Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Rama Irmawan

tercatat sebagai mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. I've loved MANCHESTER UNITED since selengkapnya

“Sekaten” Melekat di Ngayogyakarta Hadiningrat

REP | 15 January 2013 | 23:06 Dibaca: 300   Komentar: 0   2

Bulan Mulud adalah bulan ketiga dalam kalender tahun Jawa. Biasanya dan sudah menjadi tradisi tahunan pada bulan ini diadakan upacara adat yang sering disebut Sekaten. Sekaten berasal dari kata syahadataini, dua kalimat dalam Syahadat Islam, yaitu syahadat taukhid ( Asyhadu alla ila-ha-ilallah ) yang berarti “aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah” dan syahadat rasul ( Waasyhadu anna Muhammadarrosululloh ) yang berarti ” aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah “. Meskipun ada pendapat lain tentang asal - usul dari sekaten ini, tetapi tujuannya tetap sama yaitu untuk menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW.

Rangkaian acara sekaten salah satunya adalah pasar malem, dimana pasar malem dibuka satu bulan sebelumnya. Beraneka macam hiburan, pedagang dan sebagainya ada di area Alun – Alun Utara yang menjadi lokasi sekaten. Rangkaian acara lainnya adalah merupakan acara inti dari sekaten adalah upacara sekatenan.

Sebelum upacara Sekaten dilaksanakan, diadakan dua macam persiapan, yaitu persiapan fisik dan spiritual. Persiapan fisik berupa peralatan dan perlengkapan upacara Sekaten, yaitu Gamelan Sekaten, Gendhing Sekaten, sejumlah uang logam, sejumlah bunga kanthil, busana seragam Sekaten, samir untuk niyaga, dan perlengkapan lainnya, serta naskah riwayat maulud Nabi Muhammad SAW. Gamelan Sekaten adalah benda pusaka Kraton yang disebut Kanjeng Kyai Sekati dalam dua rancak, yaitu Kanjeng Kyai Nogowilogo dan Kanjeng Kyai Guntur Madu. Gamelan Sekaten tersebut dibuat oleh Sunan Giri yang ahli dalam kesenian karawitan dan disebut-sebut sebagai gamelan dengan laras pelog yang pertama kali dibuat. Alat pemukulnya dibuat dari tanduk lembu atau tanduk kerbau dan untuk dapat menghasilkan bunyi pukulan yang nyaring dan bening, alat pemukul harus diangkat setinggi dahi sebelum dipuk pada masing-masing gamelan. Dan Gendhing Sekaten adalah serangkaian lagu gendhing yang digunakan, yaitu Rambu pathet lima, Rangkung pathet lima, Lunggadhung pelog pathet lima, Atur-atur pathet nem, Andong-andong pathet lima, Rendheng pathet lima, Jaumi pathet lima, Gliyung pathet nem, Salatun pathet nem, Dhindhang Sabinah pathet em, Muru putih, Orang-aring pathet nem, Ngajatun pathet nem, Batem Tur pathet nem, Supiatun pathet barang, dan Srundeng gosong pelog pathet barang.

Sedangkan untuk persiapan spiritual, dilakukan beberapa waktu menjelang Sekaten. Para abdi dalem Kraton Yogyakarta yang nantinya terlibat di dalam penyelenggaraan upacara mempersiapkan mental dan batin untuk mengembang tugas sakral tersebut. Terlebih para abdi dalem yang bertugas memukul gamelan Sekaten, mereka mensucikan diri dengan berpuasa dan siram jamas. (sumber http://gudeg.net)

13582655351279141658

salamjogja.wordpress.com

“Gamelan Mudun” istilah orang Jogja menyebut prosesi ketika gamelan sekaten ini dikeluarkan dari persemayamannya dan nantinya akan di letakkan di halaman Masjid Agung, disinilah bagaimana kekentalan akan budaya yang masih dipegang teguh terlihat. Masyarakat khususnya di wilayah Jogja menilai bahwa jika ikut memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW akan mendapatkan berkah dan awet muda. Kepercayaan ini tidak lepas dari bagaimana dulunya penyebaran agama islam di Jawa oleh Sunan Kalijaga dengan menggunakan gamelan yang diselipi dakwah islam. Oleh karena itu selama perayaan sekaten ini banyak yang berjualan sirih, nasi wuduk atau sego gurih lebih terkenalnya di sekitaran masjid dan alun – alun utara dengan berbagai alasan historisnya. Hingga tak jarang masyarakat datang untuk membeli “sego gurih” dengan lauk pauknya, terutama saya. Entah apa yang ada di pikiran saya, tetapi kurang lengkap rasanya kalau tidak menikmati sego gurih di perayaan sekaten.

1358265323574220846

kratonpedia.com

1358265689630547176

jogjanews.com

Perayaan sekatenan ini akan ditutup dengan Gunungan atau Grebeg. Dimana Gunungan ini yang berisikan macam – macam hasil bumi. Gunungan sekaten juga menyimpan nilai keyakinan dari budaya, bahwa siapa yang mendapatkan hasil dari gunungan tersebut akan mendapat berkah. Inilah yang menjadi sebuah tradisi yang mendarah daging bagi warga Ngayogyakarta Hadiningrat.

Di balik semua prosesi yang ada dalam sekatenan, perayaan ini juga memberikan berkah tersendiri bagi orang – orang yang mencari rejeki dari perayaan ini, seperti tukang parkir dan pedagang di sekitar lokasi.

SAVE OUR CULTURE !

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haru Jokowi-JK di Kapal Phinisi …

Yusran Darmawan | | 25 July 2014 | 10:00

Terimakasih BPJS …

Guntur Cahyono | | 25 July 2014 | 06:54

Anonim atau Pseudonim? …

Nararya | | 25 July 2014 | 01:41

9 Tips Meninggalkan Rumah Saat Mudik …

Dzulfikar | | 24 July 2014 | 22:48

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: