Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Erik Supit

Independent Writer

Konspirasi

OPINI | 09 February 2013 | 09:22 Dibaca: 201   Komentar: 0   0

(Menduga adalah menyortir kemungkinan. Yang terverifikasi disebut fakta, lalu selebihnya kemana?)

Desas-desus itu mengasyikkan. Membicarakan hal-hal yang tersembunyi dan misterius pada keseharian, seperti memunculkan sensasi nikmat tersendiri. Orang bergosip, menduga-duga tentang isu tertentu lantas membeber kemungkinan-kemungkinan dalam jalinan narasi alternatif. Pada jaman kebebasan mengakses informasi disibak lebar-lebar sekalipun, kasakkusuk masih laku, tetap sensual untuk diburu. Meskipun tingkat seksinya berbeda sekali dibanding ketika berada dalam situasi yang terancam dan terbatasi.

Berita yang dibawa media massa memang tak pernah cukup. Informasi arus utama, tetap mengandung anomali. Ada sisi-sisi lain yang masih tertirai sehingga orang mempertanyakan. Selengkap apapun data-data yang dibawa pada sebuah warta, bidikan sudut pandang pengabaran akan meluputkan sejumlah unsur. Sebab jika tidak, berita itu akan gemuk dan tidak menggelinding pada sejalur arah. Apalagi media massa, sebagai sebuah produk dari sistem usaha dagang, tentu mempunyai kepentingan-kepentingan perniagaan dan lainnya, yang mempengaruhi perspektif pemberitaannya.

Namun, biarpun rumor merupakan kumpulan bias-bias, media massa tetap menampungnya. Dibuatlah program infotainmen yang berisi bisik-bisik gosip, lalu membedakannya secara serius dengan berita. Yang satu bermuatan hiburan, sekadar melampiaskan hasrat ingin ngrasani, yang lain merupakan penyampaian informasi berdasar data dan fakta terketahui. Itu hebatnya media massa. Ibarat perut, dia mampu menerima makanan apapun, tinggal cara memasak dan menyajikannya saja yang berbeda.

Dulu, kegiatan kasak-kisik, terselenggara ditempat-tempat khusus. Masa ketika orde baru berkuasa, informasi bawah tanah mempunyai nilai yang tinggi. Siasat menghadapi kungkungan negara yang membelenggu kesempatan orang memperoleh berita-berita komprehensif. Maka desas-desus adalah kudapan yang mahal lalu dicari. Gosip warung kopi, diskusi pada kelompok-kelompok terbatas dan bisik-bisik gardu ronda menjadi tempat yang disasar guna mengais kabar burung demi mengobati keingintahuan. Tapi bukan berarti setelah kran kebebasan menjangkau sumber informasi dibuka, lantas aktifitas tersebut surut intensitasnya. Tidak juga.

Pada dasarnya, informasi tak pernah tersuguh dengan benar-benar pepak. Tetap disisakan bagian-bagian lain yang sengaja tak disiarkan begitu saja. Semacam misteri yang akrab disebut “rahasia dapur”, mesti ditahan dulu. Dengan alasan keterbatasan data dan fakta. Atau bisa juga mempertimbangkan efek samping. Apabila informasi tersebut diluncurkan, akan menggoncang sebuah keadaan mapan. Saat yang sama, manusia yang pada dasarnya memiliki rasa keingintahuan yang menuntut, menghendaki lebih. Sisi-sisi gelap pada bongkahan infomasi, diinginkan terkuak serta. Akhirnya, orang berikhtiar dengan membuat kerangka dugaan, membangun kisi-kisi sangkaan. Menerka kemungkinan-kemungkinan dari berbagai sudut pandang atas peristiwa yang sedang hangat. Mereka-reka sebab dan akibat dari lingkungan yang menaungi berita tersebut. Lalu ditata menjadi narasi tertentu, untuk menandingi versi yang umum. Motif-motif seperti inilah yang menjadi bidan kelahiran, apa yang kemudian disebut “Teori Konspirasi”.

Bila diruntut, conspiracy berarti “kesepakatan, persetujuan”. Kata dasarnya conspire. Berasal dari bahasa latin, conspirationem, bentuk nominatfnya conspiratio. Secara rinci, istilah tersebut merupakan gabungan dari dua kata yaitu com- yang berarti “bersama” dan spirare diterjemahkan sebagai “bernapas”. Lebih lanjut, spirare akan bersambungan dengan kata spirit. Jika spirare adalah kata kerja, maka spirit merupakan kata bendanya, dengan arti “napas”.

Lugasnya, Konspirasi dijabar maknanya dengan, sebentuk usaha hasil kesepakatan berdasar kesamaan napas, semangat, akan tujuan. Denotasinya, konspirasi adalah seperangkat rencana yang dijalankan sekelompok pihak yang bersepakat untuk meraih cita-cita strategis, sedang konotasinya, konspirasi adalah kegiatan persengkokolan untuk menandingi situasi mainstream.

Apapun itu, pada akhirnya konspirasi ketika dibungkus dalam perangkat teori adalah serangkaian cara menduga dan menganalisa sisi lain dari sebuah hal secara radikal. Serupa pisau cadangan dengan bentuk-bentuk serta penggunaan yang berbeda dari lumrahnya alat pengiris. Baik penampilan, cara memegang hingga sayatan. Dimasa kini, Teori konspirasi lebih nampak sebagai cara menganalisa masalah dari sudut pandang yang tidak umum. Data dan faktanya berasal dari keterangan dan kesaksian yang rumit tervalidasi. metodologinya berjalan diluar sistem penelitian konvensional. Umumnya berkaitan dengan kajian politik, ekonomi, sejarah dan metafisika. Sisi pemaknaan konotatif inilah yang menyeruak . Keresahan pada teori konspirasi terletak pada sisi verifikasi data serta faktanya, yang memang berbelit dan kerapkali tak mudah didemonstrasikan ulang.

Sebenarnya ini bukan pandangan yang samasekali baru. Apalagi dinegeri ini, dimana mitos-mitos mengenai terjadinya rangkai peristiwa begitu akrab dengan masyarakat. Sesuatu berlangsung karena didesain oleh pihak tertentu dan bersifat kontroversial, adalah cerita-cerita umum yang kerap didengar. Dari tingkat politik kampung hingga ke taraf negara. Bahwa sebuah hal terjadi tidak hanya karena faktor-faktor yang tampak, tapi juga berkait dengan unsur-unsur yang tak terlihat atau terketahui.

Ambillah contoh, pada gelaran pemilihan kepala desa. Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa seorang kepala desapun tak luput dari temali perdukunan. Mereka juga melakukan praktik-praktik agitasi melalui iming-iming uang atau sejumlah janji untuk para pemilihnya. Meskipun ini juga tak bisa digeneralisir. Terdapat beberapa kades yang tak terlibat cara-cara seperti itu juga. Dari bidikan cara pandang teori kemenangan konvensional, seorang yang unggul dalam pemilihan, bisa jadi karena masyarakat memang mencintainya. Kertas suara banyak berpihak padanya, karena pertimbangan-pertimbangan kemampuan untuk memimpin. Tapi dugaan lain juga beredar. Sang kepala desa terpilih menang karena bantuan segelintir orang kaya yang menjadi sponsor melakukan “serangan fajar” dan intimidasi. Atau hasil kerja komunitas dukun yang sengaja disewa untuk membujuk batin warga, agar memilih calon yang menggunakan jasa para dukun itu.

Akan muncul varian analisa beragam. Ada yang menarik kesimpulan dari kacamata kewajaran, berdasarkan data dan fakta pemilihan. Terdapat pula yang menjabar dengan perspektif mistik atas peristiwa tersebut. Keduabelah cara pandang itu berjalan seiring saling menjegal dan berkeliaran mencari persetujuan orang banyak. Hasil akhirnya, teori kemenangan mana yang akan disetujui oleh khalayak, tergantung kelengkapan dan ketelitian pengetahuan dari segala sisi masyarakatnya. Tentu, berita yang tersiar ke umum tidak akan lengkap. Sang pemenang tidak akan bilang bahwa dia melakukan suap dan menyewa dukun. Bagi pihak lawan, atau siapapun yang berseberangan dengannya, tidak begitu saja menerima keterangan itu. Demi melampiaskan sesak kekalahan penyelidikanpun dilakukan. Pihak yang kalah merasa harus menyeimbangkan informasi yang beredar. Bahwa ada faktor-faktor “gelap” yang turut berperan dalam peraihan kemenangan pada pilkades.

Meskipun, teori konspirasi bisa mengambil hati sebagian besar warga untuk menarik kesimpulan, akan terbentang kesulitan berikutnya. Yaitu bagaimana menjelaskan hal-hal yang bersinggungan dengan metafisika. Sementara dalam bingkai rasionalitas masa modern, kisah-kisah yang mengandung unsur metafisika cenderung dipandang sebelah mata.

Pada akhirnya, penyimpulan sesuatu yang berbau mistik dan misteri, sebagai penyebab kejadian, akan berujung tumpul. Logika modern tidak bisa merangkulnya. Sebab perbedaan metode rasionalisasi telaah. Bukan urusan gampang membuktikan lalu membuat argumentasi yang meyakinkan, bahwa sekelompok pengusaha menjadi penyandang dana sang pemenang. Atau menjabar konklusi bahwa ada sejumlah dukun turut bermain guna memaksakan kemenangan. Publik sekarang tak bisa menerima itu sebagai fakta yang menyerap kepercayaan dan menentukan kebenaran. Asumsi yang punya dasar mengambang dan tak bisa selaras dengan alam berpikir manusia modern itulah yang masuk dalam kategori teori konspirasi.

Banyak lagi ilustrasi-ilustrasi lain yang merebak dan dekat dengan keseharian. Teori konspirasi memang lebih mirip gosip, desas-desus dan kasak-kusuk yang jalur logikanya belum bisa diterima sebagai kebenaran. Bisa jadi disebabkan terbatasnya informasi terkuak dan parameter rasionalitas yang berbeda.

Tapi, jika lebih luas meniliknya, apa sebenarnya yang bukan konspirasi didunia ini? Sesuatu terjadi memang karena kehendak dari sekelompok pemegang wewenang. Untuk menjalarkan kepentingan-kepentingan, maka gerakan-gerakan mesti dibangun dalam strategi terhitung dan desain yang matang. Langlah-langkah ditata publikasinya. Mana yang perlu diketahui umum, mana yang mesti disimpan sebagai rahasia kelompok. Baik dalam tinjauan yang denotatif atau konotatif, konspirasi selalu ada. Dari sebuah konspirasi, negara dibuat, disebabkan konspirasi juga, sebuah pengetahuan dianggap sah dan masuk akal. Bahwa di kemudian hari, teori konspirasi tidak bisa diterima sebagai perangkat untuk mencari kebenaran atas peristiwa, itu karena memang wilayah pembuktian teori konspirasi berada di ruang remang-remang. Kesepakatan-kesepakatan politik yang tak tersiarkan, strategi rahasia militer, maupun penemuan-penemuan benda dan fakta kontroversial yang tidak bisa dipublikasikan dengan alasan khusus. Fenomena seperti itu akan selalu ada dibalik tirai teka-teki.

Tinggal menunggu waktu, ketika semuanya berlalu, rezim berganti, parameter logis dan rasional pada sistem pengetahuan mengembang, tentu akan terdapat perubahan paradigma. Apakah zaman sanggup menmbuka sisi yang masih gelap atau tidak, sebab teori konspirasi juga berevolusi. Dari sebuah dugaan, kebenaran dirintis. Sebab dugaan pula, kebenaran yang lama diyakini bisa goyah, lantas meminta penelitian ulang.

Semasa kecil, tetangga-tetangga saya di kampung, terutama ibu-ibu, mempunyai rutinitas bergunjing yang dikemas lewat kegiatan metani. Sekelompok perempuan duduk ngobrol berbaris, sembari satu sama lain bergantian mencari kutu di rambut temannya. Menarik, karena kegiatan metani ini menjadi peristiwa khas, dimana desas-desus menjadi alat pemersatu, alasan mereka untuk berkumpul. Dari perbincangan mengenai harga bahan makanan sampai membisikkan aib tetangga. Mengait-kaitkan sebuah hal dengan hal lain dengan asyiknya.

Setelah ditelusur, istilah metani ini mempunyai kata dasar “peta”. Kata ini sudah akrab, diambil dari almari Sanseskerta. “Peta” artinya bentangan yang berisi banyak bagian. Bahasa inggris menerjemahkan kata ini sebagai “expand, mutitude”.

Bisa jadi, metani, juga teori konspirasi adalah cara berlatih menganalisa kejadian dari kemungkinan-kemungkinan yang diluar dugaan. Pada kehidupan yang luas juga riuh. Asal tidak untuk mempergunjingkan aib orang lain saja. Atau menggunakan argumentasi konspirasi sebagai alat bela diri atas kecurangan-kecurangan yang pernah dilakukan.

Teori Konspirasi menjadi semacam alternatif cara berpikir yang tidak linear. Mencoba menerapkan cara berpikir yang multipola. Bisa berputar, zigzag, atau spiral. Memberi kesempatan, bagi masuknya peluang-peluang musabab kecil dan lepas dari perhatian, untuk turut serta menjadi bahan pertimbangan menilai sesuatu. Dengan ketelatenan menyusur hubungan sebab akibat dan menata logika-logika. Menyusun bahasa argumentasinya dengan cermat. Dan pengendalian yang penuh kewaspadaan,  agar pemakai teori tersebut, tak disebut sebagai pelaku kemalasan berpikir.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Promosi Multikultur ala Australia …

Ahmad Syam | | 18 April 2014 | 16:29

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Liburan Paskah, Yuk Lihat Gereja Tua di …

Mawan Sidarta | | 18 April 2014 | 14:14

Untuk Capres-Cawapres …

Adhye Panritalopi | | 18 April 2014 | 16:47

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 8 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 9 jam lalu

Misteri Pertemuan 12 Menit yang Membungkam …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 12 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: