Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Satria Wirang

Mikul dhuwur mendhem jero

Gotong Royong

REP | 29 January 2013 | 16:03 Dibaca: 206   Komentar: 0   0

Hari itu adalah hari minggu pada bulan Maret 1994, warga lelaki dewasa dukuh Bendorejo, Desa Poleng di wilayah Kabupaten Sragen Jawa Tengah sibuk membawa peralatan sabit, cangkul, klewang dan sebagainya. Mereka menuju rumah Pak tarno yang akan memindahkan salah satu rumah di sebelah pekarangannya karena anak tunggalnya si Marni dan suaminya akan “misah” (berumahtangga sendiri). Warga yang hadir secara sigap melakukan pembongkaran rumah yang akan dipindah. Rumah dibongkar menyisakan rangka rumah saja. Kemudian secara bersama-sama rangka rumah tersebut dipindahkan dengan diangkat bersama-sama ke pekarangan yang sudah disiapkan, juga oleh warga. Kerangka rumah yang terbuat dari kayu dan bambu itu ditempatkan pada pondasi batu yang sudah siap sesuai ukuran rumah tersebut. Selesai istirahat makan siang yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu warga Bendorejo, mereka bekerja dengan disertai canda tawa menyelesaikan pemasangan atap, genting dan “gedhek” (dinding dari anyaman bambu). Luar biasa, pekerjaan yang begitu rumit dan banyak tersebut selesai dalam waktu sehari.

Salah satu kisah nyata di atas merupakan salah satu bentuk budaya asli bangsa Indonesia yang luhur. Ya, gotong royong adalah satu dari sekian banyak akar budaya yang dibanggakan oleh rakyat Indonesia. Gotong royong bahkan merupakan salah satu dasar filsafat Indonesia, menurut M. Nasroen. Menurut sumber yang diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Gotong_royong, gotong royong merupakan suatu istilah asli Indonesia yang berarti bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu hasil yang didambakan. Dengan gotong royong maka pekerjaan yang berat sekalipun akan dapat terlaksanan dengan ringan karena dikerjakan secara bersama-sama disertai keikhlasan hati untuk saling membantu sesama. Bahkan budaya gotong royong ini mampu mampu memberikan rasa toleran yang sangat tinggi tanpa membeda-bedakan perbedaan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Apabila terjadi ada salah satu dari anggota kelompok masyarakat yang tidak ikut gotong royong ini maka hukum sosial akan berlaku, yaitu akan dikucilkan sehingga menimbulkan rasa malu terhadap pelakunya. Sehingga warga yang tidak mau bersosial dalam kelompok masyarakatnya akan mendapatkan nilai negatif dari lingkungannya.

Semenjak arus globalisasi dan modernisasi dari dunia barat mulai membanjiri Indonesia, nilai-nilai luhur budaya bangsa mulai tergerus oleh budaya-budaya dari barat. Isu-isu dan tema-tema kebebasan yang dijadikan suatu dasar sosialisasi HAM (hak asasi manusia) mulai menjadi perhatian dan mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Kemudian banyak kalangan masyarakat yang menggugat untuk mulai meninggalkan nilai-nilai gotong royong dengan alasan kebebasan untuk melakukan kegiatan sesuai keinginan masing-masing oleh karena tuntutan tugas atau pekerjaan yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan gotong royong. Dan hal ini menjadi tuntutan sebagian besar rakyat Indonesia sampai saat ini. Untuk melaksanakan gotong royong pembersihan lingkungan warga cukup dengan membayar pekerja, praktis dan tidak membuang waktu untuk keluarga atau untuk pekerjaan. Karena waktu adalah uang. Sehingga yang bekerja gotong royong adalah uang-uang mereka yang berduit, sedangkan yang tidak berduit tetap bekerja dengan keringat mereka. Hal ini sudah menjadi sangat wajar dan lumrah untuk masa-masa dimana nilai-nilai kapitalisme sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Bahkan sudah terjadi pergeseran yang sangat jauh dari nilai hakiki manusia, orang akan dihormati karena banyak hartanya bukan dihormati karena budi baiknya. Memprihatinkan!!! Nilai hakiki manusia seharusnya, orang terhormat karena dia adalah berbudi baik, bermoral baik, berkata-kata yang baik dan bertingkah laku baik. Bukan sebaliknya, menjadi orang munafik justru terhormat. Ciri-ciri munafik adalah bila berkata bohong, bila dipercaya khianat, bila berjanji ingkar. Yang benar-benar mengerti apakah kita termasuk munafik atau tidak adalah hati kita sendiri. Jadi mari kita merenung sejenak, kemana kita akan meletakkan kaki kita, terhormat di depan manusia tapi munafik atau terhormat di depan Allah? Silakan pilih!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: