Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Abu Zahid

Logic, Respect n Responsible

Mbah Harto: Piye Sedulur, Sih Enak Jamanku To?

OPINI | 11 February 2013 | 23:12 Dibaca: 771   Komentar: 0   0

Hal menggelitik saat melihat di berbagai media baik televisi, internet maupun cetak, hingga selebaran, saat membaca kondisi negara tercinta ini entah bisa dibilang konyol, sekarat, nyleneh, aneh, memuakkan, dan lain sebagainya. Mengapa, ceritanya saat berkendara solo-jogja setiap minggu dua kali, sering melihat foto sang mantan presiden tersohor di dunia nampang di bak belakang truk bermuatan pasir/batu, berkata: “Piye Sedulur kabeh, Sih enak jamanku to?”. Awalnya setelah membaca, biasa saja, begitu sering menemui sang bapak pembangunan itu akhirnya mikir juga, kok ada benarnya ya, memang simbah ini di bulan mei 1998, menjadi bulan-bulanan para reformis negara NKRI, dihina, dicemooh, diludahi, digosiipin, pokoknya yang jelek-jelek tumplek bek ke diri beliau, ibarat seakan tidak ada tempat baik lagi di setiap sudut di bumi ini, semua penuh dengan kotoran/kejelekannya.

Namun, 10 tahun berlalu, impian para reformis dkk tuk  melihat NKRI menjadi negara tersohor bak Inggris atau USA, atau minimal seperti singapura, PUPUS sudah. betapa tidak, kita baca, lihat dan dengarkan saja: Seorang anak bakar ayah karena tidak mau belikan motor, Seorang Istri bunuh suami dengan golok, seorang suami bunuh pasangan selingkuh istri, anak smu berbuat mesum dengan temannya atas suka sama suka, terbongkar sindikat prostitusi online dengantarif 800rb hingga 1jt, anggota DPR terlibat skandal suap miliaran rupiah, gratifikasi untuk muluskan proyek dengan kerugian negara ratusan miliar, PNS mbolos, anggaran sertifikasi  membuat banyak pns selingkuh, dokter gadungan-polisi gadungan,-tentara gadungan tertangkap, aborsi ilegal diungkap pelakunya seorang dokter kandungan, ijasah abal-abal hanya dengan puluhan juta bisa dapat gelar, tingginya biaya kuliah, masuk RSBI dengan puluhan juta, oknum jaksa-hakim-polisi ditangkap karena KKN, narkoba, Indonesia menjadi pasar utama narkoba, artis terlibat narkoba, artis dipenjara, artis kawin cerai, ustad mata duitan, berlabel kyai dengan fulus besar nikahi daun muda, berlomba-lomba nafsu rebut jabatan dalam pilkada, olahraga masuk ranah politik, sepakbola jadi bulan-bulanan, bulu tangkis kalah terus, artis masuk politik, sudah jadi bupati keluar untuk jadi gubernur, alutsista yang tua membuat banyak pesawat tak punya suku cadang, banjir, gempa, gunung meletus, jatuhnya kereta, bus, pesawat komersil, ikan banyak dicuri negara lain, nelayan indonesia ditangkap, TKI dikenai hukuman gantung, pencurian pulsa, pembobolan bank, jambret siang hari, perampokan dengan kekerasan, hukum yang tidak adil curi sandal pidana sekian tahun, kasus century, dan gate-gate lainnya, densus 88 yang kontroversi, terosisme fakta atau buatan, kekayaan alam yang dikuras habis negara lain, freeport cevron, kemiskinan, kumuh, macet, BBM subsidi, anggaran negara bengkak dan lain-lain…dan sebagainya…masih banyak yang aneh dan lucu yang tidak bisa ditulis lagi….saking banyaknya…. Mengapa ini semua seakan muncul terus menerus tanpa habis, dan jika memang alasannya kalau jaman simbah dulu tidak terlihat karena pembredelan media, apakah sedemikian parahnya jika memang agenda reformasi dulu yang notabene diusung para pakar/aktivis yang ingin menegakkan keadilan/kebenaran??? Harusnya kan angka-angka itu malah semakin turun, tapi malah semakin nyata dan terang-terangan di muka publik, hingga ada kesan manusia di negara ini sudah hilang kemaluannya, weleh-weleh.

Mungkin sistem di negara kita memang sudah busuk dan membusuk, entah apakah perlu potong 2-5 generasi baru bisa menyemai sistem yang lebih baik. namun, dari hulu hingga hilir memang karakter kita tidak akan bisa membaik. Hingga tak heran jika kita pergi ke luar negeri (mau umroh, haji atau wisata ke negara lain) pasti merasa negara lain lebih baik [negara tetangga saja tdk usah jauh-jauh]. Maka, tak heran akhirnya saya hanya bisa menghela nafas dalam-dalam…bener juga kata Simbah (alm) Suharto bapak pembangunan NKRI, jadi saya jawab pertanyaan beliau:”Injih mbah, taksih sekeco jamane panjenengan…”. Dengan catatan budaya KKN yang sudah getol di kalangan masyarakat memang tidak akan bisa dihilangkan begitu saja, sulit tapi pasti bisa.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Java Jazz On The Move” di Kota Batu …

Wahyu Jatmiko | | 04 March 2015 | 23:39

Masjid Vs Televisi; Kisah Kerisauan Moral …

Subronto Aji | | 05 March 2015 | 00:05

Kompasiana Drive&Ride: ”Be Youthful, …

Kompasiana | | 26 February 2015 | 22:29

Ruki : “Menjadi Ketua KPK Itu …

Abanggeutanyo | | 05 March 2015 | 01:25

Move On Agriculture di Purworejo …

Saryanto Bpi | | 04 March 2015 | 21:26


TRENDING ARTICLES

Horree! Indonesia Punya Polisi Terjujur …

Anton Kapitan | 3 jam lalu

Ekuivokasi di Sekitar Kisruh Ahok-DPRD …

Nararya | 7 jam lalu

Ahok Vs. M. Taufik dan Kutukan Kulminasi …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Mencermati Isu “Dana Siluman” dalam …

Amarta Jaya | 11 jam lalu

Ruki, Ketua KPK yang Penuh Kontradiktif …

Daniel H.t. | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: