Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Haqique Achmad

Orang Sukses bukanlah orang yang mampu meraup uang sebanyak-banyaknya,tapi sukses di mata Allah adalah orang selengkapnya

Pajak Kampung Durian

OPINI | 31 January 2013 | 17:44 Dibaca: 166   Komentar: 2   1

Maaf sebelumnya, ini kita pakai logat medanlah ya. Mengapa aku bilang seperti itu. soalnya kalau kita pakai KBBI, akan salah judul diatas yang kubuat itu. kita semua, khususnya orang medan dan sekitarnya mengatakan pasar adalah pajak. Pasar kalau di medan jalan raya. Padahal secara umum, pasar adalah tempat dimana terjadi jual beli. Tapi di medan itu jalan. Contohnya, jalan marelan pasar lima, rumah si praja, temanku. Atau waktu kecil biasa kan kalau ada pesta pernikahan atau ada kemalangan di jalan raya, itu jalannya ditutup. Ingat kawan, menutup jalan harus ada prosedurnya juga. Tidak sembarangan menutup jalan. penutupan jalan memang diizinkan namun wajib memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ). Akan tetapi, dibolehkannya oleh UU bukan berarti tata etika dan kesalamatan di jalan raya diabaikan begitu saja. Syarat-syarat penutupan jalan itu adalah: pertama, penggunaan jalan diluar peruntukannya dapat diizinkan jika ada jalan alternatif. Kedua, penutupan jalan nasional dan jalan provinsi dapat diizinkan hanya untuk kepentingan umum yang bersifat nasional. Penutupan jalan provinsi untuk kepentingan pribadi seperti contoh foto di samping adalah jelas dan gamblang melanggar aturan.(1)

Waktu ada pesta, jalan kan ditutup. Main bolalah kami di jalan tersebut. mamakku pun mau undangan ke pesta tersebut. lalu dibilangnya lah, “jangan main-main dipasar kau ki”. Disitulah aku tau kalau pasar itu ya jalan. Bukan pasar tempat orang jual beli. Ternyata kebiasaan bisa membuat kebingungan ya. Teringat sama mata kuliah ku, Morphology, ilmu tentang kata-kata. Ada namanya coinage, yakni kebiasaan orang dalam berkata dan memaknai sebuah benda yang padahal benda tersebut bukan itu kata aslinya. Tetapi karena sudah membumi, jadi benda yang serupa dengannya pun disamakan dengan benda yang terkenal itu. contoh, kalian tau kan Honda, honda itu adalah merk sebuah kendaraan dari jepang. Bukan kendaraannya, melainkan merknya. Tapi cobalah kau jalan-jalan ke Labuhan Batu, khususnya kampung makku di Labura. Kereta (nah,ini saja udah salah, sepeda motor dibilang kereta) padahal Suzukinya merknya, dibilanglah : “Ki,cok kau panaskan dulu Honda uwak.”

Kalau pajak, pajak itukan berarti iuran wajib untuk negara. Tapi kalau disini, pajak itu tempat jualan. Contohnya pajak helvetia, pajak kampung lalang, pajak sukaramai, dll. Setiap pajak punya ciri khasnya. Baik umum maupun khusus. Umumnya, tengok jalah dimana-mana pajak, kalau tidak buat macet, bukan pajak namanya. Di Sikambing, jam 4 pagi pun udah rame. Apalagi suasana dan pandangan kumalnya. Wah, super busuk bau pun tidak terelakkan.

Disini aku akan menceritakan tentang pajak kampung durian. Pajak dimana setiap hari kulalui ketika ingin kuliah. Aku tertarik sekali membuat cerita tentang tempat ini, karena kulihat di pajak ini mempunyai banyak cerita yang mantap buat diangkat. Ditambah lagi untuk melatih kesukaan baruku ini, yakni menulis. Istilahnya, alah bisa karena biasalah.

Kuliah adalah aktivitas yang harus kulewatkan untuk menatap hidup selanjutnya. Kata orang, kalau mau gaji tinggi, ya kuliahlah. Tapi tidak juga kan, banyak yang lulusan SMA lebih besar pendapatannya. Ya lihatlah pengusaha-pengusaha itu. tapi, kalau menurutku, betul kata dosen PTK ku, kuliah itu membuat status sosial sedikit lebih tinggi. orang akan sedikit menghargai orang tua kita yang berhasil mendidik anaknya dan berjuang untuk anaknya sehingga bisa mendapatkan gelar tersebut.

Mengendarai si merah putih kebanggaanku, walau keretaku itu banyak penyakitnya karena penyakitku, namun dialah penyelamatku dan selalu menemaniku kemanapun aku pergi.

Setiap aku pergi, selalu kemacetan yang aku lalui. Debu-debu jalan yang menyesakkan dan masuk ke dalam lubang hidung dan mengancam untuk menghancurkan keprimaanku. Asap-asap hitam yang menimbulkan racun dan menyengat untuk dihirup. Belum lagi ugal-ugalannya angkot vs betor yang semrawut berhenti dimana saja, kapan saja. Teringat lagu macet project pop.

Isi kebun binatang semua diucapkan!

Caci maki sumpah serapah diteriakkan!

Kalo ada yang (tin! tin!) gua jawab,”Ape loe liat-liat??!!”

Kalo ada yang mepet, “Heh!! Pake mata loe!!!”

Untuk mengantisipasi lebih banyak kemacetan, aku berbelok arah sedikit, menuju jalan yang menurutku bisa menjadi alternatif agar tidak terkena macet. Namun, instingku kali ini salah, aku terjebak dalam satu tempat yang tak kalah semaknya. Tempat itu bernama pajak kampung durian. Disinilah aku menemukan dinamika kehidupan yang aku kira hanya ada di negeri kita ini saja.

1. Mobil Orang Kaya atau yang sok Kaya

Awal perjalanan, aku melihat macetnya mobil-mobil milik orang kaya atau ntah kaya ntah nggak. Semakin banyak mobil, semakin macetlah jalan. Belum lagi melihat supir mobil yang sedikit saja mobil itu lecet, meraungnya macam bom atom meledak, makanya memilih jalan pelan-pelan. Tak ayal dari belakang makian dilontarkan. Si tukang becak paling lantang suara omelannya. “oi orang kaya, cepat sikit”.

Aku berfikir sejenak. Mengapa di negeri yang katanya negara miskin, tapi banyak sekali yang menggunakan mobil. Kita taksir saja harga paling murah itu 100 jutaan. Bayangkan kaan berapa ribu mobil yang ada di kota ini saja. Berarti kita tidak negara miskin kan? Atau perkiraanku, masyarakat kita ini, terkenal dengan gengsinya. Akibat menonton sinetron-sinetron itu. aku setuju dengan MUI Binjai yang kubaca pada poster yang ditempel yang menginstruksikan warganya agar mematikan tv pada jam sinetron tayang dan lebih baik mengaji dan belajar pada jam itu. atau perkiraanku yang ketiga, aku iri karena tidak punya mobil barangkali.haha..

2. Ibaku dengan Tukang Parkir Ilegal

Aku bertanya-tanya, mengapa lama sekali ini berjalan. Ternyata ku lihat mobil box hitam yang parkir di sembarang tempat. Disebelahku ada seorang pengendara kereta yang sudah terlihat tua menjerit lantang memaki. “oi lek, kubakar mobil kau nanti”.

Tentang parkir sembarang tempat, aku teringat dengan banyak tempat di medan ini yang seperti itu. sepertinya ada keistimewaan atau apalah namanya dari pemerintah. Lihatlah di salah satu jalan di medan, sampai-sampai ada parkir 3 lapis. Bahkan membuat jalan umum menjadi jalan pribadi. Padahal di tempat itu terlihat petugas lalu lintas. Menurutku, mesti ada terobosan membuat gedung parkir sendiri untuk semua tempat yang membuat macet. Tapi aku lebih geli lagi, aku parkir untuk membeli nasi, eh malah kena biaya parkir. Padahal keretanya di depan mataku. Dengan wajah seram, baju orange sedikit kusam dengan tanda pengenal tak jelas yang dikalungkan. Tak lupa penutup kepala dari handuk. dia menghampiriku, “cibu dek”. Bagaimana menurut kalian kawan tentang ini?dihati lain aku kasian dan yah Cuma seribu untuk keluarganya, daripada dia mencuri atau menganggur. Tapi di hati lain bertanya, nih uang dikemanakan yah nantinya?

3. Bhinneka Tunggal Ika

Macet makin tak karuan, setelah berjalan seroda demi seroda ku lewati, aku melihat pedagang yang asyik dengan jualannya. Aku melihat ada satu kehidupan disitu, ternyata disini bercampurlah semua suku yang menjajakan dagangannya. Mulai dari melayu, jawa, batak, bahkan tionghoa dan dengan bahasa dan logatnya. Bermuamalat dengan baik dan tidak mengenal yang namanya aku kaya dan miskin, yang ada hanya dialog “sadia?”. Yang jualan es cendol, terlihat dibelakangnya jualan capcai ala cina. Berlalu-lalang manusia-manusia dari berbagai suku tersebut tanpa ada ejekan, makian, dan rasis. Jajakan yang beranekaragam, jual buah, jual sayuran, jual ikan, jual daging, daging halal dan tak halal, jualan cendol, semuanya ada.

Itulah Bhinneka Tunggal Ika kawan. Membanggakan juga kawan, di Sumut sangat jarang sekali terdengar ada konflik agama, ataupun suku. Akupun mengambil kesimpulan kalau adat turun temurun sangat ditekankan dahulu bagi mereka. Contohnya, ketika ada seseorang masuk kerja, terus diinterview dengan orang yang sudah kita tau, dia itu berbeda agama. Namun, hanya karena kita mengatakan marga kita. Beliau dengan senangnya menerima kita. Mamakmu itu amang boruku, satu keturunan kita. Mudah-mudahan itu bukan nepotisme ya.

4. Manajemen Kontrol yang lemah.

Terlewatkanlah sedikit demi sedikit lika liku kehidupan pajak, ternyata halanganku tidak dengan mudah terlewati. Lihatlah kawan, jalan pun berlobang, kalau hujan beceklah itu. padahal baru saja aku tau kalau itu diaspal. Tapi mendinglah kalau kulihat waktu aku kecil dulu. Diajak mamakku ke pajak kampung durian. Jalan masih tanah, becek macam pajak simpang limun yang mau ke jalan Mawi Harahap itu. parah.

Aku pikir, salah satu kelemahan kita kawan, kurangnya manajemen kontrol di setiap lini. Sudah diaspal, yaudah, tidak ada namanya pemeliharaan. Bahkan, lampu merah di jalan Amir Hamzah, lampu merahnya pun rusak, lihatlah kawan betapa heran mereka, yang lain pada jalan semua, mereka sudah bermenit-menit berhenti. Tak ayal juga kalau mati lampu, betapa parahnya macet itu kawan, saling sikut saling hadanglah, siapa yang paling cepat, dia duluan lewat.

5. Lestarikan budaya nenek moyang

Hampir sampai di penghujung jalan terlihat lagi kendaraan yang waktu aku kecil dulu sering aku naikin dari pajak menuju rumah. Apalagi kalau bukan becak dayung. Becak tradisional yang masih melaju lamban di pajak ini. Kalah saing dengan Betor dan angkot yang lebih tancap jauh darinya. Namun, di pajak Kampung durian, becak masih tetap idola. Mengantar ibu paruh baya menuju rumah dengan harga yang setimpal dan lebih murah.

Sudah saatnya kita memikirkan kehidupan mereka kawan, apakah masih berlaku eksploitasi manusia ke manusia? bayangkan kawan ketika kau melihat seorang kakek yang masih bisa tersenyum dengan memikul berat dan mendayung sambil berkeringat mencari uang buat hidupnya dan keluarganya. Tanpa becak dayung, aku kira dia bakal terinjak dan penuh kesengsaraan.

Becak dayung kawan, jauh dari polusi kendaraan lainnya yang bising dan menyebar polusi itu. becak dayung mestilah kita lestarikan. Bukan juga becaknya, tapi orangnya. Sudah saatnya kita jadikan becak dayung sebagai salah satu kendaraan wisata mengelilingi mesjid raya. Dan kita kurangi orang-orang yang mengharapkan kehidupan mereka dari becak tersebut, sudah saatnya diberi kehidupan yang layak dan pekerjaan yang layak pula sesuai umur mereka.

Akhirnya aku lalui persimpangan dan terus menjauhi pajak kampung durian menuju kampus tercinta. Kehidupan pajak kampung durian adalah kecilnya kisruh masalah di negeri ini. Mudah-mudahan dengan berkuliah, aku dan kawan-kawan intelektual lainnya bisa mencintai negeri ini dan mensejahterakan masyarakat negeri ini.

1359628895511182982

(1) http://hukum.kompasiana.com/2012/04/18/inilah-prosedur-menutup-jalan-umum-saat-perkawinan-atau-kematian-455979.html



Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Unik Menyeberangkan Mobil ke Pulau …

Cahayahati (acjp) | | 16 September 2014 | 14:16

Korupsi Politik Luthfi Hasan Ishaaq …

Hendra Budiman | | 16 September 2014 | 13:19

Kenapa Narrative Text Disajikan di SMA? …

Ahmad Imam Satriya | | 16 September 2014 | 16:13

[Fiksi Fantasi] Runtuhnya Agate: …

Hsu | | 16 September 2014 | 05:54

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 8 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 10 jam lalu

UU Pilkada, Ken Arok, SBY, Ahok, Prabowo …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Golkar Butuh Pemimpin Sekelas AL …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Ikan Mas Koki Dioperasi Untuk Angkat Tumor …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat? …

Choirul Huda | 8 jam lalu

Bukan Bagi-bagi Kursi, Tapi Bagi-bagi …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

Pengacara Seribu Rupiah …

Mini Praise | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: