Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Aisyah Pertiwi

Tumbuh di desa, kuliah di kota, bercita-cita keliling dunia dan masuk surga.

Ada Apa di Balik Topeng Ahmad Heryawan?

OPINI | 18 February 2013 | 05:57 Dibaca: 8911   Komentar: 0   8

13611416001203762429

http://www.ahmadheryawan.com/home/di-media-2/3773-tandatangani-kontrak-buruh-nilai-aher-pemberani

Saya cukup terkejut saat membaca berita ini; Aliansi Buruh se-Bogor Raya (Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi) menggelar deklarasi dukungan serta penandatanganan kontrak komitmen jaringan organisasi buruh dengan Calon Gubenur (Cagub) Jawa Barat Ahmad Heryawan. Organisasi buruh yang menyatakan dukungan terhadap calon gubernur nomor 4 ini antara lain Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Serikat Pekerja Nasional (SPN), Federasi Serikat Pekerja Indonesia (FSPIN), Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI), Asosiasi Serikat Pekerja (Aspek) Indonesia, dan Forum Buruh Bogor Bersatu.

Buruh mendukung Ahmad Heryawan? Nggak salah?? Bukannya kalau menyoal buruh, ada satu sosok yang citranya berasosiasi sangat lengket dengan kepedulian terhadap kaum buruh?

Ya, Rieke Dyah Pitaloka. Jelas-jelas dengan percaya diri Rieke menyatakan bakal menang telak di basis buruh. Menilik rekam jejaknya pun, Rieke memang dikenal sebagai aktivis pejuang kesejahteraan buruh. Calon Gubernur Jawa Barat jagoan PDIP ini terkenal dengan kiprahnya yang gigih memperjuangkan RUU Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BJPS). Bahkan jauh sebelum mendapatkan kursi di Komisi IX DPR RI, ia memiliki perhatian khusus terhadap kaum buruh. Dalam beberapa kesempatan pun. Rieke tak segan turun ke jalanan bersama para buruh atau menggelar jumpa pers guna memperjuangkan aspirasi buruh.

Maka ketika hadir berita bahwa Aliansi Buruh se-Bogor mendeklarasikan dukungan terhadap calon gubenur nomor 4, Ahmad Heryawan, saya menjadi bertanya-tanya. Apa yang terjadi sampai para buruh berpaling ke lain hati? Apalagi setelah menemukan berita lain yang lebih menarik, Februari 2012 lalu ternyata pernah ada demostrasi para buruh Jakarta mengkritisi kebijakan gubernur yang berkuasa saat itu, Fauzi Bowo. Yang menarik adalah para buruh tersebut memakai topeng Ahmad Heryawan. Ada apa dengan topeng Ahmad Heryawan?

13611417501391514151

http://www.jalanpanjang.web.id/2012/02/buruh-jakarta-berdomenstrasi-memakai.html.

Para buruh Jakarta yang berdemonstrasi membandingkan antara Upah Minimum Sektor Provinsi (UMSP) yang sangat rendah (hanya naik 16%) dengan Upah Minimum Sektor Kabupaten (UMSK) Bekasi yang naik hingga 30 persen dari sebelumnya. Yang lebih menarik lagi, para buruh tersebut menyatakan bahwa Ahmad Heryawan sebagai gubernur berpihak kepada para buruh.

Dukungan yang dideklarasikan oleh Aliansi Buruh se-Bogor Raya terhadap Aher di halaman sebuah pusat perbelanjaan di Kota Bogor, Sabtu 16 Februari kemarin disertai dengan penandatangan kontrak komitmen organisasi buruh dengan Aher. Komitmen yang berlandaskan semangat untuk kemajuan pembangunan Jawa Barat ini mengandung beberapa poin. Poin pertama, pasangan Aher-Deddy Mizwar berkomitmen untuk mengawal Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK). Poin kedua, berkomitmen untuk memberikan pendidikan gratis kepada anak para buruh. Ketiga, berkomitmen untuk terus memperjuangkan kesejahteraan kaum pekerja.

Sebagai masyarakat Jawa Barat, saya pikir Aher hanya peduli terhadap pendidikan dan kesehatan saja. Ternyata kepedulian Aher sebagai gubernur 2008-2013 juga dirasakan oleh para buruh. Ketua Federasi Serikat Pekerja Indonesia (FSPIN) Jawa Barat, Zulkifli menyatakan bahwa kalangan buruh menilai Aher sebagai pemimpin yang berani. Tidak hanya kesediaan menandatangani kontrak komitmen, Aher sebagai gubernur juga telah mengeluarkan kebijakan pro buruh. Salah satunya adalah penandatangannya besaran UMK se-Jabar yang akan diberlakukan mulai 2013.

Lantas apakah dengan menjadi “teman” kaum buruh, Aher menjadi “musuh” para pengusaha? Menurut Aher, sebagai gubernur dirinya berupaya untuk melindungi dua pihak yang berperan vital dalam dunia ketenagakerjaan, yaitu pengusaha dan pekerja (karyawan/buruh). Dunia kerja tidak ada tanpa pengusaha, juga tanpa buruh. Sehingga harus ada komitmen yang kuat untuk membangun hubungan harmonis antara pengusaha, buruh, dan dinas tenaga kerja. Jika hubungan antara buruh dengan pekerja juga harmonis, investasi akan mengalir dari dalam maupun dari luar negeri. Pengusaha punya hak untung, pekerja punya hak kesejahteraan. “Pengusaha kita mudahkan dalam beroperasi, buruh kita sejahterakan”, ujarnya mantap.

Begitu ternyata. Tidak salah Aliansi Buruh se-Bogor Raya mendukung Aher. Konkret!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pelajaran Akan Filosofi Hidup dari Pendakian …

Erik Febrian | | 18 April 2014 | 10:18

Memahami Penolakan Mahasiswa ITB atas …

Zulfikar Akbar | | 18 April 2014 | 06:43

Curhat Dinda dan Jihad Perempuan …

Faatima Seven | | 17 April 2014 | 23:11

Sandal Kelom, Sandal Buatan Indonesia …

Acik Mdy | | 18 April 2014 | 00:40

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 5 jam lalu

Senjakala Operator CDMA? …

Topik Irawan | 6 jam lalu

Tips Dari Bule Untuk Dapat Pacar Bule …

Cdt888 | 7 jam lalu

Seorang Ibu Memaafkan Pembunuh Putranya! …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Manuver Amien Rais Menjegal Jokowi? …

Pecel Tempe | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: