Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ellen Maringka

Mother, Wife, Friend. ~ Accept no one's definition of your life ! ... Define yourself.~

Jangan Mengisi Hati Yang Hampa dengan Cinta yang Kosong

REP | 08 February 2013 | 06:34 Dibaca: 3013   Komentar: 54   14

Sudah kepalang tanggung rasanya kalau saya menulis artikel lain menjelang hari kasih sayang minggu depan. Berhubung sudah diberi gelar tidak resmi oleh sesama rekan Kompasianer, sebagai penulis yang berurusan dengan cinta, makanya saya mencoba konsisten  paling tidak sampai Valentine’s Day tiba. Ayooo.. anak anak segera simak baik baik pelajaran kita mengenai cinta.  Nyengiiiir lebar ala sok tahu!.

Judul diatas sebenarnya sudah cukup menjelaskan esensi dari apa yang ingin saya sampaikan. Jangan mengisi hati yang hampa dengan cinta yang kosong, yang artinya kurang lebih sama dengan lagu taman kanak kanak dulu; Nol itu nol.. Nol tidak ada.... There you go, you got it now!. Mau ditambahkan sebanyak dua container ukuran raksasa, hati yang hampa tidak akan pernah dapat dipuaskan dengan cinta yang kosong.

Pernahkah anda berpikir bahwa memang hati yang hampa akan menarik cinta yang kosong ?. Kalau belum, berpikirlah sekarang!. Pernah dengar kalimat bijak yang mengatakan ” Beauty attracts beauty”, atau ada lagi yang mengatakan “kindness will bring more kindness”.  Segala sesuatu yang baik itu dimulai dari diri kita sendiri. Apa yang akan kita raih atau dapatkan, merefleksikan apa yang ada dalam diri kita dan yang akan kita berikan.

Bayangkan jika yang ada dalam diri kita hanya kehampaan,  dan untuk membuat kita merasa menjadi manusia utuh , kita berpikir bahwa hanya cinta dari seseoranglah yang mampu mengisi penuh kehampaan hati kita. Tanpa kita sadari, standard cinta itu sudah kita rendahkan mutunya hanya untuk mengejar target bahwa kekosongan itu harus dipenuhi. Padahal kembali ke lagu TK tadi, nol itu nol.. nol tidak ada.

Ketika seseorang itu dalam keadaan desperate menginginkan hatinya diisi dengan cinta, maka apapaun bentuk cinta yang ditawarkan , akan diserap dengan cepat tanpa banyak pertimbangan, dengan menghibur diri sendiri bahwa memang cinta harus berkorban.

Ingatlah, bahwa cinta itu tidak menyakiti. Cinta itu menyenangkan.  Cinta itu memberi harapan optimis tentang masa depan, dan bukan janji kosong. Contoh paling klasik yang bisa saya berikan adalah kesia siaan menunggu perwujudan cinta yang ditawarkan oleh laki laki yang sudah menikah.

Biasanya alasan awal akan berbunyi kurang lebih begini ;  “Saya   tidak mungkin menceraikan istri saya sekarang karena anak saya  masih kuliah” . Dan kelanjutannya biasanya bertema sama,  “tidak sekarang karena orang tua sedang sakit, tidak sekarang karena saya sedang mengalami masalah di kantor, dan sejuta tidak sekarang lainnya”.   Selamat menunggu kawan….!

Umumnya sang wanita akan berpikir, betapa egoisnya kalau dia terus memaksa, dan merasa diri menjadi pahlawan dengan menunggu realisai janji dari sang pujaan hati. Kata kata penghiburan biasanya akan berbunyi seperti: ” cinta memang harus bersabar… cinta akan indah pada waktunya ( padahal bisa jadi waktunya sesudah kiamat)… dan diikuti lebih banyak harapan yang  isinya bla bla bla.

Fakta bahwa anda menunggu janji yang oleh penjanjinya sendiri tidak bisa memberi patokan yang jelas, sudah menunjukkan betapa kosongnya janji dan harapan cinta yang didengungkan. Fakta bahwa dia menjanjikan untuk memberikan kepada anda sesuatu yang pernah dijanjikan kepada wanita lain namun tidak dipenuhi, sudah menunjukkan bahwa rongsokan yang sama segera akan berpindah tangan. Sampah itu hanya berganti wadah.

Oleh karenanya para sahabatku yang baik, tetapkan dengan jelas standard cinta yang baik sebelum anda mengharapkan cinta itu datang kepada anda. Bagaimana anda akan mengenali bahwa sesuatu itu buruk kalau anda tidak tahu yang seperti apa kondisi baiknya ?.  Ketika kita menetapkan standard dengan jelas, paling tidak kita akan tahu yang bagaimana yang cukup memenuhi kualitas yang kita harapkan.

Cintai diri anda. Itulah satu satunya cara mengisi kekosongan hati anda. Cintai diri anda  dengan rasa bersyukur kepada Tuhan bahwa dengan indahnya Tuhan telah menghadirkan  satu Maha Karya, yang memiliki segenap perlengkapan untuk dapat menikmati hidup ini. Itulah anda!.  Tidak seorangpun dapat menjadi anda lebih baik dari anda sendiri (mudah mudahan tidak bingung).

Saya pernah mengatakan kita tidak bisa memberi apa yang kita tidak miliki. Bagaimana kita dapat menawarkan cinta kepada orang yang pantas, ketika yang kita sodorkan adalah kehampaan hati ?. Penuhi hati anda dengan cinta dan rasa bersyukur, kepada Tuhan, kepada sesama, kepada orang orang terdekat dan para sahabat.  Hanya ketika kita memiliki kelebihan akan sesuatu, maka luapan itu dapat kita tawarkan kepada orang lain sebagai ungkapan…“milikilah ini untukmu, yang kuberikan dengan suka cita dan rela hati.. karena aku melimpah dengannya.”

Anda yang bergerak di bidang keuangan atau perekonomian akan memahami bahwa uang adalah  magnet yang sangat baik untuk menarik lebih banyak uang. Sama sebenarnya dengan cinta. Cinta akan menarik cinta. Cinta yang tulus dan indah, akan menarik yang sejenis dengannya. Di pasar modal, anda bisa berinvestasi membeli saham dengan nominal tertentu yang  merupakan modal awal untuk berinvestasi. Sampai sekarang saya belum pernah dengar ada yang membeli saham dengan uang monopoli. Diperlukan uang yang asli untuk mendapatkan pengembalian yang kita inginkan.

Demikian pula dengan cinta. Selama ini banyak yang tidak sadar saja, betapa miripnya uang dan cinta itu bisa diumpamakan. Hanya ada satu perbedaan terbesarnya :  Cinta bisa mendatangkan uang (jika anda menikah dan berjuang bersama dengan orang yang anda cintai, kemungkinan besar sukses dan uang  akan menjadi milik anda), tapi uang tidak bisa mendatangkan cinta (sekalipun sang orang kaya bisa menikahi siapa yang diinginkan karena uangnya, maka dasar pernikahan itu selamanya akan berdiri karena uang yang menopang), dan begitu uang itu habis, maka kita akan kembali ke pepatah bahasa Indonesia lama  “Ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang.”

This is the miracle that happens every time to those who really love;….  the more they give, the more they possess.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Lisa Rudiani, Cantik, Penipu dan Pencuri …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Merayu Bu Susi …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Jokowi Menjawab Interpelasi DPR Lewat …

Sang Pujangga | 9 jam lalu

Tipe Kepemimpinan Jokowi-JK …

Gabriella Isabelle ... | 12 jam lalu

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Cerita Ulang …

Nabila Anwar | 8 jam lalu

Di Bawah Ranjang Tidurku …

Lembah Timur | 8 jam lalu

Obat Kuat dan Kehidupan …

Rahmatul Ummah As S... | 9 jam lalu

Insomnia di Usia Lanjut …

Dian Fakhrunnisak | 9 jam lalu

Terima Kasih Guru …

Anugerah Oetsman | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: