Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Hasby Marwahid

manusia biasa saja

Pelajar dan Degradasi Moral

OPINI | 05 February 2013 | 21:33 Dibaca: 398   Komentar: 0   1

“Belajar adalah rekreasi terbesar dalam hidupku”

Sebuah potongan kata indikasi tujuan bagi para pelajar yakni belajar. Pelajar dan belajar menjadi satu rangkaian yang “harusnya” tidak dapat dipisahkan. Belajar mempunyai makna yang cukup luas, bukan hanya sekedar tentang mengerjakan pekerjaan rumah (PR), menuntut ilmu dengan rutinitas sekolah, berorganisasi, membaca buku dan sebagainya, akan tetapi merujuk kepada yang lebih dalam, belajar memaknai hidup. Jika hal tersebut tidak di pikirkan secara filsafati, mungkin bisa menjadi bias dan kehilangan makna. Mencoba mengartikulasikan makna pelajar yang sebenarnya dengan segala dinamikanya yang semakin hari menguap terdegradasi seiring berlalunya jaman.

Beberapa waktu lalu, sebuah berita di media cetak dan media elektronik marak membicarakan tentang kelakuan miring para pelajar, salah satunya di sebuah kota di Jawa Timur, Situbondo. Sungguh ironis, pelajar yang harusnya melakuakan aktifitas sebagaimana mestinya pelajar, membuat dunia membelalak, khususnya citra pendidikan Indonesia sedikit tercoreng. Pasalnya, dinamika yang terjadi dikalangan pelajar kini sudah menjadi semakin kompleks dengan permasalahan yang mengitarinya. Hal itu setidaknya menunjukkan bahwa, dengan kemajuan zaman dan globalisasi yang terus menyeruak, membuat kita perlu berfikir ulang untuk mencoba mengerti para pelajar. Zaman mereka berbeda dengan zaman di mana kita dulu pernah duduk di bangku sekolah.

Sebuah contoh singkat tersebut nampaknya perlu diikuti dengan fenomena yang lebih pelik lagi. Beberapa adegan kekerasan seperti tawuran juga sering mewarnai pemberitaan di media cetak dan elektronik. Hal itu tidak hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, namun sudah merambah di kota-kota lain, di sekolah desa dan sebagainya. Belum lagi dengan persoalan-persoalan yang sering menjerat remaja, khususnya para pelajar yang lainnya. Hal tersebut berkisar dari persoalan narkoba, pergaulan bebas, sampai tindakan aborsi yang dikutuk atas dasar kemanusiaan. Penyimpangan-penyimpangan tersebut seperti sudah menjadi hal yang “wajar dalam ketidakwajaran”. Khalayak umum sering menilai dengan mata pandang demikian, dengan motif, pelajar rerata adalah anak baru gede (ABG), dan masih labih dalam hal pemikiran dan emosional. Mereka sering terombang-ambing mencari jati diti hidup, melawan, dilawan, memberontak norma-norma dengan segala penyimpangan yang dilakukan.

Kondisi tersebut harusnya mendapat penanganan yang cukup serius oleh berbagai pihak, terutama gerak sinergis dari keluarga, sekolah, dan pemerintah. Pertama, adalah keluarga karena keluarga adalah tempat pertama kali pembentukan karakter yang sangat menetukan untuk hari depan remaja. Pasalnya, pendidikan dalam keluarga terutama dari orang tua sangat membantu anak untuk mendapatkan kepribadiannya. Dengan pembinaan moral yang serius dan matang, tentu anak akan siap menghadapi gejolak di luar lingkungan rumah. Maka benteng pertama kali yang harus kokoh adalah keluarga.

Kedua, lingkungan sekolah menjadi tempat di mana anak mulai mengenal komplektifitas dalam lingkungan barunya. Pendidikan dan sistem sekolah yang baik akan sangat membantu membentuk karakternya, terlebih, guru sebagai orang tua kedua siswa harus dapat memberikan suntikan kebaikan dengan contoh dan nasihat-nasihatnya. selanjutnya, memperhatikan pergaulan dengan lingkungan masyarakatnya, karena lingkungan pergaulan sangat mempengaruhi dengan berbagai perubahan yang terjadi. Ketiga, adalah peran serta pemerintah dalam memperhatikan pendidikan para penerus bangsa tersebut. Fenomena yang semakin komplek tersebut harus mendapat sorotan tajam dan solutif dengan berbagai kebijakannya, semisal menegakkan hukum dengan tegas sehingga akan dapat menimbulkan efek jera kepada para pelanggar. Mengadakan penyuluhan tentang bahaya pergaulan bebas, narkoba, dan tentang hukum-hukum negara.

Terlepas dari hal tersebut, longgarnya pegangan terhadap agama yang lemah dapat menjadikan faktor kuat penyebab penyimpangan yang hampir terus terdegrasai masa. Budaya materialistic, hedonism, konsumerisme dan sebagainya akibat dari momok bernama globalisasi dari sisi negatifnya terus mengendorkan tiang agama. Agama menjadi semacam syarat mutlak, karena agama memberikan sentuhan-sentuhan kedamaian dalam kehidupan pribadi, dan bermasyarakat. Bekal agama yang kuat merupakan semacam pondasi utama yang kokoh dalam mengarungi kehidupan yang tidak dapat diterka-terka perubahan dan perhentiannya. Nabi Muhammad saw pernah bersabda “Sesungguhnya Aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak” (HR. Bukhari). Pelajar atau remaja yang berakhlak terpuji menjadi modal, karena mereka adalah generasi penerus cita-cita kepahlawanan. Membangun bangsa yang adil berkemakmuran, dan makmur berkeadilan.

Hasby Marwahid

Yogyakarta

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 6 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 8 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 12 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 14 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: