Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Satrio Pandito

melihat kearifan Nusantara...

Tahlil, guyonan kultural NU dan Dialog Gus Dur

OPINI | 04 January 2013 | 02:07 Dibaca: 1494   Komentar: 4   0

amin  ya robbal alamin… al-Fatihah.. . Alhamdulillah tahlilan telah selesai, semoga berkah dan istiqomah. Malam jum’at tadi umat Islam khususnya NU, dan khususnya lagi orang Indonesia, melakukan tahlilan. Walaupun tema ini sudah tidak asing lagi, dan menjadi ritual yang sangat akrab bagi masyarakat Indonesia, saya ingin menulisnya.

Mulai dari membaca status Ahmad Baso di group Facebook NU online, (http://www.facebook.com/ahmad.baso.1/posts/4636457622797?comment_id=4738699¬if_t=feed_comment_reply ), status ini banyak direspon. Yang menarik, comments fanatis pembela NU dan Muhammadiyah - antara pemilik akun Permata Ayah Bunda, Liawati Arief dan  Abu Khaer- sampai menyangkut tentang tahlil, psikologi tahlil dll. dan kocak, yg MD dengan pandangan logika modern-nya, yang NU dengan guyonan kulturalnya.

Perdebatan tentang tahlil, selametan dengan  menghidangkan makanan dirumah duka, mendapat pahala tidak? doanya sampai tidak? dan apa hukumnya?, kemudian Muhammadiyah mengatakan ini bid’ah terlarang, dll. Memang tak ada habisnya. Kompasianer juga banyak yang menulis tema ini (tahlilan), seperti bisa dilihat http://filsafat.kompasiana.com/2012/10/02/tahlilan-dilakukan-pengikut-mazhab-ahlulbait-498070.html, dan kesimpulan Dewa Gilang, Jadi tahlil adalah wilayah agama yang diakulturasikan dengan kearifan budaya lokal masyarakat sekitar. Demikian kentalnya akulturasi tersebut, sehingga banyak tradisi jawa yang hanya tinggal kerangkannya saja. http://sosbud.kompasiana.com/2012/06/09/santri-nu-memandang-tahlilan-tahlilan-dalam-perspektif-agama-dan-budaya-469643.html. dan masih banyak lagi.

Tapi berangkat dari guyonon kultur wong NU tersebut, saya jadi tertarik melihat dari sudut pandang kalangan sarungan ini. Berikut penggalan comments-nya;

  • Permata Ayah Bunda (Juwita sari) :  Selama sang surya tetap bersinar, Al Islam Agamaku, Muhammad Nabiku, Muhammadiyah Gerakanku.
  • Abu Khaer : kecil….SELAMA ALAM semesta ada, NU Organisasiku…….
  • Abu Khaer : tambahin dikit…meski Kultural…..
  • Liawati Arief : Juwita sari..Selama sang surya bersinar, muhammadiyah gerakanku=> berarti klo siang aja.. Klo malam kundangan, baca tahlil, dziba’an.. He..he..
  • Abu Khaer :  wkwkwkwkkwkw cerdas……klo malam ngeronda…….lah ga ada sinar surya ya pake cempor, klo NU……
  • Permata Ayah Bunda (Juwita sari) : kalo tahlilan, dan bermunajah dengan Allah SWT itu gak cuma siang,, tapi Insya Allah sepanjang hari,,, tapi gak perlu kenceng2an sampai ngalahin mirip audisi musik,,, kasihan nanti nenek2 pada jantungan,,,dan juga gak perlu geleng2 kepala,,, nanti pada pusing dan gak usah pakai sesajen atau bikin kue2 dan kundangan yang mubadzir,,,, hmmmm kasihan kalo harus ngutang sedangkan masih banyak rakyat lain yang kelaperan. Allah SWT Maha Kaya, Maha Mendengaro, Maha Mengetahui,,,,,,

Sekali lagi, MD dengan pandangan logika modern-nya, yang NU dengan guyonan kulturalnya. Guyonan kulturan tentang tahlil, menarik jika membaca lagi tulisan Ahmad Sahidin di link  http://filsafat.kompasiana.com/2012/10/02/tahlilan-mari-kita-doakan-mayat-ini-masuk-neraka-498069.html

Saya jadi teringat dialog Gus Dur setelah kematian, seperti diceritakan oleh Argawi Kandito dalam bukunya. Kisah ini bisa diragukan, tapi saya sendiri yakin, tidak peduli benar ato salah, bukan karena kontek terjadinya (memang tidak bisa ngecek, karena seting-nya di alam barzah).  yang terpenting ada yang bisa diambil. berikut penggalan dialognya;

  • - Gus, anda kan sudah mengalami kematian, maka ini perlu saya tanyakan kepadamu. Tentang peran tahlilan. Karena seperti anda tahu, ini kan bany k mengandung kontroversi. Tahlilan ini betul berdampak, apa nggak sih bagi orang yang meninggal?
  • O.. berdampak sekali, bagi yang meninggal terasa lebih segar. Kesegaran ini yang saya gunakan sebagai modal untuk komunikasi dengan arwah-arwah lain maupun dengan orang yang masih hidup. Senang rasanya mendapat do’a itu.
  • - Jadi kalau begitu, tesis NU ini terbukti ya Gus?
  • Iya. Tentang bacaan tahlil ini dulunya kan diambil dan dikembangkan dari aliran mistis Islam. dari tarekat, dari tasawuf, dan lain-lain. terutama yang mendesain metodenya adalah para penekun hakekat.

Tentang berpengaruh atau tidak doa bagi orang yang mati, kata Kyai Anwar Zahid: kalau tidak percaya ya mati dulu, coba aja! kira-kira seperti itu maksudnya. kemudian Gus Dur, gitu aja kok repot...

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 11 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 11 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 18 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 20 jam lalu


HIGHLIGHT

Janji di Atas Pasir …

Pena Biruku | 8 jam lalu

Green In Peace ~ Indonesia Adalah Pertiwi …

Benyamin Siburian | 9 jam lalu

Meningkatkan Kinerja PLN untuk Masyarakat …

Sulhan Qumarudin | 9 jam lalu

Senandung Pahit Lili …

Rahab Ganendra | 9 jam lalu

Wakil Rakyat: Dimiliki Rakyat atau Memiliki …

Josua Kristofer | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: