Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Yustinus Sapto Hardjanto

Pekerja akar rumput, gemar menulis dan mendokumentasikan berbagai peristiwa dengan kamera video. Pembelajar di Universitas selengkapnya

Semiotika Pengamen Bus Yogya

OPINI | 15 February 2013 | 17:12 Dibaca: 1750   Komentar: 0   0

Musik dipercaya sebagai salah satu bahasa universal dan terbukti banyak orang bisa menikmati dan ikut menyanyikan dengan penghayatan meski lirik yang diucapkan tak dimengerti. Musik juga merupakan ladang kehidupan, bukan hanya untuk komposer, penulis lagu, pemusik dan penyanyi melainkan banyak orang di negeri ini. Dengan bekal seadanya seseorang bahkan bisa hidup dengan bermusik, contoh yang paling nyata adalah pengamen.

Saya bukan pengamat yang tekun tentang dunia ngamen – mengamen, namun sejauh saya ingat sewaktu kecil dulu di depan rumah sering ada orang ‘Mbarang’ (ngamen), Ibu-ibu dengan membawa Siter menyanyikan tembang Jawa bak seorang Waranggana. Saat itu belum banyak orang yang memilih menjadi pengamen, yang menjadi pengamen kebanyakan para ‘seniman tradisional’ menyanyikan lagu-lagu yang biasanya diiringi Gamelan, Karawitan dan juga Keroncong. Ada masa juga dimana pengamen-pengamen yang rata-rata orang dewasa mengumandangkan lagu-lagu Bang Haji Roma Irama dan Ebiet G Ade. Mereka yang tak bisa memainkan musik mengamen dengan membawa perangkat tape recorder yang bisa ditenteng dan memakai kaset karaoke. Pengamen dengan alat karaoke kemudian menjamur di angkutan umum, bus dan kereta api.

Dunia ngamen kemudian disemarakkan oleh munculnya ‘Banci Ngamen’ yang memakai kecrek-an sederhana untuk mengiringi lagu sumbang yang keluar dari mulutnya. Pengamen dengan kecrek-an tutup botol softdrink kemudian menjamur di perempatan-perempatan lampu merah. Banyak anak-anak entah anak jalanan atau anak rumahan berada di jalan menyanyikan lagu yang tak jelas untuk mengharap recehan. Selain kecrek-an mereka juga memainkan ‘icik-icik’ dari botol kecil yang diisi butiran beras, pasir atau kerikil.

Para pengamen jalanan mulai dari yang bersuara sumbang sampai merdu, penampilan dekil, memelas sampai menyakinkan pada suatu masa secara hampir serempak mengidolakan dan menyanyikan lagu-lagu Iwan Fals. Iwan Fals, penyanyi bernama asli Virgianto Listiawan itu dianggap menjadi Bapak Presiden pengamen. Lagu-lagu balada yang dibawakan olehnya mungkin cocok untuk disuara para pemusik pinggiran.

Namun tak sedikit pula pengamen yang membawakan lagu-lagunya sendiri. Dan yang menarik ada sebuah pola yang hampir sama antara yang satu dan yang lainnya. Seorang teman beberapa hari lalu memaksa saya untuk membuka situs berbagi video Youtube. Kemudian meminta untuk memasukkan kata kunci pengamen yogya. Ketika hasil pencarian terbuka diklik-nya salah satu video yang ada di halaman situs itu. Dan mulailah kami berkumpul di depan Samsung Galaxy Note 10.1 seperti waktu jaman revolusi para gerilyawan memasang telinga dalam-dalam saat mengerumuni radio. Mata dan telinga kami pasang baik-baik dan berkali-kali kami tak bisa menahan gelak tawa lantaran mendengarkan lirik yang dinyanyikan para pengamen jalanan.

Ya, Yogya, selalu ada kesegaran yang lahir disana, memecahkan dinding-dinding kebekuan terutama dalam kebudayaan pop dan sub kultur. Yogya dicatat karena melahirkan bahasa slank yang awalnya hanya dipakai oleh anak-anak GALI (Gabungan Anak Liar) namun kemudian menyebar menjadi bahasa gaul anak-anak muda. Sisa-sisa kejayaan bahasa GALI itu kini dilabelkan dalam merek kaos ternama dari Yogya yaitu Dagadu yang artinya adalah matamu. Dari Yogya lahir pula gaya plesetan untuk dimainkan dalam teater, ketoprak maupun lawakan. Butet Kartarejasa dan Kelik Pelipur Lara adalah dua orang yang dikenal sebagai tukang plesetan yang mampu membuat penonton sakit perut lantaran terpingkal-pingkal.

Kembali ke soal pengamen, inilah lirik anak-anak ngamen Yogya yang menyanyikan ‘parikan’ dalam gaya ‘guyon parikeno’. Sebagai pembuka lagu mereka melantukan syair berikut ini :

Monggo-onggo sederek kulo, Islam, Kristen, Hindu lan Budo. Monggo-monggo do elingono, Ojo do rebutan bondo, Yen mati ora digowo. Bondo donya amung titipan.

Mulane ojo roso eman. Sing ning kubur podo tangisan. Sing ning omah do rebutan warisan. Direwangi bacok-bacokkan.

(Mari saudara sekalian, yang beragama Islam, Kristen, Hindu dan Budha, mari saling mengingat, jangan berebut harta. Sebab harta kalau mati tak akan dibawa. Harta itu cuma titipan. Makanya jangan pelit. Yang dikubur masih saling bertangisan, yang dirumah sudah rebutan warisan. Bahkan pakai bacok-bacokkan).

Penake dadi sopir, Awak kesel iso mampir. Apike dadi pak sopir, nyekel setir ra lali mikir, penumpange ora kuatir. Penak meneh dadi penumpang. Gari munggah iso yang-yangan Ra enake dadi penumpang, BBM mundak mbayare larang. Mbayare larang ora oleh utang.

Paling enak dadi wong ayu . Mrono mrene akeh sing ngerayu. Resikone dadi wong ayu, Wedake luntur pacare mlayu

Penak meneh dadi kondektur. Tekan nduwur tinggal mengatur. Resikone dadi kondektur, setorane mesti teratur

(Enaknya jadi sopir, badan lelah bisa mampir. Sebaiknya kalau jadi sopir saat pegang setir jangan lupa mikir, biar penumpangnya tidak kuatir. Lebih enak lagi jadi penumpang. Tinggal naik dan bisa pacaran. Tidak enaknya jadi penumpang, BBM naik ongkosnya jadi mahal. Mahal dan tak boleh dihutang. Paling enak jadi orang cantik, kemana-mana banyak yang merayu. Resikonya orang cantik, kalau bedaknya luntur, pacarnya lalu. Lebih enak lagi jadi kondektur. Sampai atas tinggal mengatur, resikonya jadi kondektur adalah setorannya harus teratur.)

Iki jaman, jaman EsBeYe, Roto-roto wong wedok ngeler wudele, Dikandani kok malah ngece, Jarene ben tambah pede. Jarene dikon pacare.

Isih cilik diwulang ngaji, Suk nek gede ben dadi santri, Eleke bocah saiki, Durung rabi wis ngendong bayi

Eloke prawan saiki, Senengane nganggo rok mini, Yen disawang ketok seksi, Bareng ndodok lha kok medeni

Rabi prawan akeh ragade, Kacek sitik nunggu randane, Sing luwih murah tukone.

(Sekarang jamannya EsBeYe, kebanyakan perempuan mengumbar pusarnya. Kalau dikasih tahu malah ngejek, katanya biar tambah pede. Katanya juga disuruh pacarnya. Ketika masih kecil diajari mengaji, biar besarnya jadi santri. Jeleknya anak-anak sekarang, belum menikah sudah mengendong bayi. Baiknya perawan-perawan sekarang ini. Senangnya memakai rok mii. Kalau dilihat nampaknya seksi, begitu jongkok kok menakutkan. Menikah dengan perawan banyak biayanya. Biar berkurang tunggu jandanya, karena akan lebih murah harga pinangannya).

Monggo-monggo di ngapuro, Sedoyo lepate kulo. Kulo ngamen nggih mboten mekso. Sak iklase panjenengan sedoyo. Mboten maringi menopo mentolo.

Pitik angkrem selikur dino, Bareng netes ra mesti podo. Ibarate sifat menungso. Ono sing apik ono sing olo. Ono sing pelit ono sing lomo

Tondo-tondo wong sing pelit. Ngamen wae ora tahu. Paribasan ono cah ngamen. Deweke etok-etok turu.

Wong tuwo ketiban gapuro. Wonten mriko Mbantul Yojo. Cekap semanten tembang kulo. Menawi lepat nyuwun ngapuro. Nyuwun ngapurao kalih nyuwun arto.

(Mari-mari berikan maaf, semua kesalahan kami. Kami ngamen tidak memaksa. Seiklasnya saudara sekalian. Kalau tidak memberi apa ya tega. Ayam mengeram dua puluh satu hari. Begitu menetas berbeda-beda. Ibarat juga sifat manusia. Ada yang baik ada yang jahat. Ada yang pelit ada yang dermawan. Orang tua kejatuhan gapura. Gapura antara Bantul dan Yogya. Cukup sekian tembang kami. Bila ada kesalahan mohon maaf. Mohon maaf sekalian minta uang).

Begitulah tembang yang dinyanyikan dua pengamen Yogya diatas Bus Jurusan Yogya – Parangtritis. Sesekali irama lagu berhenti karena pengamen ikut tertawa terpingkal melihat reaksi penumpang bus. Terkadang tembang juga berhenti lantara ada reaksi dan interaksi dengan penumpang yang kerap meneriakkan kata “Nyindir-Nyindir”.

Tembang diatas kalau disorot dalam model penulisan atau pemberitaan memfokuskan diri pada urusan ‘human interest’, menyorot sisi dan sifat manusia pada jaman yang sedang berjalan. Meski menyambar sana-sini untuk mengkritik apa yang berkembang, para pengamen sama sekali tidak mau berpolitik. Meski menyebut nama SBY misalnya tapi yang disorot justru perilaku berpakaian gadis-gadis yang hidup di jaman pemerintahan SBY.

Yang menarik untuk menyentil naluri memberi dari para penumpang, pengamen membuka dengan syair yang bernilai wejangan soal hidup yang sangat filosofis. Ajaran yang diterima oleh semua agama, bahwa hidup di dunia bukan hanya mengejar harta. Jadi harta pada dasarnya atas titipan maka tak boleh di ‘gondeli’ sendiri, digenggam sendiri. Pengamen mau mengatakan kalau ada kelebihan mbok ya dibagi terutama kepada yang ngamen ini. Terlalu mengutamakan harta bisa membuat perpecahan. Misalnya saja belum selesai seseorang dikuburkan, yang dirumah sudah berebut harta, sampai saling bunuh demi harta.

Pengamen juga tahu kalau mereka bisa aman menjalankan aktivitas di atas kendaraan atas ijin pengemudi juga awak kendaraan lainnya. Maka sopir dan kondektur perlu disebut sekaligus dihibur dan dihimbau untuk membawa kendaraan dengan baik sehingga penumpang selamat sampai tujuan.

Pengamen juga paham benar bahwa banyak orang tidak senang dengan kehadiran pengamen diatas bus atau kendaraan penumpang lainnya. Banyak penumpang terganggu, oleh karenanya pengamen menyanyikan syair-syair yang menghibur gurauan yang juga berisi sindiran sehingga membuat orang tersenyum-senyum menikmati perjalanan tanpa terasa bosan. Gurauan soal gadis-gadis, perawan sampai dengan kehamilan usia dini yang disampaikan secara kocak bakal membuat penumpang tersenyum sambil mengamini bahwa yang diungkapkan oleh pengamen memang benar adanya.

Meski mungkin lagu pengamen bisa menghibur penumpang, tujuan para pengamen adalah untuk mencari uang. Maka diakhir tembang biasanya mereka kembali mengingatkan pada penumpang. Mereka mengatakan bahwa tidak memaksa untuk meminta uang kepada penumpang, semua tergantung keiklasan saja. Namun apa ya tega kalau tak memberi?. Trik atau cara penumpang untuk menghindari memberi uang adalah dengan pura-pura tidur atau membaca koran. Dan trik ini disentil dengan mengatakan kalau ada pengamen tak usah pura-pura tidur. Semua rangkaian tembang kembali diakhiri dengan minta maaf, minta maaf yang disertai dengan harapan untuk diberi uang. Uang yang sekurang-kurangnya ‘ewonan’ alias seribuan.

Ah, ada-ada saja cara pengamen untuk ‘memaksa’ secara halus para penumpang agar memberi saweran.

Pondok Wiraguna, 15 Februari 2013

@yustinus_esha

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 8 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 9 jam lalu

Anies Baswedan Sangat Pantas Menjadi …

S. Suharto | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 12 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sepucuk Surat untuk Gadis Kaili….. …

Yukie Soentanie | 8 jam lalu

Haruskah Saya Gembok Akun-Akun Itu? Belajar …

Anggie D. Widowati | 8 jam lalu

Trik Marketing atau Trik Penipuan? …

Putriendarti | 9 jam lalu

Kejujuran …

Rahmat Mahmudi | 10 jam lalu

Berupaya Mencapai Target Angka 7,12% …

Kun Prastowo | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: