Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Firman Syafei

PNS yang ingin jadi bermanfaat untuk bangsa dan negara

Hati-hati dengan iklan yang BEJO

OPINI | 24 January 2013 | 23:06 Dibaca: 2791   Komentar: 0   0

Awalnya tidak ada yang aneh ketika sebuah perusahaan membuat iklan obat masuk angin dengan jargon “Orang Pintar kalah dengan Orang Bejo”. Memang sih, Bejo bukan kata yang umum, terutama bagi saya yang orang Sunda.

Kata “Bejo” yang berarti “beruntung” hanya dimengerti oleh etnis Jawa. Untungnya di versi cetaknya, iklan ini memuat definisi kata “bejo”, sehingga iklan yang seolah-olah hanya ditujukan bagi orang jawa, bisa dimengerti orang banyak.

Alasan Pemilihan jargon “Orang Pintar kalah dengan Orang Bejo” sangat gampang ditebak. Jargon ini dipilih sebagai respon iklan produk pesaing yang mengusung jargon “Orang pintar ya Minum Tol*k Angin”. Iklan ini punya dua target. Pertama, iklan ini ingin menggiring alam bawah sadar konsumen bahwa ketika masuk angin, cara cerdas dan pintar untuk mengobatinya adalah dengan minum Tol*k Angin.

Kedua, iklan ini ingin menetapkan status Tol*k Angin sebagai produk yang dipilih oleh orang-orang  terpandang dan terpelajar. Status ini akan mengangkat Tol*k Angin sebagai produk berkualitas tinggi sehingga “dipilih oleh kalangan pintar” ketika mereka masuk angin.

Iklan “Orang Pintar” menghajar produk-produk pesaing di tempat yang tepat. Karena sebagus apapun produk anda, “orang pintar” tidak minum produk tersebut. Lagipula, ketika masuk angin, cara “pintar” untuk mengatasinya adalah minum Tol*k Angin.
Kalah dalam perang di benak konsumen, Bi**ang Toedjoe membuat iklan “Bejo” yang intinya bahwa biarpun orang “Pintar” minum produk lain, tapi apa gunanya jadi orang pintar, karena “orang pintar itu kalah dengan orang beruntung”. Saya faham, ini adalah direct war alias perang terbuka yang diluncurkan Bi**ang Toedjoe terhadap Sido Mu**ul. Strategi ini biasa dipakai untuk menarik perhatian konsumen dalam waktu singkat.
Namun kampanye ini jadi masalah ketika iklan versi Bob Sadino mulai tayang di televisi. kalimat yang disampaikan pengusaha ini dalam iklan tersebut menurut saya kurang tepat disampaikan ke publik. Berikut kalimat dalam iklan tersebut.

Saya Bob Sadino, jadi pengusaha bukan karena pintar, tapi Bejo. Jangan banyak mikir, berusaha aja. Pake celana pendek, nggak takut masuk angin. Orang Bejo seperti saya, masuk angin? minum Bi**ang Toedjoe Masuk Angin. hmmm”. Pada akhir iklan, terdapat teks “orang BEJO lebih untung dari orang pintar”.
Kalimat pertama dari iklan ini seolah-olah menegaskan bahwa kepintaran bukan modal menjadi pengusaha sukses seperti Bob Sadino. Kalau kalimat ini diartikan secara serampangan, orang akan berfikir bahwa tanpa kualitas seperti pengetahuan, wawasan, dan keterampilan, tapi semata-mata karena BEJO, seseorang bisa sukses menjadi pengusaha. Kalimat ini menegaskan budaya instan dimana banyak orang bermimpi untuk sukses dengan modal menunggu nasib.

“Jangan banyak mikir, berusaha aja..” betul memang, kalau ingin berusaha, harus sedikit nekat. tapi nekat yang dimaksud adalah terjun dengan persiapan yang matang. Sebanyak apapun modal yang dimiliki, tanpa kerja keras, keterampilan, wawasan, pengetahuan yang memadai, sulit mengharapkan kesuksesan, bahkan seBEJO apapun anda.

BEJO atau beruntung, menurut saya adalah momen ketika perjuangan tanpa lelah yang ditopang pengembangan diri yang terus menerus bertemu dengan kesempatan yang tepat sehingga menghasilkan keberhasilan. Sama sekali bukan BEJO yang datang begitu saja tanpa ada usaha awal. Dengan demikian orang BEJO, pada dasarnya adalah orang Pintar yang bertemu dengan momen keberhasilan sebagai hasil perjuangannya.

Bahkan jargon yang diusung dalam iklan ini pun melenceng dari maksud aslinya. Peribahasa asli sebenarnya berbunyi wong pinter kalah karo wong bejo, yang artinya tidak selamanya kepandaian akan membawa kepada kesuksesan. Dalam bahasa statistika, peribahasa ini berarti dari 100% kesuksesan, ada sekitar 5% kesuksesan yang terjadi karena keBEJOan. Sisanya, 95% kesuksesan diraih karena kepintaran. Kalau merujuk kesimpulan saya bahwa Bejo aslinya adalah orang pintar, maka sebenarnya tidak ada dasar untuk berfikir bahwa sukses itu datang dari keberuntungan.

Bagi mereka yang Muslim, Allah sudah dengan jelas menggariskan bahwa Nasib manusia ditentukan oleh usahanya. Dalam Alquran, tegas tertulis bahwa :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka (Surah Ar-Rad, ayat 11)

Ayat ini sangat mudah untuk difahami. Nasib akan datang sesuai tingkat usahanya. Menunggu Bejo? lupakan saja.

Catatan: saya tidak beriklan disini, ketika masuk angin saya istirahat yang cukup dan minum jeruk hangat

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

9 Mei 2014, Sri Mulyani Come Back …

Juragan Minyak | | 25 April 2014 | 10:12

Gitar Bagus Itu Asalnya dari Sipoholon, Lho! …

Leonardo Joentanamo | | 25 April 2014 | 11:08

Kesuksesan Kerabat Kepala Daerah di Sulawesi …

Edi Abdullah | | 25 April 2014 | 10:02

Selamat Hari Malaria Sedunia 2014 …

Avis | | 25 April 2014 | 11:08

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: