Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Muchroji M Ahmad

dunia ini hanya sesaat, pastikan ujungnya mulia

Berduaan

REP | 16 February 2013 | 22:32 Dibaca: 142   Komentar: 0   0

Berduaan

Yang dimaksud berduaan di sini adalah pacaran setelah pinangan, yang dalam bahasa agama dikenal dengan istilah khitbah. Sengaja ini dikemukakan karena biasanya bila seseorang sudah melakukan pinangan ia diperbolehkan berduaan selayak suami istri yang telah menikah, dan orang yang melihatpun nampak memakluminya, jadi ada semacam pembolehan. Padahal menurut syariat ia masih dikategorikan orang lain yang belum punya ikatan apa-apa. Khitbah atau pinangan hanyalah merupakan permulaan awal pengantar menuju nikah, hanya sebatas itu*1. Maka kelirulah bagi yang membolehkan berduaan yang seolah-olah sudah tidak ada batas bagi keduanya, dan di sinilah sering terjadi fitnah.

Perlu ada pembeda antara khitbah –pinangan- dengan zawaj-nikahan, untuk memperjelas boleh tidaknya berduaan, dan syariat secara jelas membedakannya. Sekali lagi, khitbah tidak lebih hanya akad sekedar menyampaikan keinginannya untuk menikah dengan perempuan tertentu yang dituju dan hanya berakibat menghalangi bagi laki-laki lain yang ingin meminangnya*2, sedang zawaj merupakan akad nikah yang mengikat menurut syariat dan memiliki hukum yang kuat dengan hak dan akibat yang mengaturnya, sehingga memiliki kekuatan hukum yang palid.

Qs 2: 235, telah mengungkapkan kedua perkara tersebut,  yaitu ketika membicarakan wanita yang berkaitan dengan kematian suaminya . “Dan  tidak  ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita (yang suaminya telah meninggal dan masih dalam masa ‘iddah) itu  dengan sindiran   atau  kamu  menyembunyikan  (keinginan  mengawini mereka) dalam  hatimu.  Allah  mengetahui  bahwa  kamu  akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah  kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar  mengucapkan  (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf (sindiran yang baik). Dan janganlah kamu ber’azam  (bertetap hati) untuk berakad nikah sebelum habis ‘iddahnya.” (QS Al-Baqarah: 235)

Karena itu, selama belum ada ijab qobul-nikah belum dilaksanakan, maka pernikahan itu belum terwujud menurut syariat agama, dan perempuan tersebut tetap kedudukannya manjadi orang lain , yang merupakan orang asing bagi peminangnya dan tidak diperbolehkan berduaan apalagi diberi kebebasan saat ada dirumahnya, seolah-olah sudah menjadi bagian keluarga si perempuan.

Khitbah*3, tidak lantas membolehkan berduaan*4, tidak halal baginya kecuali disertai salah seorang mahramnya seperti ayahnya atau saudara laki-lakinya. Dan baginya belum punya kewajiban apa-apa, begitupun bila kelak tidak menuju pada pernikahan. Artinya bila si perempuan ditinggalkan atau adanya pembatalan pinangan, maka bagi laki-laki peminang maka ia tidak punya kewajiban apa-apa kecuali  hukuman moral berupa celaan semata. Kalau demikian keadaannya, mana mungkin si peminang akan diperbolehkan berbuat  terhadap wanita pinangannya sebagaimana yang diperbolehkan bagi orang yang   telah melakukan akad nikah.

“…Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS Al-Baqarah: 229)
“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta takut  kepada  Allah  dan  bertakwa  kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS An Nur: 52)semoga bermanfaat, mr-feb2013

———–

*1. Merupakan adat –kebiasaan yang ada di masyarakat dan berbeda-beda caranya di setiap daerah. Abu Buraidah M Fauzi, Meminang dalam Islam,Penerbit : Pustaka Al-kautsar Jakarta, Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, Buku Saku Sejak Memilih, Meminang Hingga Menikah Sesuai Sunnah, Penerbit: PUSTAKA IBNU UMAR

*2. Khitbah, meski dilakukan dengan berbagai upacara,  hal itu  tak  lebih  hanya  untuk  menguatkan dan memantapkannya saja. Dan bagaimanapun keadaannya ia tidak  akan  dapat memberikan  hak  apa-apa  kepada si peminang melainkan hanya dapat menghalangi lelaki lain untuk meminangnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Tidak  boleh  salah seorang diantara kamu meminang pinangan saudaranya.” (Muttafaq Alaih)

*3. Sekarang lebih dikenal dan tren dengan istilah ta’aruf-walaupun tidak semua orang sependapat, prosesi yang ditujukan untuk keduanya saling mengenal termasuk juga antar keluarga.

*4. Istilah agama berhalwat, tindakan haram karena mendatangkan perbuatan yang mendekati zina.” Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Israa’: 32)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 11 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 8 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Ditunggu Kehadiran Buku Berkualiatas Untuk …

Thamrin Dahlan | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: