Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Yafaowoloo Gea

Pencinta Traveling, Pemerhati Wisata & Budaya Nias

Kisah Perjuangan Penyadap dan Penyuling Tuo Nifaro (Tuak Suling Khas Nias)

REP | 11 January 2013 | 23:51 Dibaca: 617   Komentar: 0   1

Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk memilih bekerja sebagai pengumpul dan penyuling tuak, namun ketiadaan lapangan kerja dan tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga mengharuskan Amada Talu (panggilan untuk beliau) untuk melakoni pekerjaan ini, sekalipun harus selalu bertarung dengan maut untuk mendapatkan tuak mentah yang dikumpulkan dari sepuluh batang pohon kelapa dan dua batang pohon aren yang dipanjatnya dua kali dalam sehari demi mendapatkan tetes demi tetes tuak mentah (legen atau cairan segar dari tetes nira / bunga kelapa muda) yang nantinya disuling menjadi Tuo Nifarö.

Pekerjaan mengumpul dan menyuling Tuo Nifarö ini sudah digeluti Amada Talu lebih dari 40 tahun dengan kisah pahit dan manis yang tak terhitung lagi jumlahnya. Mulai dari jatuh dari pohon kelapa, tersayat pisau tajam penyadap bunga kelapa, turunnya harga dan gagalnya penyulingan tuak hingga tuaknya disita polisi sudah semua dirasakannya. Namun sekalipun demikian, Amada Talu tetap tekun melakoni pekerjaan ini karena kehidupannya sudah menyatu dan tidak dapat dipisahkan dengan memanjat pohon kelapa dan tuak.

1357982318521744515

Amada Talu sedang beraksi memanjat pohon kelapa

Dari usaha menyuling tuak, beliau yang dikarunia 2 orang putra dan 1 putri ini berhasil menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. Putra pertamanya saat ini sudah menikah dan bekerja sebagai Negeri Sipil, putra keduanya juga bekerja sebagai seorang guru honorer di sebuah SD di desanya sementara putri semata wayangnya sudah menikah dan ikut bersama suaminya. Diusianya yang ke-62, beliau masih aktif menjalani pekerjaannya memanjat pohon demi pohon, sekalipun badannya yang dulu kekar sudah mulai kurus dan terbungkuk dan jalannyapun sudah mulai tertatih, sekalipun anak-anaknya sudah melarang dan berharap agar dia bisa tenang menikmati masa tuanya, namun beliau seolah masih enggan untuk berpisah dari pohon kelapa yang sudah ratusan ribu kali dielus dan dipeluknya itu.

Terbangun pukul 5 pagi hari, beliau langsung mengasah pisau penyadap nira, menyambar jeriken dan Mbu’u (bambu yang sudah di potong, wadah untuk memindahkan tuak mentah dari penampungan di pohon kelapa ke jeriken untuk dibawa pulang ke rumah), beliau bergegas memanjat, mengumpul dan menyadap tanpa sempat menikmati sarapan dan merasakan air hangat. Hujan deras dan dinginnya hawa pagi tak menyurutkan semangat beliau untuk menaklukkan pucuk-pucuk pohon kelapa yang tingginya 20 meter lebih. Kegiatan ini wajib dilakoni 2 kali sehari (pagi dan sore hari) untuk mendapatkan tuak mentah yang maksimal.

Pulang ke rumah dengan menenteng tuak mentah untuk selanjutnya diproses menjadi Tuo Nifarö (Tuak Suling) bukanlah hal yang mudah dan memakan waktu 6 jam untuk menghasilkan 5 botol Tuo Nifarö (1 botol = 75ml). Pekerjaan Amada Talu tidaklah langsung berhenti disitu saja, setealah sarapan seadanya, dia akan langsung menyusun peralatan penyulingan sambil menuangkan tuak mentah ke dalam kaleng. Setelah persiapan penyulingan selesai, dia akan bergegas ke kebun mencari kayu api untuk persediaan keesokan harinya. Sementara salah satu anggota keluarga akan bertugas menjaga nyala api penyulingan. Butuh ketekunan dan kesabaran dalam mengerjakannya. Dengan peralatan sederhana menggunakan bekas kaleng minyak yang yang sudah dibersihkan yang menampung 20 liter tuak mentah, bambu yang disambung 2 bagian (sumbu vertikal berdiameter 7-9 cm dan panjang ± 1,5m, dan koro berdiameter 5-7cm dan panjang 3-4 meter). Tuak mentah dimasak dengan menggunakan kayu api yang yang apinya harus tetap kecil agar menghasilkan Tuo Nifarö kualitas terbaik dan jernih. Setelah 1 jam dipanaskan, tuak mentah ini mulai menguap (evaporasi) dan kembali menjadi tetes-tetes cairan (kondensasi) yang menghasilkan tuak suling. Tuak ditampung dalam botol kaca untuk mempertahankan kualitasnya. Kadar alkohol untuk Högö Duo (tuak nomor 1/ botol pertama) konon dikatakan dapat mencapai 90 %. Högö Duo ini tidak bisa langsung dikonsumsi karena kadar alkoholnya sangat tinggi, biasanya digunakan untuk pengobatan (katanya sangat ampuh untuk pengobatan diabetes dan juga campuran minyak urut untuk menyembuhkan stroke). Agar bisa dikonsumsi, tuak ini harus dicampur seluruhnya (lima botol hasil sulingan), sehingga kadar alkoholnya menjadi 35-50%.

1357920957718522028

Tetes demi Tetes Tuo Nifaro yang ditampung di botol kaca

Tuo Nifarö, biasanya disuguhkan pada acara-acara adat dan juga untuk menyambut tamu penting. Tuo Nifarö juga bisa ditemukan di kedai-kedai minuman, namun mungkin yang didapatkan tidaklah seperti kualitas aslinya. Biasanya dikedai-kedai, namanya sudah diperhalus dengan sebutan “Saukhu-aukhu”, “Aqua Desa” atau “Aqua Nias” bahkan seringkali disingkat menjadi “TN”. Tuo Nifarö juga seringkali dibawa sebagai oleh-oleh untuk kerabat yang tinggal di luar Pulau Nias. Jika Jepang memiliki Sake, Bali memiliki Brem, Manado memiliki Cap Tikus/ Sagoer, Yogyakarta memilki Lapen, Banyumas memiliki Ciu, dan Maluku memiliki Sopi, maka Nias sendiri memiliki Tuo Nifarö sebagai andalannya.


Setiap minggunya, Amada Talu menghasilkan 35 botol Tuo Nifarö, dengan harga Rp. 16.000-18.000/ botol, sementara Högö Duo (Tuak kualitas nomor satu) dengan harga Rp. 50.000-60.000/botol. Bila dihitung, rata-rata penghasilan beliau adalah Rp. 80.000/hari yang sesungguhnya tidak sebanding dengan resiko yang ditempuh beliau, apalagi dengan biaya hidup di Nias yang terbilang tinggi (3 kali lipat lebih tinggi dari biaya hidup di Kota Yogyakarta, seperti pengalaman penulis saat ini). Harga Rp. 18.000/botol inipun diperoleh apabila Tuo Nifarö diantar ke langganan di Kota Gunungsitoli. Istri beliau, Inada Talu yang selalu mengantarkannya ke tempat langganan. Dulu, sebelum ada sepeda motor dan sebelum jalan di aspal, Inada Talu mengayuh sepeda menempuh jarak 40km pulang pergi setiap saat mengantarkan Tuo Nifarö ke kota, tempat langganannya. Dan harus menuntun kembali sepeda dayungnya menempuh jarak sejauh 3,5 km karena jalanan berbukit ke arah rumah yang harus dilaluinya.

Demikianlah Amada Talu dan Inada Talu menjalani hari-harinya dengan menggantungkan hidupnya pada Tuo Nifarö untuk menghidupi keluarganya. Kini, Amada Talu merupakan salah satu dari empat orang penyadap tuak yang tersisa di kampung itu. Penyadap tuak yang dulu banyak dijumpai dikampung sudah mulai berkurang seiring dengan tuntutan ekonomi dan resiko yang lebih tinggi. Banyak yang beralih profesi menjadi tukang bangunan, penyadap karet, tukang ojek atau kuli angkut pasir. Kakek, ayah, dan abang penulis juga dulunya adalah penyadap tuak. Abang ke-3 penulis adalah generasi terakhir penyadap tuak dalam keluarga dan saat ini telah beralih profesi menjadi tukang bangunan. Kita tidak tahu sampai kapankah pekerajaan menyadap tuak ini bertahan, tapi penulis memprediksi bahwa hal ini akan tinggal cerita di masa depan, mengingat kaum muda yang sudah mulai enggan melakoni pekerjaan tersebut serta kalah saingnya produksi dan harga Tuo Nifarö dengan minuman beralkohol produksi pabrik yang saat ini sudah menjamur di Pulau Nias. Padahal bila diperhatikan, Tuo Nifarö ini memiliki kadar alkohol murni tanpa campuran bahan kimia.

Sebuah kisah nyata yang pernah didengar penulis tentang betapa beratnya pekerjaan seorang penyadap tuak di Nias bahkan saking letihnya, saat di gereja pun bisa mengigau tentang penyulingan tuaknya. Ceritanya, si AY (seorang penyadap tuak di kampung penulis), ikut kebaktian di gereja pada suatu hari Minggu. Mungkin saking lelahnya, dia tidak sadar tertidur pada saat khotbah pendeta berlangsung. Tiba-tiba tanpa disadarinya dia berteriak “Alitö duo Ide” (Api tuak suling Ide, teriaknya kepada anaknya yang bernama Ide). Sontak khotbah pendeta terinterupsi sejenak dengan teriakannya dan juga tawa jemaat yang tidak dapat lagi ditahan pada waktu itu. Akhirnya, istilah “Alitö duo Ide” menjadi terkenal sejak masa itu.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 13 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 15 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 16 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 16 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: