120 derajat LS dan 1180-1250 Bujur Timur. Di antaranya adalah Flores, Sumba, Timor dan Alor. Karenanya NTT sering disebut sebagai Flobamora (singkatan dari Flores, Sumba, Timor dan Alor).

Jumlah ratusan pulau besar dan kecil itu sekaligus mengisyaratkan bahwa di sana ada sejuta kekayaan budaya yang belum banyak diketahui publik. Kazanah budaya yang masih ‘terpendam’ itu sebagian kecilnya telah ditampilkan di atas panggung di arena PRJ disaksikan tamu kehormatan Gubernur DKI Jakarta Jokowi didampingi Gubernur dan Wagub NTT. Kehadiran Jokowi untuk memenuhi harapan warga NTT yang menginginkan agar Jakarta menjadi etalase promosi wisata budaya NTT ke mancanegara.

Rekor MURI

Sukacita anak-anak 566 Pulau itu kemudian membuncah dalam satu tarian massal, yaitu JA’I. Museum Rekor Indonesia (MURI) yang hadir dalam acara itu mencatat Ja’i massal tanggal 16 Februari 2013 itu telah memecahkan rekor nasional dengan jumlah massa 8 ribu orang.

13611290922069172088

penyerahan rekor MURI kepada panitia penyelenggara

Tarian daerah khas Bajawa dari Pulau Flores ini sudah sangat populer di kalangan masyarakat NTT diaspora, baik di dalam maupun di luar negeri. Sekitar delapan ribu orang seakan terhipnotis larut dalam keseragaman gerakan JA’I penuh energi asal kabupaten Ngada ini. Konon, tarian massal ini asal-usulnya dari India yang pada abad pertengahan dibawa para eksodus India ke Flores, NTT. Tak heran kalau Ja’i khas Bajawa ini mirip dan sebangun dengan satu jenis tarian populer di India bernama Ja’i Ho.

http://www.youtube.com/watch?v=HxofohmohJY

Kemiripannya terletak pada kharakter dasar tarian itu sendiri, yakni sebagai tarian massal atau tarian komunal (bukan aksi individu). Artinya, semakin banyak orang yang ikut menari (Ja’i), semakin nikmat dan indah Ja’i itu ditonton. Karena itu tarian ini hanya cocok bagi masyarakat komunal (lawan dari masyarakat individual) yang menjadi ciri khas masyarakat NTT kebanyakan.

Kemiripan lainnya adalah keajegan ragam gerakannya. Sedikit ragamnya namun dilakukan berulang-kali mengikuti irama lagunya yang khas atau gong-gendang yang mengiringinya. Simple ragamnya namun kaya energinya. Dilakukan penuh rasa, sepenuh jiwa, sembari merengkuh dan melepaskan energi.

Barangkali inilah salah satu pertimbangan MURI mengapa Ja’i dipilih masuk rekor. Tidak saja karena jumlah massa terbanyak, tetapi juga suasana sukacita yang dihasilkan dari energi ja’i, serta penyebarannya hingga ke berbagai pelosok negeri.

http://www.youtube.com/watch?v=DBJ8bc4kXeA


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Tips Ibu Jepang Menyiasati Anak yang Susah …

Weedy Koshino | | 22 October 2014 | 08:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Ketika Rintik Hujan Itu Turun di Kampung …

Asep Rizal | | 21 October 2014 | 22:56

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 2 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 2 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 3 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 4 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Inaq Marhaeni, Cerita Lain dari Pulau Seribu …

Maya Rahmayati | 7 jam lalu

Mungkinkah Takdir Itu Bisa Dirubah? …

Jejen Al Cireboni | 7 jam lalu

4 Keunikan Krisna Pusat Oleh-oleh Khas Bali …

Rizky Febriana | 7 jam lalu

Menyambut Harapan Baru dengan Kerja Nyata …

Saikhunal Azhar | 7 jam lalu

Saksi Sejarah Bangsa …

Idos | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: