Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ayick Tigabelas

Sedikit pinter, sedikit bloon, Sedikit aneh, sedikit punya wawasan, sedikit-banyak tahu, sedikit2 banyak bertanya.

Inilah Daftar Manusia Sampah Indonesia

OPINI | 17 February 2013 | 21:06 Dibaca: 517   Komentar: 0   0

Bagi saya seseorang yang bekerja di luar negeri atau Istilah Umum yang kita kenal adalah Tenaga Kerja Indonesia; itu adalah sebuah tindakan konyol manusia sampah, bodoh dan sia-sia. Kenapa demikian? Menurut pengamatan saya selama ini (ceillah..), mereka (Para TKI) ketika kembali ke negara asalnya, sebagian besar tidak memberikan kontribusi apa-apa terhadap dirinya dan keluarganya; lebih-lebih kepada negara. Yang dia dapatkan dari hasil kerja di luar negeri (saat menjadi TKI) hanyalah kenikmatan sesaat saja. Hanya mendapatkan upah yang melimpah, Gengsi, dan pengalaman kerja di luar negeri. itu Saja! Dan keuntungan utamanya adalah, hanya menambah devisa negara.

Sebagian besar, Sekembalinya mereka disana, mereka juga sama saja statusnya dengan yang sebelumnya, tidak merubah kehidupan mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya. Katakanlah para TKI yang sebelum berangkat Mereka hanya seorang petani, atau pedagang kaki lima. Coba anda perhatikan para TKI yang sudah kembali. ketika mereka balik kenegara asalnya. Apa yang mereka banggakan? Adakah yang berubah? Mungkin, yang berubah hanyalah tabungan mereka menjadi semakin banyak. Katakanlah ketika mereka kembali ke negara asalnya, tabungan mereka menjadi sekian juta atau lebih. Tapi apakah tabungan tersebut tidak bisa habis? itulah kenapa saya mengatakan hanya kenikmatan sesaat. Tabungan bernilai sekian juta itupun akan habis dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu. Entah itu tiga atau lima tahun saja.

Nah, Jika menjadi TKI di luar negeri, anda mendapat pekerjaan yang layak, misal menjadi tenaga pengajar, memiliki perusahaan disana, atau menjadi seorang yang di hargai tenaga anda sebagai penyuluh satu-satunya  dsb.. dan bukan menjadi PRT atau Kuli Bangunan yang umumnya dilakukan oleh orang Indonesia yang bekerja disana, itu sih fine-fine aja. Tapi jika disana kita hanya jadi seorang Kuli Bangunan kalau tidak boleh dikatakan jadi babu alias pembantu. kenapa kita harus jauh-jauh kesana? Apa hanya ingin mendapatkan bayaran dengan mata uang asing? Jika hanya menginginkan demikian (dibayar dengan mata uang asing) kenapa tidak ikutan valas, atau jadi publisher iklan saja? Dan macam-macam pekerjaan yang dibayar dengan mata uang asing yang ada dinegara sendiri?

Itulah mengapa saya mengatakan bahwa menjadi TKI yang entah itu di malaysia, hongkong, singapure, arab, mesir, iran, dsb. Adalah orang terbodoh dan manusia-manusia sampah. mungkin lain cerita akan berbanding terbalik jika disana, anda mendapatkan sebuah pekerjaan yang layak dan tidak anda dapatkan di negeri sendiri atau mungkin bisa mengharumkan nama bangsa anda., berkarya disana atau memiliki perusahaan populer dan dikenal seluruh dunia.. Itu baru manusia jenius.

Akhirul kata, lebih baik hujan batu dari pada hujan emas dinegeri orang. buatlah negeri tercinta ini hebat di mata dunia, dan jangan terus-terusan menjadi kumpulan sampah di negeri orang.

Sekian dan terimakasih

sumber :  Inilah Daftar Manusia Sampah Indonesia

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 8 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 8 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 8 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: