Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Mohamad Rian Ari Sandi

Mahasiswa S1 PKn FPIPS UPI. Hobi membaca, menulis, main bola, diskusi politik-sosial-agama-sepakbola. Masih Lajanggg.

Ironi Musala di Kota Bandung

OPINI | 25 January 2013 | 14:00 Dibaca: 222   Komentar: 0   1

Ironis! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana timpangnya kehidupan di kota Bandung saat ini. Ditengah gencarnya kampanye walikota Bandung Dada Rosada untuk mewujudkan masyarakat kota Bandung yang agamis, fakta yang ada di lapangan justru sangat menohok walikota. Dilansir dari okezone.com, Pusat Data dan Dinamika Umat (PPDU) Yayasan Darul Hikam memaparkan data bahwa hanya 38 persen dari 60 mal musala di mal, kafe, hotel, dan restoran di kota Bandung yang layak digunakan. Direktur PPDU Yayasan Darul Hikam, Sodik Mujahid menambahkan, dari 22 mal, 13 rumah makan, 17 hotel, dan 8 tempat pelayanan publik, 55 persennya memiliki akses yang sulit untuk menuju musala. Kemudian dia juga membeberkan bahwa dari jumlah tersebut sebanyak 63 persen musala tidak mendapatkan penjagaan dari petugas dan 57,67 persen tanpa petugas kebersihan toilet. Akibatnya 85,33 persen tempat wudu kotor. Dari sekian banyak tempat-tempat tersebut musala di Bandung Indah Plaza (BIP) merupakan yang paling layak, sementara yang paling tidak layak seperti yang terdapat di Paris van Java (PvJ) Mall.

Menyimak fakta tersebut tentu membuat kita semua miris. Pembangunan tempat-tempat hiburan yang terus berlangsung di kota ini ternyata tidak dibarengi dengan penyediaan fasilitas ibadah yang memadai khususnya bagi umat muslim. Dan itu memang dialami sendiri oleh saya pribadi. Salah satu contohnya adalah ketika mengunjungi pusat jual beli barang-barang elektronik di Bandung Elektronik Centre (BEC) di Jalan Purnawarman. Bangunan BEC yang begitu megah hanya dilengkapi dengan musala yang kira-kira hanya bisa menampung tidak lebih dari 20 orang saja. Hal itu diperparah dengan letak musala yang butuh perjuangan ekstra untuk mencapainya karena terletak di basement bangunan. Sementara itu musala yang ada di BIP harus saya akui memang cukup layak layak untuk digunakan. Selain daya tampung yang cukup banyak, musala tersebutpun selalu ada dalam penjagaan petugas sehingga tempat wudupun bersih dan nyaman untuk digunakan. Semoga musala di BIP bisa menjadi contoh untuk para pengelola tempat-tempat hiburan dan keramaian lainnya yang ada di kota Bandung.

Fakta dan data di atas juga semoga menjadi cambuk bagi pemerintah kota Bandung agar bisa membuat sebuah kebijakan yang bisa membuat para pengusaha sadar akan pentingnya fasilitas ibadah yang layak bagi masyarakat. Walaupun sampai saat ini (setau saya) belum ada regulasi yang jelas tentang keberadaan tempat ibadah di tempat keramaian seperti mal, masyarakat pasti sangat menginginkan kepedulian dan kesadaran dari pengusaha ataupun para pengelola tempat keramaian agar menyediakan tempat ibadah yang layak. Masyarakat pun sebetulnya harus pro aktif dalam memberikan kritikan dan saran kepada pemerintah dan juga para pengelola tempat keramaian agar senantiasa memberikan pelayanan yang memuaskan bagi konsumen. Karena bagaimanapun masalah tempat ibadah tidak bisa dianggap sepele. Rasanya semua orang pasti tahu, hidup di dunia hanyalah sesaat saja, ada kehidupan abadi tempat kita mempertanggungjawabkan kehidupan kita di dunia yakni alam akhirat. Dan solat dalam agama Islam merupakan hal yang sangat fundamental karena sudah jelas dikatakan bahwa amalan solat adalah yang paling pertama dan utama akan ditanyakan saat hari perhitungan tiba.

Well, semoga keadaan ini menyadarkan kita semua. Masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam upaya pembangunan di kota Bandung khususnya dan Indonesia pada umumnya agar terus menjadi lebih baik lagi. Pembangunan fisik memang sangat diperlukan untuk menunjang kehidupan masyarakat, tetapi jangan lupa juga pembangunan ruhani seharusnya tidak boleh dilupakan bahkan harus diutamakan oleh para pemangku kepentingan.

Wallahualam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 3 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 9 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 14 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 14 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

remaja generasi yang harus di selamatkan …

Azim Marzuki | 8 jam lalu

Cinta Tulus Seorang Perempuan Pujaan …

Ahsani Fatchur Rahm... | 8 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Tridinamika Sukses Meraih Sertifikasi ISO …

Tridinamika News | 8 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: