Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sukolita Rangga

Mahasiswa Psikologi

Group Commitment terhadap UKM Musik Keroncong

REP | 05 February 2013 | 11:56 Dibaca: 100   Komentar: 0   0

Keroncong adalah musik khas Indonesia yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Keroncong semakin berkembang dan diminati masyarakat Indonesia mulai  tahun 1960 sampai 1980,  karena keroncong berakulturasi dengan jenis musik lain, seperti beat, campur sari dangdut sampai keroncong Koes-Plues, namun seiring perkembangan zaman peminat keroncong semakin menurun, regenerasi keroncong berjalan lambat dan tidak lagi mengembangkan sayap untuk dapat masuk dalam pilihan masyarakat.

Di Bandung terdapat beberapa komunitas keroncong, dimana semua komunitas keroncong tersebut mayoritasnya anggotanya adalah orang tua, sebab musik keroncong sudah menjadi musik yang mereka sukai sejak dulu saat keroncong masih sering terdengar. Satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah kini musik keroncong lebih dikenal sebagai musik yang identik dengan orang tua, dan hal ini merupakan salah satu alasan keroncong kurang popular pada generasi muda. Bertentangan dengan hal tersebut terdapat suatu yang berbeda pada sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di sebuag perguruan tinggi di Bandung. Pada perguruan tinggi tersebut, terdapat sebuah UKM yang fokus pada musik keroncong, UKM ini bertujuan melestarikan musik keroncong ke generasi muda. Sejak tahun 1998 UKM ini mulai hidup dan terus aktif berkegiatan dan beregenerasi sampai tahun 2005 (angkatan keempat), namun mulai ditahun 2006 UKM ini tidak lagi memiliki peminat, sehingga mengharuskannya untuk vakum.

Hingga ditahun 2011 UKM Keroncong ini kembali lagi memiliki peminat yang membuatnya dapat memiliki generasi angkatan ke lima. Keterbangkitan UKM ini dipelopori oleh sembilan orang mahasiswa peminat keroncong yang bersama-sama membangun kembali semuanya dari awal, mereka berhasil mengajak mahasiswa lain untuk ikut bergabung, namun mengingat waktu enam tahun menjadi waktu yang cukup lama untuk terhentinya kegiatan di UKM ini, sehingga membuat UKM ini tidak memiliki berbagai fasilitas yang menunjang, seperti ruang sekretariatan, ruang latihan, alat-alat musik hingga pelatih musik keroncong itu sendiri. Hal ini menyebabkan keluarnya anggota kelompok satu persatu hingga kelompok ini kembali lagi hanya memiliki sepuluh orang anggota. Dari sepuluh orang yang tersisa tersebut, sembilan diantaranya merupakan perintis dari angkatan ke lima yang sebelumnya memang telah memiliki minat pada musik keroncong dan satu orang sisanya adalah seorang yang baru bergabung dalam UKM Keroncong ini, yang selanjutnya disebut disebut dengan G.

Awalnya G sama sekali tidak menyukai ataupun berminat untuk bergabung dengan UKM Keroncong, ia merasa bahwa keroncong adalah musik yang terkesan ketinggalan zaman, berbau orang tua dan bahkan menjadi ‘aib’ baginya bila ia memainkannya. Mulanya G hanya dimintai pertolongannya untuk mau membantu dalam pertunjukan perdana UKM keroncong ini, karena UKM ini tidak memiliki pemain flute, dan G adalah seorang pemain flute yang handal di salah satu UKM musik lain yang G ikuti. G sempat diminta pertolongannya beberapa kali, namun ia selalu menolak dengan berbagai alasan, sampai akhirnya setelah diminta untuk kesekian kalinya G mau membantu. Untuk itu G harus mengorbankan waktunya mengikuti latihan bersama anggota lainnya untuk menyelaraskan permainan musik mereka.

Ternyata latihan yang G lakukan tidak hanya sampai penampilan perdana UKM Keroncong, ke depannya G terus bertahan bermain flute di UKM Keroncong ini sampai akhirnya ia memutuskan untuk bergabung menjadi anggota. Padahal banyak hambatan yang ia temuin dengan keputusannya ini, seperti orang tua G yg sempat melarang G untuk belajar musik keroncong karena menilai musik keroncong kurang menjanjikan dan tidak menghasilkan apapun, dibandingkan dengan aliran musik pada UKM yang G telah ikuti sebelumnya. Tidak hanya itu hambatan juga terdapat pada kurangnya fasilitas yang menunjang pada UKM Keroncong dan sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan UKM musik yang G ikuti sebelumnya, kekurangan tersebut seperti tidak memiliki ruangan latihan sehingga latihan harus dilakukan secara berpindah-pindah, tidak memiliki keskretariatan dan tidak memiliki pelatih, namun banyaknya kekurangan ini tidak membuat G berniat keluar dari UKM Keroncong. Bahkan perlahan-lahan G tidak lagi aktif pada UKM yang ia ikuti sebelumnya, meskipun UKM yang G ikuti sebelumnya tersebut berfokus pada aliran musik yang ia sukai sejak dulu. Perlahan-lahan G mulai menyesuaikan persepsinya mengenai keroncong hingga ia dapat menikmati musik keroncong dan terus mempelajari keroncong. G rela mengorbankan waktu, tenaga dan materinya demi kemajuan UKM Keroncong ini.

Perilaku G tersebut memperlihatkan adanya komitmen yang besar dari G pada UKM Keroncong, meskipun pada awalnya G sama sekali tidak berminat dan tidak menyukai musik keroncong dan UKM tersebut memiliki berbagai kekurangan apalagi jika dibandingkan dengan ketersedian fasilitas yang ada di UKM yang ia ikuti sebelumnya, namun G terus bertahan di UKM Keroncong. Komitmen G yang besar pada kelompok keroncong tersebut membuatnya terus bertahan di UKM Keroncong. Bagaimana komitmen tersebut dapat terbentuk? Hal tersebut dapat dijawab dengan menelaah konsep identitas sosial yang dapat menjelaskan bagaimana proses yang seorang lewati dengan kelompoknya, termasuk mengenai proses terbentuknya komitmen seseorang terhadap kelompoknya.

Menurut Tajfel dan Turner (1979) group commitment atau komitmen terhadap kelompok adalah kuatnya komitment seseorang dan kuatnya perasaan in-group terhadap kelompok, sehingga membuatnya terus bertahan dalam kelompok. Hal ini menjadi suatu hal yang penting, sebab memungkinkan seseorang melepaskan identifikasinya terhadap kelompoknya sekarang dan berpindah ke kelompok yang dinilai memiliki status yang lebih tinggi. Seorang yang berkomitmen terhadap kelompoknya didahului oleh proses identifikasinya terhadap kelompok. Menurut Tajfel, proses identifikasi ini terdiri dari tiga aspek yakni aspek kognitif, aspek afektif dan evaluatif.

Aspek kognitif merupakan berbagai informasi dan pengetahuan yang dimiliki seseorang mengenai kelompoknya. Pengetahuan G mengenai kelompoknya, seperti sejarah berdirinya UKM, struktur organisasi, jenis musik keroncong yang menjadi fokus UKM, beberapa kegiatan dan tradisi yang ada di UKM menjadi bagian dari aspek kognitif G yang mendukung proses identifikasinya terhadap UKM Keroncong tersebut. Proses identifikasi dalam aspek kognitif ini membuat G melakukan self sterotyping terhadap kelompoknya, dimana kini G melakukan berbagai hal yang dilakukan kelompoknya, termasuk dalam hal menyukai musik keroncong, padahal sebelumnya G sama sekali tidak menyukai musik keroncong.

Apek Afektif merupakan signifikasi emosional dari keanggotaannya seseorang terhadap kelompoknya. Affective commitment G yang kuat dengan kelompoknya menciptakan rasa keeratan secara emosional dengan kelompoknya. Perasaan emosional tersebut berupa gambaran rasa kekeluargaan, kenyamanan, dan kebersamaan dengan kelompok. Menurut G misalnya saat ia tidak mood latihan, salah satu dari anggota UKM akan mendekatinya kemudian menanyakan apa yang terjadi padanya dan apa yang membuatnya tidak mood latihan,  disini membuat G merasakan rasa kepedulian dan perhatian satu sama lain. Saat G sakit, anggota UKM datang kerumahnya untuk menjenguk, bahkan mengurusi mulai dari menyuapi sampai membuatkan air panas untuk G mandi. Beberapa signifikansi emosional ini membuat G dapat terus bertahan di UKM Keroncong, G mengumpamakan kelompok keroncongnya sebagai raga yang memiliki nyawa, dan nyawanya adalah rasa kebersatuan dan kebersamaan antara anggota. Dengan itu segala kekurangan tidak akan terasa bahkan akan dinikmati. Hal ini memperlihatkan bahwa adanya keterikatan emosional antara G dan kelompoknya. Perasaan emosional tersebut dapat membuat G memaklumi berbagai kekurangan yang ada dikelompoknya, dibandingkan dengan keunggulan yang ada diluar kelompok dan membuat G merasa dirinya berarti bagi kelompok begitu juga kelompok sangat berarti baginya. Kuatnya keterlibatan emosinal G dengan kelompoknya membuat G merasa sangat membutuhkan kelompoknya dan membangun affective commitment yang kuat pada kelompoknya.

Aspek Evaluatif merupakan Merupakan penilaian yang individu berikan terhadap kelompoknya, dapat berupa penilaian positif maupun negatif. Nilai-nilai positif yang G miliki terkait keanggotaannya di UKM keroncong menjadi salah satu pembentuk kuatnya komitmen G pada UKM Keroncong dan terus bertahan disana. Nilai-nilai positif tersebut seperti berupa perasaan bangga G menjadi bagian dari UKM Keroncong, dimana menurut G kelompoknya adalah kelompok yang hebat, ia dan kelompoknya dapat bertahan dalam melestarikan dan memperkenalkan musik keroncong yang tidak semua orang dapat melakukannya. Penilaian G bahwa kelompoknya memiliki solidaritas yang tinggi, dapat saling menghargai dan menghormati satu sama lain juga menjadi salah satu penguat besarnya nilai-nilai positif yang G berikan terhadap kelompoknya. Solidaritas tersebut misalnya G gambarkan saat latihan jika ada salah satu diantara mereka belum dapat memainkan alat musik sesuai dengan lagu, maka anggota lain akan berhenti dulu untuk menunggu orang tersebut dapat memainkannya, bahkan bersama-sama mengajari dan memberi masukan. Nilai nilai positif ini memberikan kepuasan G bagi G menjadi anggota dari UKM Keroncong dan membuatnya memiliki self esteem yang positif mengenai kelompoknya. Sesuai dengan pendapat Tajfel bahwa self esteem yang negatif pada identitas sosial merupakan akibat dari ketidakpuasan terhadap hubungan didalam kelompok, sedangkan sebaliknya self esteem yang positif pada identitas sosial merupakan akibat dari kepuasan terhadap hubungan didalam kelompoknya.

Dalam membentuk komitmen terhadap kelompok tidak hanya dibangun melalui proses identifikasi, komitmen juga dibangun melalui proses membandingkan kelompoknya dengan diluar kelompoknya, atau yang disebut social comparison. G yang membandingkan kelompoknya dengan kelompok lain dan menghasilkan perbedaan mengarah pada keunggulan-keunggulan yang di UKM Keroncong dan membandingkan berbagai hal yang dinilai sebagai suatu kekurangan yang ada di UKM di luar kelompoknya, terutama terhadap UKM yang ia ikuti sebelumnya. Hal ini merupakan upaya mempertahankan self esteem yang positif terkait keanggotaannya di UKM Keroncong dan memperkuat komitmennya terhadap UKM Keroncong. Paparan keunggulan kelompok G gambarkan dalam bentuk rasa kekeluargaan yang dimiliki UKM Keroncong dan tidak ia dapatkan pada UKM yang ia ikuti sebelumnya. UKM Keroncong yang memiliki peraturan yang lebih fleksibel yang membuatnya nyaman dan tidak tertekan, dibandingkan dengan aturan ketat pada UKM yang ia ikuti sebelumnya. Perbandingan tersebut mengarah pada keunggulan dan kelebihan yang dimiliki UKM Keroncong sebagai upaya untuk mempertahankan self esteem yang positif terkait keanggotaannya di UKM Keroncong. Dengan self esteem yang positif yang ia dapatkan membuat G terus bertahan di UKM keroncong tersebut.

Olehkarena itu proses identifikasi dan social comparison merupakan hal yang penting dalam membangun komitmen seseorang terhadap kelompoknya. Identifikasi G terhadap kelompoknya membuatnya merasa in-group dengan kelompoknya, dimana rasa in-group ini dibangun melalui proses yang melibatkan tiga aspek yakni aspek kognitif yaitu pengetahuan G mengenai kelompoknya, aspek afektif yakni terbentuknya keterikatan emosional G dengan kelompoknya dan aspek evaluatif dimana G memberikan nilai-nilai yang positif pada kelompoknya. Proses social comparison yang G lakukan terhadap kelompoknya dengan kelompok lain memberikan self esteem yang positif terhadap kelompoknya. Dari kedua hal tersebut, yakni rasa in-group terhadap kelompok dan self esteem yang positif terhadap kelompok, membuat G dapat terus bertahan di UKM Keroncong meskipun awalnya G sama sekali tidak menyukai musik keroncong dan banyak kekurangan yang dimiliki UKM Keroncong.

Referensi :

Hogg M.A, Dominic Abrams, 1998. Social Identifications:A Social Psychology Of Intergroup Relations And Group Processes. London: Routledge.

Kraut, R. E. & Resnick, P (2010). Encouraging Commitment in Online Communities. University Cambridge, MA: MIT Press

Elemers, N. Kortekaas P, Jaap w. Ouwerkerk, 1999. Self-categorisation, commitment to the group and group self-esteem as related but distinct aspects of social identity. European Journal of Social Psychology, pp. 371-389.

Ellemers N, R. S. a. B., 2002. Self and social identity. Roetersstraat, Department of Social Psychology, University of Amsterdam.

Stet, P. J. B., 2000. Identity Theory and Social Identity Theory. Social Psychology Quartely, Volume 63, pp. 224-237.

Michael D.Johnson, F. P., 2003. Cognitive and Affective In Organizational Settings. Honolulu, Michigan State University.

Hornsey, M. J., 2008. Social Identity Theory and Self Categorization Theory. Journal Compilation Blackwell Publishing: A Historical Review, 1 2.pp. 204-222.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 10 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 12 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 13 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 14 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: