Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Farridan Mukhlas

tinggal di papua barat

Gonjang-ganjing Keberagaman di Indonesia

REP | 13 January 2013 | 20:37 Dibaca: 323   Komentar: 0   1

Masih hangat ditelinga kita tentang penyerangan terhadap Ja’maah Ahmadyah di Cikeusik, kerusuhan di Temanggung dan beberapa peristiwa-peristiwa yang berakhir dengan kekerasan, menjadi sebuah trend yang kembali digunakan oleh masyarakat dalam menyikapi perbedaan, terutama terhadap isu-isu keagamaan. Seakan tak cukup dengan itu, bahkan terror-pun di tujukan kepada mereka yang vokal menyuarakan isu-isu keberagaman dan pluralisme. Ini menunjukan sangat sensitifnya masyarakat kita dengan kata perbedaan. Implikasinya, masyarakat sekarang ini menjadi sebuah petasan yang siap menyala pada saat dinyalakan oleh orang lain. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal itu, diantaranya; Pertama, rendahnya rasa toleran yang membungkus masyarakat majemuk. Kedua, tidak adanya kearifan lokal untuk mengakomodir perbedaan-perbedaan yang ada. Ketiga, kurangnya pengetahuan tentang pluralisme yang menjadikan rahmat untuk kita semua. Hal-hal itulah yang melatar belakangi minimnya kesadaran sosial diantara kita.

Dalam sejarahnya, bangsa Indonesia adalah masyarakat yang sangat santun dan sangat toleran terhadap keberagaman. Jarang sekali terjadi konflik horisontal yang dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan agama ataupun budaya. Meskipun dalam banyak hal ada perbedaan, semuanya dapat menerima dan saling menghormati, saling menghargai satu dengan yang lainya. Masyarakat Indonesia dikenal toleran dan mempunyai kearifan lokal dalam menanggapi perbedaan-perbeadaan, kini dengan cepatnya telah berubah menjadi pemarah dan agresif. Sedikit saja disulut dengan isu-isu yang sensitif, seperti kebebasan beragama dan berkeyakinan ataupun dilatarbelakangi kebudayaan masyarakat, dapat dengan mudah menjadi berapi-api, bagaikan rumput kering yang mudah terbakar.

Sejatinya Indonesia ini adalah sebuah kesatuan teritorial yang terdiri dari beraneka ragam kekayaan etnis suku bangsa, tradisi budaya, bahasa dan keyakinan didalamnya. Ke-bhinekaan yang terdapat disepanjang jejeran kepulauan nusantara ini adalah anugrah yang diberikan Tuhan bagi bangsa Indonesia. Namun, serasa kata yang termaktub dalam pengertian “Bhineka Tunggal Ika” menjadi hiasan garuda saja dan menjadi bahan bacaan yang tidak berarti apa-apa. Sangat miris sekali, bila kita tahu hal ini terjadi di negeri kita ini yang sangat menjunjung tinggi nasionalisme dan kebersamaan.

Beralih ke Indonesia timur, yang menurut kalangan media sebagai daerah tertinggal ataupun terisolir. Akan tetapi, Indonesia bagian barat maupun tengah harus mau berkaca pada ujung indonesia timur, tepatnya Kabupaten Sorong Papua Barat. Kemajemukan masyarakat, dari segi keagamaan, kebudayaan, maupun suku dan etnis mampu melebur menjadi satu kesatuan untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis. Islam, Kriten, Hindu, Budha, dan Konghuchu yang mengisi kehidupan keagamaan masyarakat mampu menerima satu sama lain dan memahami perbedaan yang ada. Begitupun dengan kebudayaan dan suku yang berkumpul pada daerah transmigrasi ini, menyadari bahwa kita berbeda-beda akan tetapi tetap satu bangsa. Hal ini tidak terlepas dari peran pemerintah dan ormas-ormas yang ada dan mewarnai daerah ini. Kesinerginitas tercipta antara pemerintah, ormas-ormas, dan masyarakat dalam menciptakan daerah yang aman, damai, dan kondusif.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 12 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 13 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 14 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 15 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 12 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 12 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 13 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 13 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: